Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Hujan Bukan Satu satunya Pemicu DBD di Surabaya: Riset UNAIR mengungkap jalur keterkaitan iklim yang lebih kompleks

51 Views•4 minutes read

Ketika musim hujan tiba, peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) kerap langsung dikaitkan dengan tingginya curah hujan. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi hubungan antara cuaca dan DBD ternyata lebih rumit. Penelitian terbaru Universitas Airlangga (UNAIR) menunjukkan bahwa hujan tidak berhubungan langsung secara signifikan dengan kejadian DBD di Surabaya. Hujan justru bekerja sebagai faktor hulu yang mengubah kondisi iklim lain di perkotaan.

Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Climate Variability and Dengue Dynamics: A Path Analysis in Surabaya, Indonesia. Peneliti menganalisis data bulanan kasus DBD dan data iklim Surabaya sepanjang Januari 2020 hingga Desember 2024. Data epidemiologi diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya, sedangkan data iklim berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Membaca Iklim sebagai Satu Sistem

Berbeda dari analisis yang hanya memasangkan satu unsur cuaca dengan jumlah kasus, penelitian ini menggunakan dekomposisi deret waktu dan analisis jalur. Pendekatan itu memungkinkan peneliti membedakan hubungan langsung dan tidak langsung antarfaktor iklim. Curah hujan, suhu, kelembapan, lama penyinaran matahari, dan kecepatan angin dipahami sebagai unsur yang saling berhubungan, bukan sebagai faktor yang bekerja sendiri-sendiri.

Hasil analisis memperlihatkan pola musiman yang jelas. Kasus DBD cenderung meningkat pada awal tahun dan mencapai puncak saat musim hujan, kemudian menurun pada pertengahan hingga akhir tahun ketika curah hujan berkurang. Selama periode penelitian, jumlah kasus meningkat dari 73 kasus pada 2020 menjadi 231 kasus pada 2024. Angka insidennya juga naik dari 2,51 menjadi 7,9 per 100.000 penduduk.

Namun, kesamaan waktu antara musim hujan dan kenaikan kasus tidak berarti curah hujan menjadi satu-satunya penjelas. Analisis jalur menemukan bahwa suhu maksimum, kelembapan relatif, lama penyinaran matahari, dan kecepatan angin minimum berhubungan langsung secara signifikan dengan kejadian DBD. Sementara itu, hubungan langsung curah hujan dengan DBD tidak signifikan secara statistik.

Hujan Mengubah Iklim Mikro Perkotaan

Curah hujan dapat mengubah suhu, intensitas penyinaran matahari, serta pola angin. Perubahan itu selanjutnya memengaruhi lingkungan hidup nyamuk Aedes. Kelembapan berperan dalam daya tahan hidup nyamuk dewasa, suhu memengaruhi siklus hidup nyamuk dan perkembangan virus, sedangkan kondisi angin berkaitan dengan kestabilan aktivitas terbang nyamuk. Penyinaran matahari juga ikut membentuk suhu mikro dan pilihan tempat istirahat nyamuk di lingkungan perkotaan.

Karena itu, pernyataan sederhana bahwa semakin banyak hujan selalu berarti semakin tinggi risiko DBD perlu digunakan secara hati-hati. Hujan dapat menambah tempat perindukan, tetapi dampaknya bergantung pada intensitas, waktu, kondisi lingkungan, dan interaksinya dengan unsur iklim lain. Hujan yang sangat deras, misalnya, juga dapat mengganggu atau menghanyutkan tempat perindukan tertentu.

Model penelitian mampu menjelaskan 52,1 persen variasi kejadian DBD di Surabaya. Angka tersebut menunjukkan bahwa iklim memberikan sumbangan penjelasan yang penting, tetapi hampir separuh variasi kasus masih berkaitan dengan faktor lain. Kepadatan penduduk, mobilitas, perilaku masyarakat, sanitasi lingkungan, pelaporan kasus, dan efektivitas pengendalian vektor tetap perlu diperhitungkan.

Menuju Peringatan Dini Berbasis Banyak Indikator

Temuan ini memberi pesan penting bagi pengendalian DBD. Sistem peringatan dini sebaiknya tidak hanya mengandalkan curah hujan, melainkan memadukan beberapa indikator iklim dengan data epidemiologi dan, bila tersedia, data kepadatan vektor. Pemantauan suhu, kelembapan, penyinaran matahari, dan angin dapat membantu mengenali perubahan kondisi yang mendukung penularan lebih awal.

Informasi tersebut dapat dipakai untuk menentukan waktu penguatan surveilans, pemberantasan sarang nyamuk, komunikasi risiko, dan intervensi berbasis wilayah. Meski demikian, data iklim bukan pengganti upaya pencegahan di tingkat rumah tangga. Menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas, memantau jentik, serta menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi tindakan utama untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk.

Penelitian ini menggunakan desain ekologis dengan data bulanan sehingga hasilnya menggambarkan hubungan pada tingkat populasi, bukan risiko setiap individu. Penelitian juga belum memasukkan seluruh faktor noniklim dan jeda waktu antara perubahan cuaca, perkembangan nyamuk, serta munculnya kasus. Karena itu, penelitian lanjutan dengan data mingguan atau harian, indikator entomologi, mobilitas penduduk, dan intervensi pengendalian diperlukan untuk menghasilkan peringatan dini yang semakin presisi.

Iklim memang berperan dalam dinamika DBD di kota tropis seperti Surabaya. Akan tetapi, penelitian ini mengingatkan bahwa risikonya lahir dari rangkaian proses yang saling terhubung. Memahami hubungan tersebut sebagai sebuah sistem akan membantu pemerintah dan masyarakat merancang respons yang lebih adaptif daripada hanya menunggu hujan datang.

Penulis: Ririh Yudhastuti & Khuliyah Candraning Diyanah

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/climate-variability-and-dengue-dynamics-a-path-analysis-in-suraba/

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top