UNAIR NEWS – Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar International Conference on Health Administration and Policy (ICoHAP) ke-8. Bertempat di Morazen Hotel Surabaya, Minggu (20/9/2026), konferensi itu menjadi ruang refleksi kritis: di tengah derasnya akselerasi teknologi kesehatan, dimensi kemanusiaan dalam pelayanan tidak boleh terpinggirkan.
Mengusung tema Reimagining Healthcare, forum ini menegaskan bahwa inovasi teknologi seharusnya memperkuat bukan menggantikan empati dalam relasi antara tenaga kesehatan dan pasien. Konferensi dibuka oleh Direktur Pendidikan Universitas Airlangga, Dr dr Maftuchah Rochmanti, MKes menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik kesehatan.
Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk menelaah ulang paradigma pelayanan kesehatan agar semakin modern dan berbasis bukti ilmiah, namun tetap berakar pada kebutuhan manusia. Dukungan pemerintah juga datang melalui sambutan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., Ph.D., yang menegaskan komitmen pembangunan kesehatan dengan prioritas peningkatan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.
Dari sisi akademik, Dekan FKM UNAIR, Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, S.KM., M.Kes., menyebut ICoHAP ke-8 sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa. Keterlibatan civitas academica dalam penyelenggaraan konferensi internasional bukan hanya pengalaman manajerial, tetapi juga sarana mengasah kemampuan analisis kebijakan, memperluas jejaring akademik lintas negara, serta mempertajam kompetensi dalam merespons dinamika persoalan kesehatan.
ICoHAP ke-8 kali ini berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra sebagai co-host, diikuti 158 peserta dari Indonesia dan Timor Leste. Pembicara utama berasal dari Indonesia, Malaysia, Abu Dhabi–Uni Emirat Arab, dan Singapura. Keragaman perspektif ini menjadi ruang kajian komparatif yang kaya, terutama dalam memahami perbedaan sistem pembiayaan kesehatan antarnegera, seperti yang diterapkan Malaysia dan Abu Dhabi, yang memiliki karakteristik berbeda dengan Indonesia.
Perbedaan sistem kesehatan di masing-masing negara dinilai sebagai bahan pembelajaran berharga. Melalui forum ini, peserta dapat bertukar pengetahuan dan mengidentifikasi praktik baik yang berpotensi dikembangkan maupun diterapkan di Indonesia.
Ketua Panitia ICoHAP ke-8, dr. Hilmy Razhan Muhammad, mahasiswa minat Administrasi Rumah Sakit, menekankan bahwa kemajuan teknologi kesehatan harus tetap diimbangi pendekatan yang berpusat pada manusia. Teknologi semestinya diposisikan sebagai instrumen peningkatan mutu layanan, bukan penghapus dimensi empati dalam praktik kesehatan.
Bagi Prodi Magister AKK, ICoHAP ke-8 bukan sekadar ajang pertemuan ilmiah, melainkan katalis produksi pengetahuan yang diharapkan melahirkan kolaborasi riset, inovasi kebijakan, dan jejaring lintas institusi. Koordinator Program Studi Magister AKK, Dr. Ernawaty, drg., M.Kes., berharap luaran konferensi ini tidak berhenti pada dokumen akademik, tetapi menjelma kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Penulis: Ernawaty
Editor: Khefti Al Mawalia
