Setiap orang pasti pernah mengalami luka, entah itu luka kecil karena tergores atau luka yang lebih besar akibat tindakan medis. Luka perlu dirawat dengan baik agar tidak terinfeksi dan bisa sembuh lebih cepat. Selama ini, di bidang kedokteran gigi, salah satu bahan yang sering digunakan untuk menutup luka adalah zinc oxide-eugenol. Bahan ini dikenal memiliki efek mengurangi rasa sakit dan mencegah pertumbuhan bakteri. Namun, penggunaan egenol ternyata tidak lepas dari risiko. Pada beberapa orang, egenol bisa memicu alergi, menyebabkan peradangan, bahkan berpotensi merusak jaringan lunak bila dipakai dalam dosis tertentu.
Menyadari kelemahan tersebut, para peneliti mencoba mencari alternatif yang lebih aman sekaligus tetap efektif. Salah satu kandidat yang menarik adalah kunyit atau Curcuma longa. Tanaman ini bukan hanya bumbu dapur sehari-hari, tetapi juga sudah ratusan tahun dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena kandungan kurkuminnya yang mampu melawan peradangan dan mempercepat pemulihan tubuh. Kekayaan alami yang dekat dengan masyarakat Indonesia inilah yang kemudian diuji lebih lanjut dalam penelitian ilmiah modern.
Penelitian dilakukan dengan mengombinasikan zinc oxide dengan ekstrak kunyit sebagai wound dressing pada luka tikus putih, untuk melihat bagaimana kombinasi tersebut bekerja dalam proses penyembuhan. Fokus penelitian ini ada pada dua protein penting, β-catenin dan LGR6, yang berperan dalam pertumbuhan sel kulit baru serta perbaikan jaringan. Hasilnya cukup menjanjikan. Luka yang ditutup dengan campuran zinc oxide dan ekstrak kunyit menunjukkan peningkatan aktivitas β-catenin sejak hari ketiga hingga ketujuh, jauh lebih tinggi dibandingkan luka yang tidak diberi dressing. Pada hari keempat belas, ekspresi LGR6 juga meningkat, menandakan proses pembentukan jaringan baru berjalan lebih optimal. Tidak hanya mempercepat pemulihan di awal, kombinasi ini juga membantu mencegah terbentuknya jaringan parut berlebih atau keloid.
Temuan ini membuka peluang baru bahwa kunyit, yang begitu mudah ditemui di dapur masyarakat Indonesia, memiliki potensi besar untuk dijadikan bahan medis modern. Jika penelitian lanjutan dan uji klinis pada manusia membuktikan keamanan serta efektivitasnya, wound dressing berbasis kunyit bisa menjadi alternatif yang lebih ramah bagi tubuh dibandingkan eugenol yang digunakan saat ini. Namun, penting diingat bahwa hasil penelitian ini masih tahap awal dan belum bisa diaplikasikan langsung di rumah. Membuat wound dressing dari kunyit mentah tentu tidak dianjurkan karena proses ekstraksi dan pencampuran membutuhkan standar laboratorium yang higienis.
Meski begitu, hasil riset ini menjadi bukti bahwa pengobatan tradisional tidak kalah pentingnya dengan sains modern. Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun ternyata bisa berkontribusi nyata dalam inovasi kesehatan. Mungkin suatu hari nanti, wound dressing dengan kandungan kunyit akan tersedia di pasaran dan menjadi pilihan masyarakat untuk perawatan luka sehari-hari—alami, aman, dan efektif.
Penulis: Asti Meizarini
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Asti Meizarini, Fitrania Shilvy Dirgantari, Wafiq Dwi Permana Hibatullah, Atiqah Syasya Batrisyia, Yadjnes Iswaran Kodi Isparan, Helal Soekartono, Devi Rianti, Wibi Riawan, Ardiyansyah Syahrom (2025). LGR6 and β-catenin Expression in Wound Healing of Zinc Oxide and Curcuma longa Extract Dressing Application in Rattus norvegicus. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences, 21(s2): halaman 86–91.





