UNAIR NEWS – Acara bertajuk 11th AUN-HPN International Advisory Committee Meeting dan 5th International Health Promotion Conference terlaksana pada Rabu (14/10/2026) di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C Universitas Airlangga (UNAIR). Acara tersebut menghadirkan berbagai perspektif perguruan tinggi Asia dalam mengembangkan kampus sehat melalui kebijakan, pendidikan, infrastruktur, dan inovasi promosi kesehatan.
Integrasi Kesehatan dalam Pendidikan
Dr Deeni Rudita bin Idris dari Universiti Brunei Darussalam (UBD) memaparkan strategi pembangunan kampus sehat melalui Healthy University Roadmap 2025-2028. Selain itu, UBD juga melakukan pembaharuan kurikulum melalui program Generasi Balanced and Holistic Individuals, Ethical Leaders, Sustainable Thinkers, Transdisciplinary Practitioners, Adaptable, Resilient and Lifelong Learners, Responsible Global Citizens, Innovative Problem-solvers (GenBESTARI).
“Healthy University Roadmap dilakukan dengan mengintegrasikan kesehatan dan kesejahteraan ke dalam kebijakan institusi serta kehidupan sivitas akademika. Pembaharuan kurikulum ini mencakup keberlanjutan, Sustainable Development Goals (SDGs), dan literasi kesehatan,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan kampus sehat membutuhkan visi bersama dan komitmen keberlanjutan. Lebih lanjut, Dr Deeni mempertegas bahwa kedepannya UBD juga akan berfokus pada penguatan kesehatan mental, dukungan inklusif, serta evaluasi program berdasarkan dampak.
Dampak Program serta Infrastruktur
Asst Prof ChaiwatcharaPromjittiphong dari Srinakharinwirot University (SWU), Thailand, menekankan bahwa reach tidak sama dengan impact. Ia menilai banyaknya peserta kegiatan belum tentu menunjukkan perubahan perilaku atau peningkatan kesehatan masyarakat.
“Perguruan tinggi perlu menggunakan pendekatan berbasis bukti, memahami kebutuhan masyarakat, serta membangun kemitraan untuk memastikan program memberikan dampak berkelanjutan. Selain itu, perlu adanya evaluasi untuk mengukur manfaat nyata yang dihasilkan program,” paparnya.
Sementara itu, Ms Kai Shan Fernandez dari De La Salle University (DLSU), Filipina, menekankan pentingnya integrasi pendidikan dan infrastruktur. Ia menjelaskan bahwa DLSU mengembangkan pembelajaran promosi kesehatan melalui 37 mata kuliah dalam lima kategori. Selain itu, DLSU juga memberikan dukungan infrastruktur meliputi layanan klinik, fasilitas konseling, sarana olahraga, dan pemanfaatan energi terbarukan.
“Kombinasi integrasi dan infrastruktur ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan sekaligus menyediakan lingkungan yang mendukung penerapan perilaku sehat,” tegasnya.
Peran Health Promotion Planner (HPP)
Selanjutnya, Prof Ken Nakata dari Osaka University, Jepang, memperkenalkan Health Promotion Planner (HPP) sebagai strategi pendekatan yang dapat digunakan dalam perencanaan promosi kesehatan. Ia menyebut bahwa HPP dapat membantu mengidentifikasi faktor yang memengaruhi kesehatan, menentukan prioritas, serta merancang intervensi sesuai kebutuhan komunitas.
“Pendekatan berbasis data dan evaluasi menjadi penting agar program tidak hanya terlaksana, tetapi juga menghasilkan perubahan yang terukur,” pesannya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Khefti Al Mawalia
