Pandemi COVID-19 mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk kebiasaan makan. Sebuah studi terhadap 401 anak muda usia 18–25 tahun di Surabaya menemukan bahwa frekuensi eating outside home (EOH) atau makan di luar rumah turun drastis selama pandemi, dari rata-rata 8,15 kali menjadi 3,97 kali per bulan. Penurunan ini terutama dipicu oleh ketakutan tertular COVID-19, penurunan pendapatan, kebijakan lockdown, dan tutupnya banyak restoran. Namun, frekuensi makan di luar yang lebih sedikit ternyata tidak berhubungan dengan penurunan berat badan.
Menariknya, 40% responden justru mengalami kenaikan berat badan selama pandemi. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi makanan olahan, pola makan tidak teratur, serta aktivitas fisik yang menurun—fenomena yang juga dilaporkan di berbagai negara lain.
Bagaimana Perilaku Makan Luar Rumah dilihat dari konsep Health Belief Model?
Studi ini menggunakan Health Belief Model (HBM) untuk memahami faktor psikologis yang memengaruhi kebiasaan makan di luar. Beberapa temuan penting:
1. Self‑efficacy (keyakinan mampu makan di rumah) sangat berpengaruh.
Semakin tinggi kepercayaan diri seseorang untuk menyiapkan atau memilih makan di rumah, semakin jarang ia makan di luar.
2. Persepsi risiko penyakit membuat orang mengurangi perilaku makan di luar rumah
Responden merasa makan di luar meningkatkan risiko tertular COVID‑19 atau mengalami penyakit kronis seperti obesitas dan diabetes. Tingkat perceived severity yang tinggi berkaitan dengan penurunan perilaku makan di luar rumah.
3. Manfaat makan di luar tetap dirasakan, terutama kenyamanan.
Makan di luar dianggap praktis, cepat, dan menawarkan variasi menu, sehingga tetap punya daya tarik meskipun risikonya dirasakan tinggi.
4. Hambatan makan di luar makin besar.
Hambatan paling signifikan meliputi biaya, risiko COVID‑19, dan keramaian/antrean, sehingga keseluruhan perceived barriers lebih tinggi dibanding manfaat.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Walaupun pandemi telah berlalu, kebiasaan makan selama periode itu dapat membentuk pola jangka panjang. Tingginya ketergantungan pada makanan praktis, baik dari luar maupun makanan instan di rumah, berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan penyakit degeneratif di masa depan.
Studi ini menegaskan bahwa meningkatkan self‑efficacy untuk memasak atau makan di rumah adalah kunci agar perilaku makan di luar rumah dapat dibatasi. Edukasi risiko kesehatan yang terkait dengan makan di luar perlu diperkuat. Promosi manfaat makan di rumah seperti lebih hemat, lebih sehat dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih baik.
Artikel lengkap dapat dibaca di: https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/65334/35739
Penulis: Qonita Rachmah, Dominikus Raditya Atmaka, Triska Susila Nindya, Hario Megatsari, Norfezah Md Nor
Penulis artikel popular: Qonita Rachmah





