Universitas Airlangga Official Website

Jintan Hitam dapat Meningkatkan Jumlah Sel Glia Pada Tikus yang Terpapar Asap Rokok

Sumber: KlikDokter
Sumber: KlikDokter

Asap rokok mengandung banyak bahan kimia berbahaya, termasuk zat beracun dan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif dan merusak hampir semua organ. Stres oksidatif terjadi ketika tubuh tidak dapat menetralkan efek berbahaya dari radikal bebas, yang menyebabkan masalah seperti oksidasi lipid, kerusakan DNA, dan gangguan membran biologis. Secara khusus, asap rokok berdampak signifikan pada kesehatan otak. Asap rokok mengganggu sel glia, seperti mikroglia dan astrosit, yang sangat penting untuk menjaga fungsi otak. Paparan asap rokok memicu peradangan pada sel-sel ini, yang mengakibatkan pelepasan zat proinflamasi seperti interleukin-1 beta (IL-1β), interleukin-6 (IL-6), dan tumor necrosis factoralpha (TNF-α). Peradangan kronis dapat merusak jaringan otak dan dikaitkan dengan gangguan neurologis dan neurodegeneratif.

Selain itu, asap rokok memengaruhi jalur pensinyalan pada sel glia yang terkait dengan peradangan, stres oksidatif, dan proliferasi sel. Paparan yang berkepanjangan dapat mengganggu kemampuan otak untuk memperbaiki dirinya sendiri, memperburuk risiko penyakit kronis dan komplikasi kesehatan jangka panjang. Paparan asap rokok mengubah proliferasi dan diferensiasi sel glia dan memicu peradangan pada sel glia, terutama mikroglia. Sebagai respons terhadap asap rokok, sel glia menghasilkan sitokin proinflamasi seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α. Peradangan kronis dapat merusak jaringan otak dan berkontribusi pada gangguan neurologis dan neurodegeneratif.

Aktivitas radikal bebas dapat dikurangi oleh antioksidan, yang menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel, protein, dan lemak. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa tanaman yang kaya akan senyawa seperti karotenoid, fenol, flavonoid, antosianin, asam lemak tak jenuh, vitamin, enzim, dan kofaktor memiliki sifat antioksidan yang signifikan. Rekomendasi ini mendorong penggunaan tanaman sebagai fitoremedis preventif dan kuratif. Jintan hitam (Nigella sativa L.) dikenal karena efek farmakologisnya, yang sebagian besar dikaitkan dengan timokuinon, senyawa aktif utamanya. Timokuinon bertindak sebagai antioksidan kuat yang menghambat stres oksidatif. Meskipun kandungan timokuinon bervariasi, jintan hitam secara konsisten memberikan manfaat antioksidan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa N. sativa menunjukkan aktivitas antioksidan yang menjanjikan, mengurangi kekuatan dan penghambatan peroksidasi. Sifat antioksidan biji jintan hitam dapat membantu memerangi radikal bebas yang bertanggung jawab atas berbagai penyakit. Potensi neuroprotektif jintan hitam dan timokuinon dalam mencegah kerusakan oksidatif pada sel otak tikus. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa jintan hitam dan timokuinon mengurangi stres oksidatif dan peradangan sekaligus melindungi sel glia dari kerusakan. Meskipun hasil ini menjanjikan, efek jintan hitam dapat bervariasi tergantung pada dosis, kondisi, dan lingkungan percobaan. Penelitian ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 3: Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik, yang menangani risiko kesehatan terkait tembakau. Secara khusus, penelitian ini menyelidiki efek perlindungan jintan hitam pada struktur seluler otak sebagai respons terhadap paparan asap rokok.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat N. sativa terhadap jumlah sel glia di otak kecil dan otak besar tikus putih (Rattus norvegicus) yang terpapar asap rokok. Tiga puluh ekor tikus putih dengan berat sekitar 105 g dibagi menjadi lima kelompok: K (kelompok kontrol, tidak terpapar asap rokok dan tidak diberi N. sativa), K+ (terpapar asap rokok, 2 batang rokok/hari, dan 0,5% CMC), dan tiga kelompok perlakuan (P1, P2, dan P3) yang terpapar asap rokok, 2 batang rokok/hari, dengan dosis N. sativa masing-masing 300, 600, dan 1200 mg/kg BB. Jumlah sel glia di serebelum dan serebrum diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah, diikuti dengan uji Duncan post hoc. Perbedaan signifikan (p < 0,05) dalam jumlah sel glia di serebelum dan serebrum antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pemberian N. sativa, khususnya pada dosis 1.200 mg/kg BB/hari, secara signifikan meningkatkan dan mempertahankan jumlah sel glia di otak kecil dan otak besar tikus yang terpapar asap rokok.

Penulis: Widjiati

Publish di jurnal: Open Veterinary Journal

Link artikel: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11974293/pdf/OpenVetJ-15-709.pdf

Link laman jurnal: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40201823/#:~:text=Conclusion%3A%20The%20administration%20of%20N,rats%20exposed%20to%20cigarette%20smoke.

Baca juga: Perubahan Morfologi Mitokondria dan Kardiolipin dalam Oosit Tikus Model Endometriosis