Katarak kongenital, yang sering kali bersifat turun-temurun, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap morbiditas visual pada anak-anak. Dalam rangkaian kasus ini, kami mengeksplorasi hasil visual dari tiga saudara kandung dengan katarak kongenital bilateral yang diwariskan, yang semuanya menjalani ekstraksi lensa. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo di Surabaya, Indonesia, dan mengikuti pasien-pasien ini selama dua tahun pasca-operasi. Para saudara kandung tersebut menunjukkan berbagai usia presentasi dan garis waktu intervensi bedah, yang mengarah pada hasil visual yang berbeda.
Pasien pertama, seorang gadis berusia 15 tahun, mengalami kekeruhan yang signifikan dan ketajaman visual yang buruk, yang membaik minimal dengan kacamata afakia dan kapsulotomi laser Nd:YAG. Pasien kedua, seorang gadis berusia 11 tahun, memiliki kekeruhan lensa yang sama, dan meskipun telah dilakukan ekstraksi lensa, ketajaman visualnya membaik menjadi 5/30 setelah dua tahun. Pasien ketiga, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun, menjalani ekstraksi lensa dini tetapi memiliki hasil visual yang kurang optimal karena kekeruhan kapsul posterior (PCO). Kondisi yang diwariskan mengikuti pola dominan autosomal, dengan ibu yang juga menderita kondisi yang sama sejak masa kanak-kanak. Waktu diagnosis dan intervensi bedah memainkan peran penting dalam hasil visual.
Studi ini menekankan pentingnya deteksi dini, intervensi bedah, dan rehabilitasi pascaoperasi yang efektif dalam mengelola katarak kongenital, yang menyoroti bahwa intervensi dini dapat secara signifikan memengaruhi perkembangan visual dan mengurangi risiko ambliopia dan strabismus.
Penulis: Nur Fitriana Corprianti Marchilia, Indri Wahyuni
Kata Kunci: Congenital cataract, hereditary, visual outcomes, pediatric cataract surgery, postoperative rehabilitation.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di





