UNAIR NEWS – Kunjungan akademik ke luar negeri tidak hanya menjadi ajang memperluas jaringan, tetapi juga wadah untuk menyerap pengalaman yang dapat diterapkan di kampus asal. Demikian halnya yang mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) rasakan. Delegasi mahasiswa dari Fakultas Vokasi itu baru saja menyelesaikan rangkaian kunjungan ke Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada Minggu-Jumat (2-7/8/2026).
Dari sekian banyak agenda, seminar mengenai procurement (pengadaan) menjadi salah satu momen yang paling berkesan dan membuka wawasan baru bagi para delegasi. Mereka menyadari bahwa proses pengadaan yang terstruktur dan efisien memiliki peran krusial dalam keberlanjutan sebuah organisasi maupun korporasi.
Budaya Akademik Berbasis Data dan Industri
Menjelaskan pengalaman selama berada di UTM, delegasi mahasiswa menyoroti budaya belajar yang sangat data-driven dan berorientasi pada kebutuhan industri. Interaksi antara dosen dan mahasiswa terjalin secara lugas dan profesional melalui pembedahan kasus-kasus industri riil di lapangan.
“Sistem pembelajaran yang berbasis studi kasus riil (case-study based) dari perusahaan ini sangat berpotensi jika diadaptasi di UNAIR. Dengan begitu, mahasiswa sejak dini terbiasa bekerja sesuai standar industri yang sebenarnya,” ujar Inaya, salah satu perwakilan Himpunan Mahasiswa D4 Manajemen Perkantoran Digital.
Tak hanya itu, pendekatan e-procurement atau digitalisasi sistem operasional yang ada di UTM juga sangat relevan. Pendekatan ini hadir sebagai solusi atas tantangan inefisiensi anggaran dan efisiensi pencatatan yang kerap dihadapi oleh berbagai institusi maupun instansi publik saat ini.
Transformasi Peran Himpunan
Pengalaman berharga di UTM secara mendasar mengubah cara pandang tim dalam menyusun strategi dan standar kerja organisasi mahasiswa, khususnya himpunan. Mereka berkomitmen agar organisasi tidak sekadar menjadi Event Organizer (EO) yang rutin menggelar acara formalitas semata.
“Himpunan harus bertransformasi menjadi wadah nyata bagi mahasiswa untuk mengembangkan skill praktis dan menempa diri agar siap menghadapi dunia kerja,” tegasnya.
Untuk menerapkan gagasan tersebut tanpa membenturkan dengan budaya lokal, delegasi menyusun formulasi khusus. Budaya korporat yang ketat diadaptasi dengan menetapkan standar kerja profesional, namun tetap dibalut dengan gaya komunikasi yang kasual dan kekeluargaan agar anggota tidak merasa tertekan oleh birokrasi.
Langkah Konkret dan Target Kolaborasi Berkelanjutan
Dalam jangka pendek (3 hingga 6 bulan ke depan), tim merencanakan evaluasi besar-besaran terhadap program kerja organisasi. Program kerja yang dinilai sebatas formalitas akan dipangkas, sementara linimasa kerja (timeline) akan dirapikan.
Menghadapi tantangan resistensi perubahan atau kecenderungan berada di zona nyaman, strategi perbaikan akan diterapkan secara bertahap (gradual). Pengurus inti akan ditunjuk sebagai role model sebelum sistem baru diturunkan ke seluruh anggota.
Kunjungan akademik ini juga membawa target output yang jelas. Dalam jangka pendek, delegasi menargetkan terjalinnya relasi awal untuk menyelenggarakan joint event seperti webinar antar-mahasiswa. Sementara dalam jangka panjang, kolaborasi ini harapannya mampu membuka peluang program pertukaran mahasiswa (study exchange) bagi program studi di UNAIR.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rohmawati





