Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ. Selain masalah pada kulit, sendi, ginjal, atau darah, pasien lupus juga perlu memperhatikan kesehatan tulang. Dibandingkan orang dengan usia dan jenis kelamin yang sama, pasien SLE memiliki risiko osteoporosis yang lebih tinggi. Peradangan menahun dan penggunaan obat glukokortikoid atau steroid dalam jangka panjang merupakan dua faktor penting yang dapat mempercepat penurunan kepadatan tulang.
Salah satu obat yang sangat sering digunakan pada lupus adalah hydroxychloroquine (HCQ). Obat ini dikenal sebagai terapi utama untuk membantu mengendalikan penyakit karena memiliki efek antiinflamasi dan imunomodulator. Namun, pengaruh HCQ terhadap tulang selama ini belum sepenuhnya jelas. Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan manfaat terhadap kepadatan tulang, sedangkan penelitian lain memberikan hasil yang berbeda. Karena itu, sebuah penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya mencoba melihat apakah penggunaan HCQ berhubungan dengan kondisi kepadatan tulang pada pasien SLE.
Penelitian ini melibatkan 213 pasien lupus. Kepadatan mineral tulang diperiksa menggunakan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA), yaitu pemeriksaan yang umum digunakan untuk menilai kepadatan tulang. Hasilnya cukup menarik: hanya 22,5% pasien yang memiliki kepadatan tulang normal. Sebanyak 51,2% mengalami osteopenia, yaitu kondisi ketika kepadatan tulang mulai menurun, dan 26,3% sudah mengalami osteoporosis. Dengan kata lain, lebih dari tiga perempat pasien dalam penelitian ini memiliki kepadatan tulang yang lebih rendah dari normal.
Setelah berbagai faktor dianalisis bersama, usia yang lebih tua dan paparan kumulatif methylprednisolone yang lebih tinggi berhubungan dengan kepadatan tulang yang lebih rendah. Sebaliknya, indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi tampak memberikan efek protektif. Hal yang menarik adalah penggunaan HCQ juga berhubungan dengan kondisi tulang yang lebih baik. Pada analisis statistik, pasien yang menggunakan HCQ memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami penurunan kepadatan tulang dibandingkan pasien yang tidak menggunakan HCQ (OR 0,47).
Mengapa HCQ mungkin bermanfaat bagi tulang? Secara biologis, ada beberapa kemungkinan mekanisme. HCQ diduga dapat menghambat aktivitas sel osteoklas, yaitu sel yang berperan dalam proses pengikisan atau resorpsi tulang. Obat ini juga dapat mengurangi stres oksidatif dan peradangan, dua proses yang dapat mengganggu keseimbangan pembentukan dan penghancuran tulang. Selain itu, pengendalian penyakit yang lebih baik dengan HCQ dapat membantu mengurangi kebutuhan paparan steroid dalam jangka panjang, yang diketahui merupakan salah satu penyebab penting pengeroposan tulang pada pasien penyakit autoimun.
Temuan ini memberi pesan penting bahwa kesehatan tulang perlu menjadi bagian dari pemantauan pasien lupus. Pemeriksaan DXA terutama perlu dipertimbangkan pada pasien dengan faktor risiko seperti usia yang lebih tua, BMI rendah, dan paparan steroid jangka panjang. Penggunaan steroid juga sebaiknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan klinis agar paparan kumulatifnya tidak berlebihan. Sementara itu, HCQ tetap memiliki peran penting sebagai terapi dasar pada SLE dan penelitian ini menunjukkan adanya kemungkinan manfaat tambahan terhadap kesehatan tulang.
Meski demikian, hasil penelitian ini tidak berarti bahwa HCQ dapat digunakan sebagai obat khusus untuk mencegah osteoporosis. Penelitian ini bersifat potong lintang atau cross-sectional, sehingga hanya dapat menunjukkan adanya hubungan dan belum dapat membuktikan bahwa HCQ secara langsung menyebabkan peningkatan kepadatan tulang. Penelitian ini juga belum menilai kejadian patah tulang maupun penanda pergantian tulang secara langsung. Karena itu, penelitian lanjutan yang mengikuti pasien dalam jangka waktu lebih panjang masih diperlukan.
Kesimpulannya, kepadatan tulang yang rendah cukup sering ditemukan pada pasien SLE. Usia, paparan steroid, dan BMI tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Penggunaan HCQ dalam penelitian ini berhubungan dengan kepadatan tulang yang lebih baik, sehingga membuka kemungkinan bahwa manfaat HCQ pada lupus tidak hanya berkaitan dengan pengendalian penyakit, tetapi juga dengan kesehatan tulang. Bagi pasien, keputusan penggunaan HCQ maupun perubahan terapi tetap harus dilakukan bersama dokter dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Penulis : Dr. Awalia, dr., Sp.PD, K-R, FINASIM
Informasi detail dari laporan ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://doi.org/10.1515/rir-2026-0017
Awalia, Kandinata SG, Putri AT, et al. Hydroxychloroquine therapy and its impact on bone mineral density among systemic lupus erythematosus patients: A cross-sectional study. Rheumatology and Immunology Research. 2026;7:AOP. doi:10.1515/rir-2026-0017.
