Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan semakin berkembang. Kehadiran chatbot generatif seperti ChatGPT membuat mahasiswa dapat memperoleh bantuan untuk memahami materi, mencari ide, menyusun tulisan, hingga berlatih memecahkan masalah. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya potensi peningkatan hasil belajar ketika AI digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Artinya, AI telah menjadi bagian dari kehidupan akademik. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah mahasiswa akan menggunakan AI, tetapi bagaimana cara mereka menggunakannya.
AI sebagai Teman Belajar
Tidak dimungkiri, AI menawarkan banyak kemudahan. Mahasiswa yang kesulitan memahami konsep bisa meminta penjelasan yang lebih sederhana, mencari alternatif sudut pandang, atau menemukan kesalahan dalam tulisan.
Dalam konteks tertentu, penelitian juga menunjukkan adanya manfaat. Sebuah meta-analisis oleh Wu et al. (2026) yang menganalisis 35 studi eksperimental dengan total 4.193 peserta menemukan efek positif ChatGPT terhadap hasil belajar mahasiswa, meskipun pengaruhnya berbeda-beda tergantung mata pelajaran, durasi penggunaan, dan metode pembelajaran.
Penelitian lain oleh Deng et al. (2025) juga menunjukkan kaitan positif antara interaksi AI dengan motivasi serta hasil belajar mahasiswa. Namun, potensi ini tidak otomatis membuat setiap penggunaan AI menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.
Persoalan muncul ketika kemudahan berubah menjadi ketergantungan—ketika proses berpikir sepenuhnya diserahkan kepada mesin, alih-alih menggunakan AI sekadar untuk mencari ide awal atau memeriksa struktur tulisan. Survei UNESCO (2025) terhadap 400 responden dari institusi pendidikan tinggi di 90 negara menunjukkan bahwa satu dari empat responden menyatakan institusinya telah menghadapi persoalan etika terkait AI, termasuk ketergantungan mahasiswa dan masalah kepengarangan.
AI Seharusnya Menjadi Co-Pilot
Pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban benar, tetapi melatih mahasiswa mengajukan pertanyaan, mencari sumber, menyusun argumen, serta mempertanggungjawabkan kesimpulan. UNESCO melalui AI Competency Framework for Students (2024) menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa memahami AI, menerapkan etika, serta melakukan penilaian kritis terhadap solusi AI.
Mahasiswa tidak perlu memusuhi teknologi, melainkan menempatkan AI sebagai co-pilot, bukan autopilot. Sebagai co-pilot, AI membantu perjalanan, tetapi mahasiswa tetap memegang kendali arah dan keputusan. Pola penggunaannya dapat dilakukan secara aktif:
Tanya → pahami → periksa → kembangkan → tulis dengan pemikiran sendiri.
Membandingkan penjelasan AI dengan buku atau jurnal, lalu memverifikas keakuratannya.
Tantangan untuk Kampus dan Mahasiswa
Tanggung jawab ini tidak hanya dibebankan kepada mahasiswa. Perguruan tinggi memiliki peran dalam memberikan literasi dan aturan yang jelas. Survei UNESCO (2025) mencatat bahwa hampir dua pertiga institusi pendidikan tinggi sudah memiliki atau sedang mengembangkan panduan penggunaan AI. Kampus perlu memperjelas kapan AI diperbolehkan dan jenis tugas apa yang mengukur kemampuan berpikir mandiri.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan adalah membantu mahasiswa menjadi manusia yang mampu berpikir dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. AI boleh semakin pintar, tetapi mahasiswa jangan sampai berhenti berpikir.
Penulis: Petronela Kyarit Bolis Wafom, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris







