UNAIR NEWS – Dua mahasiswa D4 Destinasi Pariwisata Universitas Airlangga (UNAIR), Muhammad Razif Arsyad dan Samuel Caesar Stevyanto berhasil membawa pulang Juara III Nasional di ajang Kontes Literasi Sejarah dan Budaya Universitas Sriwijaya pada Kamis (8/10/2026). Keduanya membuktikan bahwa sejarah dan budaya lokal dapat dikemas secara relevan guna memikat generasi muda di era digital.
Vlog sinematik bertajuk Jejak yang Tak Pernah Hilang coba mereka hadirkan dengan inovasi melalui pendekatan storytelling, visual sinematik, dan dialog interaktif agar sejarah terasa lebih dekat dengan generasi muda. Razif menyebut, informasi tentang situs bersejarah mereka kemas secara ringkas dan menarik.
“Dengan memanfaatkan media digital, kami ingin menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ada pengalaman yang dapat dieksplorasi dan dipelajari secara menyenangkan,” ujarnya.
Kenalkan Sejarah Kota Surabaya
Razif menjelaskan bahwa timnya mengangkat topik mengenai situs dan bangunan bersejarah sebagai jejak perjalanan sejarah, budaya, dan perkembangan Kota Surabaya. Pilihannya jatuh kepada enam objek, yaitu Museum H.O.S. Tjokroaminoto, Rumah Soekarno, Sumur Jobong, Makam Belanda Peneleh, Museum Siola, dan Jalan Tunjungan.
Menurutnya, keenam objek tersebut memiliki nilai sejarah yang berbeda. Mulai dari Museum H.O.S. Tjokroaminoto dan Rumah Soekarno yang berkaitan dengan perjalanan tokoh serta pemikiran kebangsaan hingga perkembangan Surabaya dari masa lalu hingga masa kini.
“Kami memilih objek-objek tersebut karena ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga dapat dipelajari melalui situs dan bangunan yang masih ada hingga sekarang,” jelasnya.
Proses Riset Mendalam Pembuatan Vlog
Lebih lanjut, Razif memaparkan bahwa mereka menggunakan teknik sinematografi seperti wide shot untuk menampilkan suasana lokasi, close up untuk menonjolkan detail bangunan bersejarah, serta pergerakan kamera yang dinamis. Selain itu, timnya juga menggunakan transisi yang halus, voice over, musik latar yang sesuai, dan teks singkat berisi informasi sejarah.
“Kami melakukan riset sejarah, mencari referensi, serta menyusun naskah. Setelahnya, kami survei lokasi dan wawancara singkat untuk memperkuat informasi. Kemudian, melakukan pengambilan gambar, editing, dan evaluasi hasil akhir,” paparnya.
Melalui karyanya, Razif dan Samuel ingin menyampaikan pentingnya menghargai sejarah, menjaga identitas budaya, dan melestarikan warisan leluhur. Ia menegaskan bahwa situs sejarah bukan sekadar bangunan tua, tetapi saksi perjalanan bangsa yang menyimpan pelajaran berharga.
“Kami berharap, generasi muda dapat mengenal sejarah dengan cara yang lebih menarik melalui media digital, menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia, serta memahami pentingnya menjaga peninggalan sejarah untuk diwariskan kepada generasi mendatang,” pesan Razif.
Penulis: Putri Andini
Editor: Yulia Rohmawati
