Dalam akuntansi keuangan, kas dan setara kas merupakan komponen yang paling likuid di laporan posisi keuangan. Pengelolaan kas menjadi perhatian utama dalam analisis laporan keuangan karena kas mencerminkan kapasitas likuiditas dan fleksibilitas keuangan perusahaan. Dari sudut pandang akuntansi, menahan kas dalam jumlah berlebihan juga mengandung opportunity cost dan biaya komitmen karena kas memberikan return yang sangat rendah. Selain itu, uang kas diibaratkan sebagai “darah” bagi sebuah perusahaan. Tanpa likuiditas yang cukup, perusahaan dapat mengalami kesulitan dalam mendanai operasional harian atau merespons krisis ekonomi. Namun, penentuan berapa banyak kas untuk disimpan bukanlah hal yang mudah.
Dengan menggunakan data perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2017 hingga 2022, keputusan cash holdings perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh rasio-rasio keuangan, melainkan sangat ditentukan oleh pilihan strategi bisnis dan fase siklus hidup perusahaan. Strategi bisnis menjadi fundamental dari kinerja superior dalam beradaptasi terhadap lingkungan. Strategi bisnis pilihan manajemen memberikan implikasi kebutuhan dana. Strategi bisnis dapat dikelompokkan menjadi dua titik ekstrim, yaitu perusahaan prospector dan defender. Perusahaan prospector memiliki ciri inovatif, agresif dalam mencari peluang baru, rasio R&D dan SG&A yang tinggi, pertumbuhan penjualan yang cepat, dan intensitas perubahan produk yang tinggi. Perusahaan defender memiliki ciri efisien, bertahan, berfokus pada efisiensi biaya operasional, stabilitas produk, intensitas aset tetap yang lebih dominan, dan meminimalkan risiko.
Saldo kas dan setara kas perusahaan prospector lebih tinggi dibandingkan perusahaan defender. Strategi prospector berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap cash holdings. Berdasarkan teori keagenan (Jensen & Meckling, 1976; Jensen, 1986), manajemen memiliki asimetri informasi dibanding investor. Bagi perusahaan prospector, manajemen memilih untuk memupuk kas yang lebih besar sebagai bentuk diskresi untuk menjaga fleksibilitas keuangan. Aktivitas inovasi dan ekspansi pasar mengandung tingkat ketidakpastian yang tinggi. Kas yang memadai mempermudah pendanaan proyek riset dan ekspansi tanpa harus segera bergantung pada pasar modal atau utang baru. Selain itu, aktivitas perusahaan prospector dicirikan oleh volatilitas arus kas operasional yang tinggi. Saldo kas yang tinggi berfungsi sebagai liquidity buffer untuk memitigasi risiko kegagalan proyek inovasi.
Pola laporan arus kas (arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan) dapat digunakan untuk mengklasifikasikan fase siklus hidup perusahaan (Model Dickinson, 2011). Pola arus kas ini mencerminkan transformasi perusahaan. Kebutuhan kas perusahaan dengan strategi tertentu tidak selalu sama sepanjang waktu. Kebutuhan ini bertransformasi seiring perkembangan perusahaan melalui empat fase siklus hidup, yaitu fase introduction, growth, mature, dan shake-out/decline. Puncak kebutuhan kas terjadi pada fase growth. Semua fase siklus hidup memperkuat dorongan perusahaan prospector untuk memegang kas lebih banyak. Namun, urutan tingkat akumulasi kas dari yang paling tinggi adalah sebagai berikut (1) fase growth, (2) fase introduction, (3) fase mature, dan (4) fase shake-out/decline.
Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam bagi para praktisi akuntansi keuangan, analis ekuitas, dan auditor dalam menilai kewajaran saldo kas perusahaan. Bagi para praktisi akuntansi keuangan dan analisis ekuitas, rasio kas atau rasio cepat yang tinggi pada perusahaan prospector di fase growth tidak boleh serta-merta dianggap sebagai bentuk kelebihan kas yang tidak produktif. Saldo kas tersebut merupakan bagian dari cadangan strategis untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang. Bagi auditor, akumulasi kas yang tinggi memberikan kekuasaan diskresioner kepada manajemen, sehingga pengawasan tata kelola (corporate governance) diperlukan untuk memastikan kas yang ditahan tidak digunakan untuk investasi berlebihan yang merugikan pemegang saham. Penginterpretasian laporan arus kas secara integratif dilakukan dengan memahami saldo kas dan setara kas di laporan posisi keuangan dan mengintegrasikannya dengan analisis laporan arus Kas untuk mengidentifikasi fase siklus hidup perusahaan secara tepat. Kebijakan kas tidak memiliki aturan baku untuk semua perusahaan.
Penulis: Dr. Isnalita, Dra., M.Si., Ak.
Link jurnal:
The Effect of Business Strategy on Cash Holdings: A Life-Cycle Perspective
https://buscompress.com/uploads/3/4/9/8/34980536/riber_15-4_49_s25-264_714-730.pdf





