Lumbar Disc Herniation (LDH) merupakan kelainan tulang belakang lumbal yang sering dijumpai pada populasi orang dewasa dan jarang terjadi pada populasi anak. Biodinamik dan anatomi tulang belakang berubah seiring bertambahnya usia, di mana orang dewasa berisiko lebih besar untuk mengalami LDH daripada anak-anak.
Pada LDH pediatrik tanpa defisit neurologis, pengobatan konservatif biasanya disarankan sebagai manajemen awal sebelum operasi. Ketika pengobatan konservatif gagal untuk LDH pediatrik, maka prosedur pembedahan dapat dipertimbangkan.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah laporan kasus ditulis oleh Muhammad Faris, dkk., (2022) dari Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Surabaya, laporan kasus yang telah diterbitkan dalam Elsevier ini bertujuan untuk menggambarkan contoh yang tidak biasa dari LDH pediatrik yang berhasil diobati dengan mikrodisektomi.
Seorang pasien berusia 15 tahun datang dengan keluhan ketidak nyamanan punggung dan nyeri pada kaki kirinya selama lebih dari 4 tahun dan memburuk selama 6 bulan terakhir. Pasien sering membawa beban berat, mengalami trauma berulang serta memiliki berat badan berlebih dengan indeks massa tubuh 27,3kg/m. Pengobatan antiinflamasi non steroid dengan ibuprofen 400 mg, tiga kali sehari serta injeksi piriformis Triamcinolone (10 mg/mL) 2 mL tidak mengurangi gejala. Tidak ada bukti hipoestesia, disfungsi kandung kemih atau disfungsi usus, dan fungsi motorik tidak terpengaruh.
Pemeriksaan fisik kemudian dilakukan dan terungkap bahwa kaki kiri dinyatakan positif mengangkat kaki lurus. Hasil MRI Lumbosacral mengungkapkan bahwa akar L4 dikompresi oleh herniasi diskus pada level L4/L5.
Operasi dilakukan oleh konsultan ahli bedah tulang belakang dan metode mikrodisektomi terbuka dipilih karena minimal invasif, memiliki visualisasi yang baik, dan memiliki risiko komplikasi yang rendah.
Pasien menjalani mikrodisektomi. Bagian yang prolaps dari diskus intervertebralis L4/L5 dikeluarkan dengan hati-hati dari foramen intervertebralis dan kanalis spinalis. Beberapa bagian bebas dari diskus yang mengalami degenerasi dikeluarkan melalui anulus fibrosus. Tidak ada komplikasi selama operasi. Setelah operasi, pasien membuat kemajuan yang signifikan.
Dalam 48 jam setelah operasi, pasien dipulangkan dengan pengurangan nyeri sciatic yang nyata. Setelah keluar, pasien kembali untuk kunjungan tindak lanjut secara berkala (setiap 1 bulan) ke unit bedah saraf. Pada setiap kunjungan pasien, pemeriksaan klinis dan neurologis dilakukan. Pasien menunjukkan perbaikan klinis yang baik serta fungsi motorik yang luar biasa. Tidak ada tanda-tanda defisit neurologis atau nyeri sciatic di kaki kirinya setelah tiga bulan masa tindak lanjut.
Ini merupakan laporan kasus LDH pediatrik pertama di Indonesia. Lumbar Disc Herniation sering tidak dipertimbangkan pada kelompok usia anak. Diagnosis sering tertunda karena kurangnya pengalaman dalam menangani kondisi ini pada anak-anak. Setiap pasien anak yang datang dengan nyeri punggung atau radikulopati harus diselidiki secara menyeluruh untuk menghindari kesalahan diagnosis, terutama pada mereka dengan indeks massa tubuh tinggi atau riwayat trauma. Teknik bedah dengan mikrodisektomi terbuka telah terbukti memberikan efektivitas klinis yang baik untuk kasus LDH pediatrik.
Selama masa tindak lanjut, tidak ada masalah dengan operasi itu sendiri atau akibatnya. LDH harus diperhitungkan pada semua kelompok umur sehingga diagnosis dan pengobatan yang lebih akurat dapat diikuti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penulis: Muhammad Faris, dr., Sp.BS.
Link Jurnal: Lumbar disc herniation in a 15-year-old girl: A case report





