Universitas Airlangga Official Website

Literasi Kesehatan Mental Remaja

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Bagi remaja, kesehatan mental merupakan masalah besar selama pandemi COVID-19 dan pasca pandemi. Namun hanya beberapa remaja yang mencari bantuan profesional untuk masalah kesehatan mental. Dalam 12 bulan terakhir, hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental yang menggunakan fasilitas kesehatan mental atau konseling untuk menangani masalah emosional dan perilaku mereka.

Sikap seseorang untuk mencari bantuan psikologis profesional bervariasi tergantung pada beberapa faktor yang berbeda, seperti sosiodemografi, tingkat pendidikan, dan pengetahuan dan literasi kesehatnnya. Bukti menunjukkan beberapa faktor yang berhubungan signifikan dengan sikap mencari pelayanan medis adalah usia, etnis, perkawinan, status, pendidikan, dan pendapatan. Penentu terpenting dari perilaku seseorang adalah niat untuk berperilaku.  Literasi kesehatan mental juga bisa membantu remaja dalam meningkatkan kesadaran dan pengendalian dalam Kesehatan mental.

Selain itu, dukungan sosial juga merupakan faktor yang terkait dengan perilaku karena bermanfaat dan memiliki nilai khusus bagi individu yang menerimanya. Individu yang mengalami dukungan sosial yang kuat, terutama ketika mempertimbangkan status pekerjaan dan dinamika keluarga yang positif, cenderung menunjukkan sikap yang lebih menguntungkan dalam mencari bantuan psikologis profesional. Dalam konteks kesehatan mental, memiliki sistem pendukung yang kuat tampaknya secara positif memengaruhi kesediaan seseorang untuk mencari bantuan profesional . Dengan demikian, komunikasi kesehatan antar masyarakat melalui dukungan sosial memiliki peran penting untuk mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang.

Usia memainkan peran penting dalam membentuk kesiapan dan kemauan individu untuk mengakses layanan kesehatan untuk mengatasi masalah kesehatan mental. Selain itu, usia memiliki dampak besar pada apakah seseorang berencana untuk mengakses perawatan kesehatan mental atau tidak, yang menekankan betapa pentingnya untuk memahami dinamika perilaku mencari bantuan di seluruh kelompok usia. Orang yang lebih muda mungkin lebih sadar akan masalah kesehatan mental dan lebih cenderung mencari bantuan karena mereka sering terpapar lebih banyak sumber daya dan informasi kesehatan mental melalui berbagai outlet media. Paparan ini mungkin berasal dari meningkatnya ketersediaan konten terkait kesehatan mental di platform media sosial, materi pendidikan, dan kampanye kesehatan masyarakat yang menargetkan demografi yang lebih muda. Akibatnya, mereka mungkin merasa lebih diberdayakan untuk mengenali dan mengatasi kebutuhan kesehatan mental mereka secara proaktif.

Berdasarkan temuan tersebut, penting untuk mengatasi kesenjangan melalui komunikasi kesehatan, konseling sebaya, dan jaringan terstruktur. Masyarakat atau dan Lembaga edukasi remaja harus mengintegrasikan sistem pendidikan dan komunikasi kesehatan mental, manajemen stres, dan ruang aman untuk diskusi terbuka. Penting juga untuk melibatkan pembuat kebijakan dalam membuat kebijakan kesehatan mental yang mendukung dan memastikan akses ke sumber daya untuk semua individu, menumbuhkan budaya empati dan pengertian.

Penulis: Dr. Sri Widati.,S.Sos.,M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/jphp/article/view/6700

Sri Widati, Suria Zainuddin, Pooja Garg, dan Ira Nurmala,  (2026). The Communication and Seeking Information of Mental Health Services among Students in Universitas Airlangga Indonesia

Journal of Public Health and Pharmacy. Vol. 6 No. 1 Maret Tahun 2026

DOI : https://doi.org/10.56338/jphp.v6i1.6700