Pestisida dapat menjadi masalah di lingkungan pertanian karena kebiasaan petani dalam menggunakan pestisida kadang-kadang menyalahi aturan pakai. Selain dosis yang digunakan melebihi takaran, petani juga sering mencampur beberapa jenis pestisida, dengan alasan untuk meningkatkan daya racun pada hama tanaman. Tindakan yang demikian sebenarnya sangat merugikan, karena dapat menyebabkan semakin tinggi tingkat pencemaran pada lingkungan oleh limbah pestisida. Dilaporkan adanya dampak negatif dari bahan kimia tersebut, di antaranya menyebabkan gangguan pada sistem saraf pusat, dan mempunyai efek teratogenik maupun embriotoksik baik pada hewan maupun manusia.
Insektisida dikenal memiliki tiga golongan yaitu golongan organoklorin, organofosfat dan karbamat. Golongan karbamat seperti karbofuran paling banyak digunakan dalam bidang pertanian karena efek toksik yang ditimbulkan lebih rendah dibanding golongan insektisida organoklorin dan organofosfat. Karbofuran sering digunakan dalam pertanian karena mempunyai spektrum yang luas dalam mengontrol insekta dan nematoda. Apabila manusia dan hewan terpapar residu karbofuran melalui makanan maupun minuman dapat mengakibatkan neurotoxic, neurobehavioral dan neuropsychology.
Residu karbofuran pada tanaman dapat ditemukan dengan kadar yang tinggi pada batang, daun, akar dan biji padi. Residu karbofuran dapat ditemukan pada tanaman kentang, jagung, bunga matahari, kapas, tebu, cengkeh, merica dan buah anggur, karena tanaman-tanaman tersebut sering di pestisida oleh petani untuk menghindarkan dari hama pengganggu tanaman. Karbofuran mempunyai rentang batas maksimum residu (BMR) yang diperbolehkan dalam makanan berkisar antara 0.05-0.5 mg/Kg BB, BMR 0.05 mg/Kg BB pada produk asal ternak seperti daging dan lemak, BMR 0.2 mg/Kg BB pada beras dan BMR 0.5 mg/Kg BB pada kentang.
Apabila karbofuran terpapar di dalam tubuh manusia dan hewan, target utama toksisitas dari karbofuran adalah otak, hati, otot dan jantung. Toksisitas karbofuran pada mamalia cukup tinggi bila dikonsumsi melalui oral karena daya toksiknya lebih tinggi dibandingkan dengan jenis karbamat lain dan sifatnya sama dengan insektisida organofosfat yaitu terbukti dapat merangsang terjadinya reactive oxygen species (ROS).
Di Ekuador pada tahun 2001 di area perkebunan yang terkontaminasi insektisida karbofuran, ditemukan beberapa kasus bayi yang dilahirkan mengalami kelainan penurunan refleks maupun kemampuan motorik. Pada usia anak-anak dijumpai kelainan perkembangan fungsi otak seperti penurunan kemampuan mengingat maupun daya konsentrasi.
Cerebellum mempunyai kurang lebih 30 juta unit fungsional yang hampir identik, dan sel purkinje merupakan pusat unit fungsional tersebut yang mempunyai peranan sangat penting dalam mengirimkan sinyal menuju sel nukleus cerebellar. Sel purkinje juga mempunyai fungsi sebagai sinyal inhibisi yang berguna untuk meredam atau menghentikan gerakan otot yang berlebihan. Apabila sel purkinje mengalami kerusakan akibat ROS maka akan terjadi ketidak seimbangan antara sinyal eksitasi dan inhibisi, hal tersebut memicu gangguan fungsi motorik pada hewan tersebut.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh paparan insektisida karbofuran pada masa kebuntingan tertentu sesuai dengan masa kritis perkembangan otak serta kerusakan sel purkinje otak dari gambaran histopatologis yang diamati pada fetus mencit dua puluh hari.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya kerusakan sel Purkinje cerebellum pada janin mencit yang disebabkan oleh pengaruh paparan insektisida karbofuran pada masa embrionik. Subjek penelitian ini adalah delapan belas ekor mencit (Mus musculus) betina bunting yang diberi paparan karbofuran pada hari ke 14-17 kebuntingan. Mencit betina (Mus musculus) yang digunakan dalam konduksi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu P0 (yang diberi larutan NaCl fisiologis), P1 (yang diberi karbofuran 0,0208 mg/Kg/hari), P2 (yang diberi karbofuran 0,0417 mg/Kg/hari) . Data dianalisis menggunakan ANOVA kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang nyata, yaitu menunjukkan adanya peningkatan nekrosis sel purkinje seiring dengan peningkatan dosis karbofuran.
Penulis: Epy Muhammad Luqman
Publish di jurnal: Open Access Research Journal of Biology and Pharmacy (OARJBP)
Link jurnal: https://oarjbp.com/ArchiveIssue-2024-Vol10-Issue1Â
Link artikel: https://oarjbp.com/sites/default/files/OARJBP-2024-0007.pdf





