Universitas Airlangga Official Website

Karakteristik Sekretom Neurogenik Hipoksia: Organoleptik, Profil IL-6, dan IL-10

Ilustrasi stem cells (sumber: Medical news today)

Pernahkah Anda mendengar tentang terapi sel punca (stem cell) untuk memperbaiki cedera saraf. Cedera saraf tepi sering terjadi akibat trauma, seperti kecelakaan lalu lintas. Di Amerika Serikat, sekitar 200.000 kasus cedera saraf terjadi setiap tahun akibat kecelakaan, sementara di Eropa, jumlahnya mencapai 300.000 kasus per tahun.

Cedera saraf tepi dapat memengaruhi fungsi motorik dan sensorik, menyebabkan gangguan gerakan, mati rasa, atau rasa sakit. Metode pengobatan bervariasi, mulai dari operasi hingga terapi non-operatif seperti latihan fisik, stimulasi listrik, dan terapi laser. Namun, metode yang kini menarik perhatian adalah terapi dengan stem cell.

Stem cell, atau sel punca, adalah sel unik yang mampu berubah menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh. Salah satu jenis yang digunakan untuk terapi adalah Sel Punca Mesenkimal atau (MSC) yang berasal dari jaringan lemak manusia. Sel ini diisolasi dan dikultur di laboratorium untuk menghasilkan media kondisioner MSC (MSC-CM), yang kaya akan faktor pertumbuhan dan sitokin.

Namun, para peneliti menemukan cara meningkatkan potensi MSC dengan mengondisikannya di lingkungan rendah oksigen, atau kondisi hipoksia. Kondisi ini membuat MSC lebih aktif memproduksi zat-zat yang dapat mempercepat penyembuhan jaringan saraf yang rusak.

Neurogenik sekretom adalah cairan yang dihasilkan oleh sel punca mesenkimal (MSC) yang telah diproses secara khusus dan di berikan sel saraf. Cairan ini mengandung zat aktif seperti sitokin dan faktor pertumbuhan yang membantu regenerasi saraf. Salah satu pendekatan terbaru adalah mengkondisikan sel punca dalam kondisi hipoksia (kadar oksigen rendah) untuk meningkatkan efektivitasnya. Dalam penelitian ini, tim ilmuwan dari Surabaya menganalisis bagaimana kondisi hipoksia memengaruhi karakteristik cairan sekretom tersebut .

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa sekretom neurogenik memiliki warna dan struktur yang unik. Dalam kondisi cair, warnanya oranye muda, dan setelah dikeringkan menjadi kuning, berbeda dari kontrol yang tetap merah muda. Selain itu, cairan ini tidak memiliki bau, baik sebelum maupun sesudah proses pengeringan.

Lebih lanjut, analisis mikroskopis mengungkapkan bahwa sekretom neurogenik memiliki lebih banyak pori, yang diyakini membantu meningkatkan perlekatan dan proliferasi sel. Kandungan air dalam sekretom ini lebih rendah dibandingkan kontrol, yang penting untuk menjaga stabilitas saat disimpan.

Penelitian ini juga mengukur kadar zat zat sitokin IL-6 (kadar sel radang) dan IL-10  ( anti radang sel) dalam sekretom. IL-6 adalah  zat zat sitokin yang dapat mempercepat regenerasi sel saraf, sedangkan IL-10 berperan mencegah kerusakan lebih lanjut pada jaringan saraf yang cedera. Menariknya, sekretom neurogenik memiliki kadar IL-6 dan IL-10 yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa sekretom neurogenik mungkin bekerja dengan cara yang berbeda untuk merangsang perbaikan saraf tanpa memicu peradangan berlebihan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sekretom neurogenik dari MSC berpotensi menjadi alternatif terapi yang menjanjikan untuk cedera saraf. Berkat kelebihan dan kemampuanmya  yang unik dan kemampuan  regenerasi jaringan saraf, sekretom ini dapat menjadi harapan pada  pasien dengan cedera saraf yang parah.

Pada penelitian ini masih berupa uji coba pada laboratorium, perlu adanya pengembangan dalam uji coba klinis dan pada manusia sehingga dapat berguna bagi masyarakt.

Begitu menarik, bukan, bagaimana teknologi medis terus berkembang? Kita bisa optimis bahwa suatu hari, terapi ini dapat membantu mempercepat pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup pasien cedera saraf.

Penulis: Bagus Wibowo Soetojo1, Teddy Heri Wardhana1,Heri Suroto1

1Departemen Orthopaedi dan Traumatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,  Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia

Link Publikasi : https://doi.org/10.55214/25768484.v8i5.1967