Pernahkah Anda berdiri ragu di depan lapak pasar atau lemari pendingin swalayan, menatap tumpukan udang dan bertanya-tanya apakah produk tersebut benar-benar masih segar? Metode konvensional seperti mencium aroma atau menekan tekstur daging sering kali tidak akurat dan sangat subjektif. Akibat ketiadaan informasi kesegaran secara real-time, dua risiko besar mengintai: konsumen berisiko mengalami keracunan makanan akibat mengonsumsi seafood yang mulai membusuk, atau justru terburu-buru membuang bahan pangan yang sebenarnya masih layak konsumsi (food waste).
Sentuhan Alami dari Ubi Jalar Ungu
Untuk menjawab tantangan ini, sebuah inovasi kemasan pintar (smart packaging) dikembangkan berbasis bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Rahasia utama kecerdasan kemasan ini terletak pada pigmen alami bernama antosianin yang diekstrak dari ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.).
Ubi jalar ungu dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas lokal yang mudah didapat ini memiliki kandungan antosianin melimpah—mencapai 1,4% dari berat keringnya. Dibandingkan sumber antosianin lain seperti murbei, bunga rosela, atau buah plum, ekstrak ubi jalar ungu yang didominasi senyawa sianidin memiliki rentang pergeseran warna yang lebih luas, tahan terhadap panas, serta memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Cara Kerja: Dari Ungu hingga Kekuningan
Prinsip kerja indikator ini sangat praktis. Saat udang disimpan dan mulai mengalami penurunan kualitas akibat aktivitas mikroba atau enzimatik, udang akan melepaskan senyawa gas basa volatil yang dikenal sebagai Total Volatile Basic Nitrogen (TVBN). Akumulasi gas ini secara otomatis meningkatkan pH atau tingkat keasaman di dalam wadah kemasan.
Pigmen antosianin pada indikator pintar akan bereaksi secara spontan terhadap perubahan pH tersebut melalui pergeseran struktur kimia. Konsumen cukup mengamati perubahan warna visual pada label kemasan:
- Warna Ungu (Awal): Menandakan udang masih dalam kondisi segar dan sangat aman dikonsumsi.
- Warna Hijau hingga Kekuningan: Menjadi sinyal peringatan bahwa udang telah mengalami pembusukan dan tidak lagi layak makan.
Matriks Bioplastik yang Kokoh dan Tahan Lembap
Tantangan terbesar dalam merancang sensor untuk makanan basah adalah menciptakan matriks pembawa yang stabil terhadap kadar air tinggi. Untuk itu, penelitian ini menggabungkan pati garut dan kappa-karaginan (ekstrak rumput laut) sebagai bahan utama lembaran bioplastik.
Formulasi gabungan ini menghasilkan film indikator dengan karakteristik fisik yang optimal: memiliki ketebalan ideal (0,17 mm), tingkat kelenturan yang tinggi (elongasi 21,84%), serta sifat penghalang uap air (water vapor barrier) yang tangguh. Sebagai bukti konsep, ketika diujikan langsung pada kemasan udang di suhu ruang (25°C) tanpa pendinginan, sensor ini terbukti tetap sensitif mendeteksi akumulasi TVBN secara akurat.
Masa Depan Keamanan Pangan
Inovasi sensor halokromik ini memberikan solusi nyata bagi rantai pasok industri perikanan dan konsumen rumah tangga. Dengan informasi visual yang mudah dipahami secara langsung, masyarakat dapat membuat keputusan konsumsi yang lebih aman. Lebih dari itu, pemanfaatan pati garut, karaginan, dan ubi jalar ungu ini turut mendukung pengurangan plastik sintetis sekaligus menekan angka pembuangan sampah makanan di tingkat konsumen.
Informasi lebih detail: https://doi.org/10.1016/j.foohum.2026.101340
Penulis: Annur Ahadi Abdillah, Ph.D.
Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan





