Universitas Airlangga Official Website

Inovasi Pembelajaran Etika Media Sosial pada Mahasiswa Kedokteran Gigi

Ilustrasi mahasiswa kedokteran gigi by Liputan 6
Ilustrasi mahasiswa kedokteran gigi by Liputan 6

Meskipun banyak peraturan yang mengatur etika tenaga kesehatan namun masih banyak persoalan etika nakes yang terjadi di masyarakat melalui media sosial. Media sosial kini dapat diakses oleh semua orang, termasuk dokter gigi, dan memiliki dampak positif dan negatif. Beberapa dokter gigi memposting foto perawatan “before and after” pasiennya.

Etika hubungan dokter gigi-pasien melemah ketika foto pasien dibagikan tanpa persetujuan, karena hal ini bertentangan dengan prinsip dasar kerahasiaan pasien. Perilaku tersebut dapat berdampak buruk pada kepercayaan pasien, merusak reputasi dokter gigi di masyarakat, dan mungkin menimbulkan masalah hukum. Kurikulum sekolah kedokteran gigi harus menanamkan nilai luhur dan sikap yang menjadi ciri profesional selain mengajarkan pengetahuan dan ketrampilan medis.

Meskipun sebagian besar dokter gigi telah menyelesaikan mata kuliah yang terkait dengan etika di perguruan tinggi, masalah etika tetap ada. Tujuan dari pendidikan etika adalah untuk memberikan siswa dasar yang kuat untuk memahami dan menyelesaikan dilemma etika yang mungkin mereka hadapi dalam kehidupan profesional mereka.

Mahasiswa mungkin tidak sepenuhnya menginternalisasi fakta dan ide, jika strategi pengajarannya tidak menarik, menyeluruh, atau dapat diterapkan dalam situasi kehidupan nyata. Oleh karena itu, anak-anak akan lebih fokus pada nilai akademik dibandingkan pengetahuan etika, sehingga menyulitkan mereka untuk menerapkan prinsip-prinsip etika di dunia nyata setelah mereka menyelesaikan pendidikan formal. Cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan inovasi cara pengajaran etika di Fakultas Kedokteran Gigi.

Metode

Data dikumpulkan dari mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Mahasiswa tahun ketiga Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga akan mendapatkan mata kuliah etika sebelum bekerja sebagai dokter gigi muda di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Airlangga.

Empat pendekatan pengajaran digunakan di kelas etika untuk membantu siswa mengembangkan pengetahuan dasar dan soft skill terkait etika dalam kedokteran gigi: ceramah tradisional, diskusi kelompok, tugas makalah, dan pembuatan film pendidikan untuk kepentingan masyarakat.

Tugas yang mengharuskan siswa menyiapkan makalah penelitian tentang topik tertentu disebut tugas makalah. Tugas-tugas ini biasanya diberikan kepada siswa dalam konteks akademik. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari dua atau tiga anggota. Topik bervariasi antar kelompok.

Hasil karya mahasiswa yang dipublikasikan di jurnal, blog, dan media populer lainnya merupakan tanggung jawab mahasiswa sendiri. Proyek ini mengajarkan siswa bagaimana mengkomunikasikan pemikiran mereka dengan jelas kepada orang lain dan membantu mereka mempraktikkan pemikiran kritis dan penelitian. Jadi, ini melibatkan lebih dari sekedar menulis. Hal ini juga melibatkan pembelajaran dan menunjukkan bagaimana apa yang telah dipelajari mempengaruhi masyarakat.

Sebagai bagian dari tugas konten video, siswa harus membuat video tentang tema etika tertentu. Siswa setidaknya harus memilih dua tema yang berhubungan dengan etika. Pekerjaan ini meliputi melakukan penelitian mendalam, mengatur alur film dengan hati-hati, menulis dialog atau sulih suara, mengumpulkan video terkait, dan kemudian mengedit semua komponen ini bersama-sama untuk menciptakan produk akhir yang mulus.

Narasi dan situasinya terserah imajinasi siswa. Siswa bebas memilih jenis video, baik debat atau podcast drama singkat. Video ini memiliki durasi maksimum sepuluh menit. Siswa perlu mengaktifkan tautan berbagi. Dengan demikian, video pendidikan etika tersebut dapat diakses oleh semua orang.

Hasil

Metode kooperatif ini menumbuhkan kerja sama tim dan keterampilan komunikasi yang baik selain mengasah ketajaman analitis. Sederhananya, format kelas diskusi yang dinamis memungkinkan siswa mendalami materi lebih dalam, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih bernuansa dan komprehensif. Hal ini tidak hanya memberi mereka pengetahuan, namun juga kemampuan untuk menerapkan pemahaman etika tersebut dengan keterampilan dalam situasi dunia nyata.

Selain itu, siswa ditugaskan untuk berbagi pendapat mereka tentang situasi etika di kelas etika. Hal ini mendorong siswa untuk berpikir kritis ketika dihadapkan pada dilema etika di dunia nyata dengan pemahaman mendasar terhadap mata pelajaran tersebut. Kesimpulannya, siswa akan menyadari peraturan etika dan standar mendasar jika tidak ada peraturan yang eksplisit.

Penulis: Aqsa Sjuhada Oki, drg, MKes, Muhammad Febriano Sugiarso Suwarto, Ruana Puteri Fizhillah

Sumber: Educating Dental Students on Social Media Ethics, World Journal of Advanced Research and Reviews (WJARR)