Universitas Airlangga Official Website

Kandungan Logam Berat pada Rumput Laut di Banyuwangi masih Aman di konsumsi

Foto by Republika

Budidaya rumput laut merupakan salah satu ekspor terpenting Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2019, nilai ekspor budidaya rumput laut Indonesia sebesar 3,98 triliun rupiah pada tahun 2018, naik 42,05% dibandingkan tahun sebelumnya. Eksportir rumput laut terbesar Indonesia adalah China yang mencapai 144.881 ton pada tahun 2018, dan ekspor rumput laut Indonesia ke China tumbuh rata-rata 16,94% per tahun selama periode 2014-2018. Salah satu spesies alga yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah Eucheuma cottonii sebagai penghasil karaginan.

Salah satu spesies alga yang bernilai ekonomis tinggi adalah Eucheuma cottonii. Rumput laut jenis Euchema cottonii tergolong rumput laut yang mengandung mineral esensial, asam amino, protein, vitamin, gula dan banyak antioksidan. Alga ini juga memiliki sifat menyerap atau menyerap senyawa di lingkungan perairan atau disebut dengan sifat biofilter. Rumput laut banyak digunakan sebagai bahan baku kosmetik, obat-obatan dan makanan, karena mengandung senyawa hidrokoloid seperti karagenan, alginat dan agar. Berdasarkan hal tersebut, kualitas senyawa hidrokoloid yang dihasilkan oleh alga mempengaruhi kualitas produk alga yang juga berpengaruh pada penentuan harga jual.

Kualitas produk alga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: B. Karakteristik tapak, nutrisi dan kualitas air. Hal ini dikarenakan daya dukung lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, kandungan karaginan dan kualitas alga. Pencemaran logam berat saat ini menjadi masalah dalam budidaya, tidak hanya pada sedimen dan badan air, tetapi juga pada alga. Keberadaan logam berat dalam air secara tidak langsung dapat membahayakan kesehatan manusia apabila terakumulasi melalui rantai makanan. Ciri-ciri logam berat adalah sukar terurai dan sukar larut bila kondisi air minim kandungan oksigen atau bebas oksigen. Logam berat mudah mengendap di dasar badan air, mudah terakumulasi di lingkungan dan sulit dihilangkan, serta dapat terakumulasi dalam kehidupan akuatik termasuk ikan, ganggang dan sedimen. Logam berat mengikat zat organik dan mengendap di dasar badan air atau sedimen.

Sebuah studi oleh Sudir et al. pada tahun 2017 menemukan bahwa terhadap konsentrasi logam berat Pb, Cd dan As di perairan Takalar menunjukkan hasil yang menunjukkan kandungan logam berat tersebut pada alga. Konsentrasi logam berat Pb terukur tertinggi menunjukkan bahwa konsentrasi tersebut melebihi batas aman. Diduga hal ini disebabkan oleh pencemaran air di perairan Takalar. Berdasarkan lokasi penelitian, pencemaran akibat aktivitas manusia merupakan faktor terbesar dibandingkan pencemaran alam, yang sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan penduduk, lalu lintas maritim, dan perkembangan industri. Kegiatan manusia yang dapat meningkatkan pencemaran perairan ini antara lain limbah domestik, transportasi laut, industri, pertanian, dll. Selain itu, logam berat juga dapat berasal dari alam melalui tektonik, vulkanisme, pendakian dan atmosfer. Pencemaran logam berat harus diperhatikan karena berdampak buruk bagi organisme perairan dan manusia yang mengkonsumsinya, serta mengganggu keseimbangan lingkungan.

Perairan Wongsorejo di Banyuwangi tepatnya Andelan Kidul Desa Sumber Kencono Kecamatan Wongsorejo merupakan salah satu budidaya rumput laut di Jawa Timur. Berdasarkan Pernyataan Keadaan Air Laut Wongserejo menyatakan bahwa kualitas air laut Wongserejo berdasarkan evaluasi titik kesesuaian menunjukkan bahwa semua parameter kualitas air dapat digunakan sebagai tempat yang cocok. Pengembangan budidaya alga sehingga memiliki potensi yang besar. Perairan Wongsorejo dekat dengan transportasi laut, kapal penangkap ikan, pertanian dan daerah padat penduduk, yang memiliki karakteristik tapak yang hampir sama dengan kejadian perairan Takalar, sehingga dapat terjadi pencemaran logam berat disana.

Kandungan logam berat yang terakumulasi pada alga adalah Pb 0,0665 mg/kg, Cd 0,0516 mg/kg dan As sekitar 0,7253 mg/kg. Sampel air laut menunjukkan akumulasi Pb sebesar 0,0008 mg/L, Cd sekitar 0,0019 mg/L, As sekitar 0,0076 mg/L. Hasil akumulasi logam berat Pb, Cd dan As pada sedimen adalah 0,0003 mg/kg, 0,0019 mg/kg dan 0,5806 mg/kg. Semua sampel ganggang, air dan sedimen berada di bawah ambang batas dan dalam kondisi aman.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Tulisan Lengkap pada link: http://grouper.unisla.ac.id/index.php/grouper/article/view/128

Sitasi: Andriyono, S., Bayu, A. S., & Suciyono, S. (2022). Analisis Kandungan Logam Berat (Pb, Cd dan As) pada Rumput Laut (Eucheuma cottonii)(Studi Kasus: Perairan Laut Wongsorejo, Banyuwangi). Grouper: Jurnal Ilmiah Perikanan13(2), 168-176.