Meskipun Bayi tabung memungkinkan satu sperma untuk membuahi telur, namun tidak semua laki-laki yang mengalami kondisi penurunan jumlah sperma (oligozoospermia) dapat menjalankan proses bayi tabung di saat sperma masih ada. Beberapa kondisi seperti belum memiliki istri, fokus pada pengobatan penyakit, hingga belum memiliki dana dapat menghalangi mereka untuk menjalani terapi kesuburan ini. Simpan beku (kriopreservasi) sperma merupakan usaha yang dapat dilakukan untuk menjaga asa memiliki keturunan di masa depan, namun menyimpan sperma dalam jumlah sedikit merupakan sebuah tantangan baik karena sebagian sperma mungkin tidak bertahan atau tidak dapat diambil saat akan digunakan.
Berdasarkan permasalahan di atas Rossy Sintya Marthasari di bawah bimbingan Agustinus, dr., Sp.And dan Dr. Reny I’tishom, M.Si melakukan penelitian tentang “Efek teknik kriopreservasi pada jumlah sperma yang sangat rendah di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia”
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persentase gerak (motilitas), sperma yang diperoleh (recovery rate), dan sperma yang bertahan hidup (viabilitas) pada subkelompok spermatozoa yang disimpan beku dari pasien oligozoospermia sebagai parameter kualitas.
Penelitian eksperimental ini dilakukan terhadap 13 pasien oligozoospermia dengan jumlah sperma sangat rendah di Laboratorium Biologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu Kelompok 1 (71-100 sperma), Kelompok 2 (31-70 sperma), Kelompok 3 (11-30 sperma), dan Kelompok 4 (1-10 sperma) berdasarkan jumlah sperma, yang menjalani 30 kali pengulangan kriopreservasi.
Terdapat perbedaan signifikan pada tingkat pemulihan antara Kelompok 1 (34,88±1,87), Kelompok 2 (44,77±1,89), Kelompok 3 (61,83±2,09), dan Kelompok 4 (70,90±2,71) pada teknik kriopreservasi (P<0,001). Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan pada tingkat motilitas sperma pasca-kriopreservasi antara Kelompok 1 (65,60±14,63), Kelompok 2 (52,50±26,28), Kelompok 3 (39,90±9,95), dan Kelompok 4 (44,70±41,77) (p=0,070). Berdasarkan parameter viabilitas sperma yang dinilai dalam penelitian ini, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Kelompok 1 (56,40±3,89), Kelompok 2 (58,60±5,99), Kelompok 3 (59,60±9,96), dan Kelompok 4 (56,70±11,30) (p=0,504).
Dari peneitian ini disimpulkan teknik kriopreservasi sperma secara signifikan memengaruhi tingkat perolehan kembali (recovery rate) pada jumlah sperma yang sangat rendah antar-kelompok. Namun, tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat motilitas maupun parameter viabilitas dalam penelitian ini.
Judul Artikel: The effect of cryopreservation technique in a very low number sperm count at Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia
Penulis: Rossy Sintya Marthasari, Agustinus, Supardi, Aucky Hinting, Reny I’tishom
Link Artikel:
https://www.balimedicaljournal.ejournals.ca/index.php/bmj/article/view/1732/pdf
