
Mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan sosialisasi sekaligus praktik langsung budidaya maggot kepada masyarakat di balai desa Watuagung, Bungah, Gresik
Jum’at (23/1/2026). (Foto: Dok. Tim BBK 7)
UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan program inovatif bertajuk MAGENTA (Maggot untuk Lingkungan dan Ternak) pada hari Jum’at (23/1/2026). Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya nyata dalam memanfaatkan limbah organik sekaligus mendukung ketahanan pakan ternak.
Dari Limbah Menjadi Pakan Bergizi
Program MAGENTA ini memanfaatkan larva lalat hitam tentara black soldier fly atau BSF yang dapat mengurai sisa organik, termasuk limbah sisa pakan dari rumah tangga. Larva maggot ini tumbuh cepat dan mengandung protein tinggi.
Selain membantu mengurangi limbah, penggunaan maggot juga mengurangi biaya operasional bagi pemilik tambak ikan yang berada di desa seperti ikan bandeng. Dengan mengolah limbah menjadi pakan sendiri, masyarakat tidak perlu membeli pakan komersial dalam jumlah besar, sehingga terdapat penghematan. Bahkan, kelebihan maggot yang dihasilkan bisa dijual, membuka peluang pendapatan tambahan bagi warga Watuagung.
Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat
MAGENTA menjadi contoh nyata kolaborasi mahasiswa dan masyarakat dalam menciptakan solusi berkelanjutan. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pakan ternak dan tambak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan limbah organik sebagai produk bernilai.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa BBK turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 2 Zero Hunger serta SDGs 12 Responsible Consumption and Production. Dengan memanfaatkan limbah organik dari tambak menjadi pakan ikan yang bergizi, program ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan lokal, tetapi juga mengurangi limbah dan dampak lingkungan. Inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi mahasiswa dan masyarakat dapat menghasilkan solusi berkelanjutan yang mendukung kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Budidaya maggot ini sebenarnya jadi pembelajaran yang langsung bisa dipraktikkan oleh masyarakat. Di awal, yang paling penting bukan soal berhasil atau tidak, tapi bagaimana kita berani mencoba dan mempraktikkan inovasi yang sudah diperkenalkan oleh BBK 7 Universitas Airlangga.” Jelas Ketua BPD Desa Watuagung.
Penulis: Nadia Wahyu Adinda dan Aurallya Shalsabilla Ayu Andiny





