Universitas Airlangga Official Website

Latihan Kontinyu dan Interval Berperan Menurunkan Resting Heart Rate pada Non-Professional Atlet Shorinji Kempo

Foto by Majalah MATRA

Shorinji kempo merupakan salah satu cabang olahraga beladiri dengan nomor pertandingan terdiri dari embu dan randore. Perlombaan embu terdiri dari gerakan gabungan seperti pukulan, tendangan, tangkisan dan bantingan yang dilakukan oleh dua Kenshi (atlet kempo) yang berpasangan atau empat hingga delapan Kenshi dalam satu regu. Untuk menunjang prestasi dalam sebuah pertandingan tentunya membutuhkan kondisi fisik yang sehat dan bugar untuk mempertahankan perfoma saat bertanding serta meningkatkan ambang kelelahan. Ketika berlangsungnya pertandingan tentunya akan terjadi kontraksi otot yang berulang-ulang dan secara fisiologis, hal ini akan memicu respon terjadinya stres oksidatif. Selain itu, kadar laktat darah dan heart rate juga akan mengalami peningkatan sebagai tanda bahwa atlet menggunkan intensitas submaksimal hingga maksimal saat bertanding. Tingginya intensitas sebagai tuntutan gerakan dan tekanan fisiologis pada atlet selama kompetisi dapat terakumulasi selama pertandingan yang kemudian hadir sebagai tanda-tanda kelelahan yang mengarah pada penurunan performa bahkan risiko cedera.

Kondisi stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) memiliki implikasi pada berbagai macam proses patologis akut dan kronik seperti penyakit kardiovaskular (CVDs), penyakit neurodegeneratif (NDs), acute and chronic kidney disease (CKD), macular degeneration (MD), biliary diseases dan kanker. Hal tersebut terjadi karena tingginya tingkat inflamasi dengan ditandai oleh peningkatan IL-1α, IL-6, dan IL-8 yang dimediasi oleh ROS, dan biasanya kondisi ini terjadi pada individu yang mengalami obesitas, diabetes, hipertensi, dan atherosclerosis. Tingkat stres oksidatif dapat diketahui dengan melihat perubahan kadar malondialdehyde (MDA). Kemudian tingginya kadar laktat juga merupakan tanda bahwa terjadinya hypoxia pada jaringan tubuh, peningkatan laktat darah diakibatkan karena tingginya intensitas kerja otot yang ditandai dengan peningkatan heart rate. Hypoxia merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan peningkatan ROS yang berujung pada kondisi stres oksidatif melalui mekanisme cedera reperfusi.

Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh latihan continuous dan latihan modification interval terhadap penurunan kadar MDA dan laktat darah pada non-profesional atlet shorinji kempo. Desain penelitian ini adalah the randomized pretest-posttest control group design. 16 remaja laki-laki  menjadi subjek penelitian ini dan secara random dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu CEG(n = 8, continuous exercise group), MIEG (n = 8, modification interval exercise group). Continous exercise dilakukan dengan cara jogging selama 30 menit dengan intensitas 75% HRmax selama 30 menit diikuti pemanasan dan pendinginan masing-masing selama 5 menit, sedangkan modification interval exercise dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu pemanasan, latihan inti yang dilakukan secara continuous, 3 set 15 repetisi setiap jenis gerakan, dan diikuti istirahat aktif  antar interval dan pendinginan. Intervensi continuous exercise dan modification interval exercise dilakukan selama satu minggu dengan frekuensi 3x/week dan dilanjutkan dengan embu berpasangan selama 2 menit, intensitas submaksimal, pada akhir masing-masing intervensi latihan. Pengukuran kadar MDA dilakukan dengan menggunakan metode Thiobarbituric Acid Reactive substance (TBARs) (Esgalhado et al., 2015) dengan satuan konsentrasi ng/mL. Pengukuran kadar asam laktat menggunakan Accutrend Plus Meter (Accutrend® lactate meter, Roche Diagnostics, Mannheim, Germany) (Perez et al., 2008) dengan satuan konsentrasi mmol/L.

Hasil pemelitian ini menunjukan adanya penurunan resting heart rate pretest vs. posttest pada CEG (84.25±4.03 vs. 80.38±4.27) bpm dan MIEG (81.00±4.87 vs. 65.75±2.96) bpm. Sedangkan pada kadar laktat darah menunjukan peningkatan antara pretest vs. posttest, yaitu CEG (2.48±0.52 vs. 10.70±2.74) mmol/L dan MIEG (2.30±0.55 vs. 11.08±2.33) mmol/L. Begitu juga pada parameter kadar MDA menunjukan adanya peningkatan pretest vs. posttest pada CEG (4.10±1.83 vs. 7.62±3.18)ng/mL dan MIEG (6.84±1.87 vs. 10.15±2.27) ng/mL. Berdasarkan hasil analisis uji beda antar kelompok, terdapat perbedaan bermakna pada parameter resting heart rate antara kelompok CEG dan MIEG, tetapi tidak ditemukan perbedaan bermakna pada kadar laktat darah dan kadar MDA antara kelompok CEG dan MIEG. Jika dilihat dari rerata parameter resting heart rate, pada kelompok MIEG terbukti lebih efektif dalam menurunkan resting heart rate.

Secara umum hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa latihan modifikasi interval yang dilakukan selama satu minggu dengan frekuensi 3x/week secara signifikan dapat menurunkan resting heart rate. Tetapi pemberian latihan kontinyu dan modifikasi interval yang dilakukan selama satu minggu dengan frekuensi 3x/week justru dapat meningkatkan kadar laktat darah dan kadar MDA. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu. Peningkatan yang terjadi pada kadar laktat darah dan MDA diasumsikan karena pada saat melakukan embu berpasangan terjadi peristiwa hipoksia karena intensitas yang tinggi (sub-maksimal) sehingga predominan metabolisme energi yang digunakan adalah anaerobik. Tingginya kadar laktat darah yang terjadi dipertimbangkan juga berhubungan dengan dengan kondisi hipoksia, hal ini disebabkan karena ketika hipoksia akan meningkatkan ekspresi hypoxia inducible factor 1 a (HIF1a) yang kemudian menstimulasi proses glycolysis dan meningkatkan aktivitas lactic acid dehydrogenase (LDH) sehingga laktat diproduksi lebih tinggi.

Penulis: Tri Wahyu Aga Seputra, S.Pd dan Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes

Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link : https://tmfv.com.ua/journal/article/view/1673.

Seputra, T. W. A., Suyoko, A., Rejeki, P. S., Pranoto, A., Herawati, L., Andarianto, A., Yosika, G. F., Izzatunnisa, N., & Wahab, M. K. A. (2022). Effect of Continuous-Exercise and Modification Interval-Exercise on Decreasing Malondialdehyde and Blood Lactate Levels in Non-Professional Shorinji Kempo Athletes. Teorìâ Ta Metodika Fìzičnogo Vihovannâ22(2), 209-215. https://doi.org/10.17309/tmfv.2022.2.09.