Universitas Airlangga Official Website

Leksikon Kelautan sebagai Identitas Bahasa Masyarakat Pesisir

Foto by BRIN

Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas lautan. Garis pantai di Indonesia membujur sepanjang lebih dari 90 ribu kilometer dan terus mengalami penambahan. Garis pantai sepanjang itu didiami oleh 3,07 persen penduduk Indonesia yang disebut juga dengan masyarakat pesisir (Sui et al., 2020). Menurut Redfield (Choi & McNeely, 2018; Welsch, R.L., Terrel, J., & Nadolski, 1994) sebagai sebuah komunitas sosial, masyarakat pesisir memiliki identitas budaya yang khas. Masyarakat pesisir di Indonesia adalah bagian dari berbagai bentuk skala komunitas sosial. Masyarakat pesisir bisa ada dalam bagian demografi city, town, peasant village, atau bahkan tribal village.

Pengategorian Redfield terhadap masyarakat pesisir dari demografi induknya ini bertujuan untuk mengidentifikasi posisi budaya masyarakat pesisir sekaligus potensi perkembangannya. Masyarakat pesisir yang tinggal di kota besar, kota kecil, pedesaan, dan desa adat memiliki peluang dan tantangannya masing-masing dalam menjaga eksistensinya (Choi & McNeely, 2018). Di samping itu, jangkauan dan mobilitas masyarakat pesisir jauh lebih tinggi dibanding masyarakat agraris, masyarakat perkotaan, atau tipe masyarakat lainnya. Tingginya mobilitas dan luasnya jangkauan membuat masyarakat pesisir memiliki keterampilan sosial yang adaptif. Keadaptifan tersebut mampu bermuara menjadi akulturasi bahkan konstruksi budaya baru. Konstruksi budaya baru tersebut, salah satunya tergambar dari penggunaan bahasa.

Dari perspektif bahasa, keadaptifan masyarakat pesisir terefleksi dari leksikon dan struktur bahasa yang digunakan. Leksikon yang muncul bisa begitu beragam. Hal ini disebabkan masyarakat pesisir menyerap bahasa dari tempat-tempat yang disinggahinya. Struktur bahasa yang digunakan masyarakat betul-betul menyesuaikan kebutuhan mereka dalam berkomunikasi (Tondo, 2020). Uniknya, bahasa masyarakat pesisir di Indonesia ini merupakan sebuah paradoks. Di satu sisi, bahasa yang mereka gunakan begitu lentur menyerap, di sisi lain kelenturan itu membuat masyarakat pesisir menjadi eksklusif dibanding masyarakat di sekitarnya dari sisi penggunaan bahasa.

Kabupaten Tuban memiliki wilayah pesisir yang memanjang dari Kecamatan Palang, Jenu dan Bancar. Kecamatan Palang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan, sementara Kecamatan Bancar berbatasan langsung dengan Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Di sepanjang wilayah tersebut berdiri kampung-kampung nelayan. Menurut observasi awal, penduduk di kampung nelayan tersebut memiliki fitur linguistik yang begitu khas seperti kata sapaan, interjeksi, leksikon perihal kelautan, dan pemendekan kata yang menunjukkan perbedaan identitas mereka dengan komunitas tutur di luar mereka. Komunitas tutur di luar kampung nelayan sendiri dengan sangat mudah mengenali penduduk kampung nelayan dari cara mereka berinteraksi menggunakan fitur-fitur linguistik yang khas.

Berlandaskan pendapat Redfield, pandangan terhadap masyarakat pesisir memang bergantung dari banyak faktor. Masyarakat pesisir yang memiliki pondasi yang kuat dari sisi ekonomi tentu mampu menjadi “pintu gerbang peradaban” tersebut dan menjadi bagian dari transformasi budaya yang berkelanjutan (Choi & McNeely, 2018). Etnolinguistik menjadi teropong yang tepat tatkala sebuah kajian penelitian diperlukan untuk mengetahui sebuah komunitas tutur dari dalam komunitas itu sendiri. Dengan teropong ini pula peneliti berupaya melihat budaya kelautan masyarakat pesisir Kabupaten Tuban lewat salah satu fitur linguistiknya, yaitu leksikon.

Masyarakat pesisir Kabupaten Tuban menyerap bahasa-bahasa dari sekitarnya kemudian mengonstruksinya menjadi sebuah pola bahasa baru yang kadang sangat khas internal komunitas tutur serta sukar dipahami mitra tutur yang datang dari eksternal komunitasnya. Dari hasil pengamatan ditemukan bahwa leksikon-leksikon ini mampu menjadi fitur linguistik yang membedakan bahasa masyarakat pesisir Kabupaten Tuban dengan bahasa di sekitarnya. Karena masyarakat pesisir, interaksi komunikasi mereka tidak akan jauh-jauh dari kelautan dan perikanan, oleh karena itu leksikon-leksikon penanda identitas budaya tersebut berpotensi besar muncul dari istilah kelautan dan perikanan.

Dalam hal penamaan ikan, lekiskon yang digunakan di beberapa wilayah bisa berbeda-beda. Beberapa ikan yang mungkin populasinya mudah ditemui di seluruh Indonesia memiliki nama yang dikenal luas, seperti misalnya tengiri, kakap, atau tongkol. Namun, beberapa ikan dengan populasi yang tidak luas, bahkan cenderung endemik biasanya memiliki nama lokal (Chafidhi et al., 2019). Kecenderungan ini pula yang muncul pada penamaan ikan masyarakat pesisir Kabupaten Tuban. Ada beberapa pertimbangan yang digunakan masyarakat untuk menamai ikan tersebut. Bahasa yang dipilih pun turut menunjukkan kerap kali mewakili identitas tertentu. Klasifikasi beberapa leksikon penamaan ikan yang ditemukan antara lain ; Pei, Cemek, Dolo, Naja, Ceprut, Lengan, Jogo boyo, Dudut, dan Ndoro siri.

Aktivitas nelayan tentu tidak bisa dilepaskan dari alat transportasi yang digunakan, yaitu kapal atau perahu. Budaya melaut masyarakat pesisir Kabupaten Tuban lekat dengan perahu mesin diesel tempel dan perahu bercadik. Dua jenis perahu ini memang masih menjadi andalan para nelayan tradisional seperti nelayan pesisir Kabupaten Tuban. Leksikon-leksikon yang ditemukan yang merupakan bagian perahu antara lain gadingan ‘kemudi yang berfungsi untuk menstabilkan dan mengemudikan kapal’, centik ‘bagian depan dan belakang perahu yang mengerucut lancip’; plipitan ‘ bagian tepi perahu yang biasa juga menjadi tempat berpegangan dan bagian menambah cadik ; pulangan  ‘bagian kapal yang terbuat dari kayu sebagai pembatas kapten kapal dan kru’; tonggol ‘tiang tempat menyematkan layar’; bangkalan ‘bagian kapal yang terbuat dari kayu tempat mesin diesel dikaitkan’; tatapan ‘pijakan kaki diperahu’.

Selain perahu yang menjadi bagian vital dari budaya melaut, ada juga alat atau peranti dari melaut yang biasanya berfungsi untuk menangkap ikan atau bertahan hidup saat sedang berlayar. Leksikon peranti melaut tersebut adalah garit, pengirit, waring, trol, walesan, dan badong. Masyarakat pesisir di wilayah Jawa memiliki verba khusus untuk merujuk pada aktivitas melaut, yaitu miyang. Miyang di sini cenderung disandang oleh nelayan-nelayan tradisional skala kecil, sementara itu untuk nelayan dengan kapal serta skala tangkapan besar digunakanlah istilah longlenan (Puspita, 2018).

Leksikon penamaan ikan yang ditemukan dalam proses penelitian ini sedikit-banyak menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Kabupaten Tuban merasa menjadi bagian dari ekosistem besar pantai utara tempat mereka tinggal dan menggantungkan mata pencarian. Relasi budaya antara manusia dan lingkungan hidup pun tergambar di sana. Masyarakat pesisir Kabupaten Tuban memiliki pengetahuan terkait laku hidup biota laut kemudian menjadikannya sebagai penanda identitas ikan. Biasanya nama-nama biota laut dinamai sesuai dengan ciri fisiologis (Pujiono et al., 2013). Jika penamaan itu sampai pada kebiasaan dan tingkah laku biota laut, berarti hal tersebut sudah melewati pengamatan yang frekuentif sebelum akhirnya terjadi “kesepakatan” terhadap label identitasnya.

Dari sudut pandang lain, leksikon aktivitas melaut yang sudah dipaparkan pada bagian sebelumnya turut menunjukkan situasi sosial-ekonomi masyarakat pesisir Kabupaten Tuban. Dari aktivitas melaut berdasar durasi muncul lima leksikon khas. Dari lima tersebut, tiga di antaranya dibentuk dari referensi bahasa yang berasal dari internal tuturan masyarakat pesisir, setidaknya dari bahasa Jawa, sedangkan dua yang lain, ngebok dan ngapal, ditengarai ada interferensi dari bahasa Indonesia dan bahasa asing. Dari perspektif ini, tiga aktivitas melaut, methek, ngothok, nggendong cenderung lebih dekat secara budaya dibanding dua aktivitas yang lain. Kedekatan itu ditandai dengan terkonstruksinya leksikon yang berasal dari bahasa mereka sendiri. Sementara dua aktivitas lain cenderung lebih jauh karena mungkin mereka juga jarang melakukannya sehingga menjadi bagian yang terpisah dari kehidupan sehari-hari.

 Leksikon-leksikon yang ditemukan pada masyarakat pesisir Tuban menunjukkan situasi kebahasaan masyarakat pesisir Kabupaten Tuban yang berbahasa Jawa Mataraman, namun mengalami interferensi dari bahasa Jawa Arek dan bahasa Madura. Leksikon-leksikon kelautan tersebut menunjukkan identitas khusus masyarakat pesisir Kabupaten Tuban sebagai masyarakat tutur yang memiliki ciri khas dan fitur linguistik pembeda dengan masyarakat sekitarnya. Leksikon-leksikon tersebut muncul pada (1) penamaan ikan, (2) bagian kapal, (3) peranti melaut, dan (4) aktivitas melaut.

Referensi leksikon penamaan ikan berasal dari ciri fisiologis, gerak-gerik/cara hidup, dan serapan dari bahasa lain. Dalam proses morfologis leksikon ditengarai terdapat interferensi dari bahasa Madura dan bahasa Jawa Mataraman. Leksikon bagian kapal dan peranti melaut adalah leksikon yang menjadi penanda masyarakat pesisir dan non-pesisir namun tak cukup autentik untuk menggambarkan kekhasan masyarakat pesisir di Kabupaten Tuban karena leksikon yang muncul juga dituturkan di masyarakat pesisir wilayah lain.

Leksikon aktivitas melaut menjadi penanda identitas paling khas yang ditemukan oleh peneliti. Masyarakat pesisir Kabupaten Tuban memiliki leksikon aktivitas melaut yang tidak ditemukan pada masyarakat pesisir wilayah lain. Leksikon aktivitas melaut ini dibedakan menurut durasi keberlangsungan aktivitas tersebut. Referensi leksikon aktivitas laut berasal dari bunyi kapal yang digunakan, jenis kapal yang digunakan, dan jenis tempat penyimpanan ikan yang dibawa selama aktivitas melaut. Proses morfologi yang terjadi dalam pembentukan leksikon pun menunjukkan ketertautan masyarakat pesisir Kabupaten Tuban sebagai sebuah komunitas tutur dengan kebiasaan dan laku hidupnya yang bersinggungan dengan ekosistem laut.

Leksikon kelautan yang muncul, selain menjadi penanda identitas, turut menunjukkan potret budaya masyarakat pesisir Kabupaten Tuban yang tidak bisa lepas dari ekosistem laut dan sistem melaut yang masih tradisional. Leksikon kelautan yang muncul mampu menunjukkan relasi dan kesadaran nelayan dalam menjaga keberlangsungan lautan sebagai tempat menggantungkan kehidupan. Pada akhirnya, identitas budaya kelautan masyarakat pesisir Kabupaten Tuban terwakili dari penggunaan leksikon-leksikon dalam tuturan mereka. Saran Potensi Perkembangan Kajian Tulisan ini baru sebagian kecil dari fitur-fitur linguistik yang dapat digali dari masyarak

Penulis: Ni Wayan Sartini dan Salimulloh Tegar Sanubarianto

Link Jurnal: https://tpls.academypublication.com/index.php/tpls/article/view/4786/3635