UNAIR NEWS – Perkembangan motorik anak perlu dipantau sejak dini untuk mengenali penyimpangan dan menentukan intervensi yang sesuai. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Nasional Fisioterapi Pediatri 2026 persembahan Himpunan Mahasiswa Fisioterapi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) Sabtu (26/9/2026). Mengusung tema “Optimizing Motor Development in Children: From Normal Development to Intervention Strategy”, webinar yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menghadirkan dr Yohanes Purwanto, Ftr SPsi PhD dan Estu Meilani, STr Fis MSc sebagai narasumber yang membahas perkembangan motorik serta strategi skrining dan intervensi pada anak.
Perubahan Milestone Dorong Pemahaman Motorik Lebih Detail
Pada sesi pertama, dr Yohanes menjelaskan bahwa pemahaman mengenai milestone perkembangan motorik anak perlu melihat perkembangan secara lebih rinci. Ia mengulas sejumlah pembaruan pada milestone, salah satunya merangkak yang tidak lagi menjadi kriteria utama perkembangan normal secara statistik karena tidak lebih dari 75 persen anak normal melewati fase tersebut. Meski demikian, latihan merangkak tetap memiliki manfaat bagi perkembangan neuromuskuloskeletal anak.

Perubahan pemahaman mengenai milestone tersebut juga menuntut fisioterapis pediatrik untuk memahami perkembangan motorik secara lebih mendalam. Yohanes menilai, pembelajaran fisioterapi anak tidak cukup hanya berfokus pada rentang usia head control, rolling, sitting, standing, dan walking. Fisioterapis perlu memahami tahapan dari setiap perkembangan tersebut secara lebih rinci, termasuk proses perkembangan kontrol kepala dan gerakan lainnya.
“Jadi teman-teman fisioterapi anak itu belajar tentang motor development belajarnya bukan hanya per 3 bulan, bukan hanya perkembangan enam perkembangan gross motor yang milestone saja, tetapi belajar perkembangannya itu kalau bisa perkembangan dari minggu ke minggu,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemahaman tersebut perlu diterapkan dalam memperhatikan aktivitas sehari-hari anak. Penggunaan stroller secara berlebihan dapat membatasi perkembangan otot postural dan anti-gravity. Sementara itu, baby walker tidak terbukti mempercepat kemampuan berjalan dan memiliki risiko cedera akibat jatuh.
Deteksi Dini Buka Peluang Intervensi
Sesi kedua berlanjut Estu Meilani dengan materi Early Screening for Motor Developmental Delay. Ia menjelaskan pentingnya deteksi dini karena plastisitas otak berada pada kondisi paling optimal pada usia 0–2 tahun. Bayi prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah, dan bayi dengan kelainan bawaan juga perlu mendapat deteksi dini serta follow-up assessment hingga usia lima tahun.
Estu kemudian memaparkan tiga instrumen skrining, yakni Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), Denver Developmental Screening Test (DDST), dan Alberta Infant Motor Scale (AIMS). Estu menegaskan bahwa skrining tidak berhenti pada pemberian label terhadap kondisi perkembangan anak. Deteksi dini juga menjadi langkah awal untuk menentukan intervensi yang dapat diberikan sedini mungkin.
“Jadi, semakin awal kita menemukan adanya penyimpangan, semakin awal kita menemukan adanya peringatan, semakin besar plastisitas otak yang dapat kita manfaatkan untuk mengembalikan anak itu ke milestone normalnya,” jelasnya.
Estu juga menekankan pentingnya edukasi kepada orang tua mengenai teknik positioning dan stimulasi yang dapat berlangsung di rumah. Menurutnya, home exercise program menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan anak.
Penulis: Katara Joy Kurniawan
Editor: Ragil Kukuh Imanto








