Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa Thailand Kenali Budaya Banyuwangi lewat Kuliner 

Mahasiswa Inbound Thailand Menikmati Pecel Pitik di Desa Kemiren(Sumber: Lukman)
Mahasiswa Inbound Thailand Menikmati Pecel Pitik di Desa Kemiren(Sumber: Lukman)

UNAIR NEWS – Antusiasme empat mahasiswa asal Negeri Gajah Putih, Thailand, terlihat saat mengeksplorasi kekayaan budaya Banyuwangi. Mereka tengah mengikuti Student Inbound di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR pada Senin (26/2/2024) hingga Kamis (29/2/2024). Keempatnya merupakan mahasiswa Program Studi Southeast Asian Studies, Faculty of Social Sciences, Kasetsart University Thailand.

Tim kemahasiswaan FIKKIA UNAIR Banyuwangi Lukman Dwi Febrianto SPd mengajak keempat mahasiswa menikmati kuliner khas Banyuwangi di Kawasan Osing, yakni Desa Kemiren. Desa itu menjadi tempat yang sangat cocok bagi mereka untuk mengenal budaya Osing, suku asli Banyuwangi.

Di sebuah pawon, bahasa Jawa dapur, mereka menyantap pecel pitik sembari berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Bahkan mempelajari bahasa khas suku osing.

“Sebagai mahasiswa yang mempelajari cultural studies, mereka sangat tertarik dengan bersosial di Desa Kemiren. Bahkan mereka sangat tahu dan menikmati pecel pitik hingga kelapa parutnya habis,” katanya.

Belajar Antropologi Makanan (Sumber: Lukman)

Makanan khas daerah ternyata memberikan corak budaya dalam kehidupan sosial masyarakat. Lewat paparan salah seorang Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKKIA Susy Katikana Sebayang SP MSc PhD, mahasiswa Thailand turut mengenal kajian antropologi gizi yang berkembang di masyarakat. Dari sebuah kebiasaan pangan menciptakan pola perilaku masyarakat yang berbeda beda. Makanan dapat menjadi komunikasi yang mengekspresikan suatu hal. 

“Misalnya, ada acara minum teh sore di Inggris. Secara lokal, masyarakat perdesaan memberikan thanksgiving dalam bentuk slametan. Jika masyarakat perkotaan biasanya berbentuk makan malam bersama. Bentuknya hampir sama, tapi penyebutannya berbeda,” ujarnya. 

Pada hari berikutnya, keempat mahasiswa diperkenalkan biodiversitas alam dengan mendaki Gunung Ijen, menjelajah Pulau Tabuhan, berkunjung ke Museum Blambangan, dan menapaki jejak sejarah retro di Boom Marina. Lewat pengenalan budaya dan sejarah Bumi Blambangan, mereka dapat bertukar cerita antara perbedaan Thailand dan Indonesia yang masih melekat kuat dalam sendi kehidupan bermasyarakat.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Editor: Feri Fenoria

Baca juga:

Mahasiswa Kedokteran Hewan FIKKIA Bagikan Pengalaman Magang Mandiri di Keswan Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi

Sandang Wisudawan Terkontributif, Bupati Banyuwangi Lulus dari FISIP UNAIR