Universitas Airlangga Official Website

Konstruksi Sosial Etnis Banjar terhadap Tari Radap Rahayu

Tari Radap Rahayu (sumber: nugrohoprayogo)

Unair News – Latar belakang penelitian ini adalah fenomena empiris yang ada mengenai tari Radap Rahayu di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar yang banyak masyarakat Banjar gemari. Masyarakat Banjar menjadikan tari Radap Rahayu sebagai produk sosial yang memiliki ciri khas. Hanya dalam beberapa dekade, tari Radap Rahayu telah menjadi salah satu media dinamika sosial masyarakat etnis Banjar yang sangat penting, dengan pertunjukan yang tumbuh dan berkembang di beberapa daerah antara lain Banjarmasin, Gambut, Banjarbaru, Martapura, dan lain-lain.

Masyarakat Kecamatan Gambut mempunyai tradisi melaksanakan dan menyediakan piduduk secara turun temurun. Praktek ini tidak hanya berasal dari rasa takut terhadap pamali, tetapi juga dari rasa hormat yang mendalam terhadap nenek moyang dan kebijaksanaan mereka. Mereka mengembangkan suatu bentuk kearifan lokal yang sejalan dengan aturan adat dan larangan nenek moyang mereka. Kearifan lokal ini termasuk sikap, pandangan, dan kemampuan masyarakat dalam mengelola budaya dan agamanya, sehingga memungkinkan masyarakat untuk saling menghargai dan menghormati. Kearifan lokal memberikan jawaban kreatif terhadap keadaan geografis dan sejarah, menjadi bagian dari cara hidup yang bijaksana dalam menyelesaikan segala permasalahan kehidupan.

Berbagai sikap dan pandangan yang ada pada masyarakat beragama mengenai piduduk dan larangan dalam adat Banjar di Kecamatan Gambut. Untuk memahami pandangan tersebut dapat melalui tiga aspek utama. Pertama adalah pamali yang merupakan peringatan dan sarana kewaspadaan untuk memastikan acara berjalan lancar. Persepsi mengenai penduduk tersebut tidak terlepas dari mitos-mitos yang diyakini telah diturunkan dari generasi ke generasi. Masyarakat Banjar mengetahui keberadaan pamali dan akibat yang mungkin akan terjadi pada keluarga yang mengadakan acara tersebut. Mereka melaksanakan dan memberikan sesaji sesuai adat istiadat pendahulunya. Hal ini memerlukan tingkat kearifan dan kesadaran masyarakat untuk hidup aman, damai, dan harmonis satu sama lain dan dengan alam.

Daerah Gambut mayoritas penduduknya beragama Islam dan melaksanakan kegiatan rutin yasinan, pengajian, dan majelis-majelis di rumah tuan guru maupun di masjid. Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar yang masih terdapat aliran sungai, baik yang ukuran sedang maupun yang besar, dan aliran sungai Martapura, adalah aliran sungai yang besar di daerah Kabupaten Banjar ini. Para penduduk yang tinggal di sekitar aliran sungai Martapura inilah yang masih memegang adat leluhur. Mereka masih meyakini kebiasaan para pendahulunya dalam pelaksanaan sebuah kegiatan atau acara di komunitas atau kampung. Pada masyarakat di pinggiran sungai yang sudah lama tinggal di sana, lebih meyakini akan hal-hal yang berkaitan dengan pamali-pamali yang ada dan harus dilakukan oleh setiap keluarga dalam melaksanakan kegiatan atau acara adat kehidupan di masyarakatnya. Masyarakat etnis Banjar di daerah Gambut percaya sehingga tidak ada yang berani untuk tidak melakukan persyaratan atau piduduk dalam sebuah acara seperti perkawinan, tujuh bulanan, dan sebagainya. 

Kenyataan atau realitas adalah hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya. Local wisdom atau kearifan lokal secara umum dapat merupakan suatu gagasan yang bersifat bijaksana atau penuh kearifan. Gagasan itu memiliki nilai yang tertanam dan keyakinan bersama.  Kearifan lokal yang dimiliki dimensi-dimensi tersebut menjadi sebuah tradisi yang secara temurun dan hidup di dalam masyarakat. Kearifan lokal terwujud pada bentuk ide-ide, gagasan yang termplementasikan dalam bentuk tindakan dan perilaku yang meninggalkan jejak dalam kehidupan sehari-hari.

Pada pementasan seni di Gambut terkandung makna atau nilai yang berkaitan dengan Tuhan. Makna religi pada setiap pementasan seni dapat terlihat pada unsur tari, musik, dan sesaji. Pada unsur tari, terdapat pada sajian bagian awal berbentuk gerak menyembah, kemudian pada posisi bersimpuh. Posisi kepala agak menunduk dengan kedua tangan berdoa ke arah tengah, atas, dan ke tengah lagi. Posisi gerak tari bagian pembukaan merupakan gambaran sikap sembah kepada Tuhan. Juga pada bagian penutup, penari kembali pada posisi duduk sebagai wujud ungkapan syukur jalannya pertunjukan. Makna tersebut seperti batasan dalam pengetahuan komposisi tari, bahwa gerak wilayah atas (dada sampai kepala) mempunyai watak spiritual.

Fungsi dan makna dari tari radap rahayu dalam masyarakat etnis Banjar di Gambut tidak hanya sekedar sebagai pertunjukkan seni. Namun, sebagai ritual penting yang tidak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat etnis Banjar di Gambut. Hal ini terbukti dengan adanya empat domain konstruksi sosial yaitu gerakan limbai, makna spiritual, makhluk spiritual, dan buaya penunggu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Berger yang melihat bahwa dalam sebuah fenomena lebih menampilkan dua realitas (realistas berganda).

oleh: Edlin Yanuar Nugraheni, Myrtati D. Artaria, Sutinah, dan Ronald Lukens-Bull

Link: https://journal.scadindependent.org/index.php/jipeuradeun/article/view/1029/817