UNAIR NEWS – Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mendapat perhatian dalam pengungkapan keberlanjutan perusahaan. Temuan Tim Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Airlangga (UNAIR) menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang mengungkapkan informasi berdasarkan IFRS S1 dan/atau S2 menyebutkan penggunaan AI dalam pelaporannya.
Ketua CESGS UNAIR, Prof Iman Harymawan PhD memaparkan temuan ini dalam Inter-Institutional Development Scheme (IIDS) Conference pada Kamis (24/9/2026) di Yuen Campus, The Hang Seng University of Hong Kong (HSUHK), Hong Kong.
Forum yang bertajuk “Bridging Theory and Industry Practice: Advancing ESG Excellence in Hong Kong and Beyond” ini mempertemukan akademisi, regulator, dan praktisi industri untuk membahas perkembangan ESG sekaligus menjembatani kerangka teoritis dan regulatif dengan praktik di dunia industri.
Hasil Temuan
Dalam forum tersebut, Prof. Iman membahas hasil analisis terhadap 1.000 perusahaan nonkeuangan terbesar berdasarkan total aset. Dari jumlah tersebut, 915 perusahaan telah menerbitkan laporan, 516 memiliki sustainability report, dan 199 perusahaan mengungkapkan IFRS S1 dan/atau IFRS S2. Dari 199 perusahaan tersebut, sebanyak 189 perusahaan menyebutkan penggunaan AI dalam pengungkapannya.
“Saya membahas mengenai AI Adoption in IFRS S1 & S2 Disclosures di top global companies. Dari hasil analisis Tim CESGS Data Intelligence, kami menemukan 199 perusahaan telah mengungkapkan informasi berdasarkan IFRS S1 dan/atau IFRS S2. Dari jumlah tersebut, 189 perusahaan sudah menyebut penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam disclosure mereka,” tuturnya.

Penggunaan AI dalam Pengungkapan Keberlanjutan
Hasil analisis Tim CESGS Data Intelligence menunjukkan bahwa perusahaan paling banyak menyebut penggunaan AI dalam aspek strategy dan risk management. Dalam kedua aspek tersebut, AI dimanfaatkan untuk mendukung optimasi, sistem peringatan dini (early warning), dan deteksi risiko (risk detection) terkait keberlanjutan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa penggunaan AI dalam pelaporan keberlanjutan berkaitan dengan cara perusahaan mengelola risiko manajemen dan menyampaikan informasi kepada pemangku kepentingan. Namun, pencantuman AI dalam laporan belum cukup untuk menunjukkan manfaatnya bagi perusahaan. Penggunaannya perlu memiliki keterkaitan yang jelas dengan aktivitas bisnis, kualitas informasi, dan proses pengambilan keputusan.
AI untuk Mendukung Aktivitas Bisnis Perusahaan
Prof Iman menekankan pentingnya penggunaan AI yang memberikan manfaat nyata bagi perusahaan, terutama di tengah perhatian terhadap konsumsi energi teknologi tersebut. Menurutnya, perusahaan perlu memastikan bahwa AI mendukung kebutuhan bisnis, bukan sekadar menjadi bagian dari narasi pelaporan.
“Di tengah diskusi bahwa AI mengonsumsi energi yang luar biasa besar, kita dituntut untuk bisa memanfaatkan AI untuk membantu perusahaan dalam real business activities seperti memahami risiko, menghasilkan informasi yang lebih berkualitas, dan mendukung pengambilan keputusan. Bukan sekadar untuk AI-washing yang menyebabkan pembaca mislead dalam membaca informasi,” ujar Ketua CESGS itu.
Penulis: CESGS UNAIR
Editor: Yulia Rohmawati
