UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) gagas inovasi robotika sebagai alat pendeteksi masalah stunting. Kendali Stunting Anak Terintegrasi Robotika (KSATRIA) menjadi prototipe baru yang diciptakan Kaysan Najib Murtaza dengan mengembangkan teknologi kesehatan.
Gagasan Baru Deteksi Stunting
Kaysan mengatakan bahwa perjalanan KSATRIA ia gagas sejak masih berada di bangku SMA. Keresahan dimulai ketika Kaysan melihat persoalan stunting banyak terkendala dalam besaran biaya untuk melakukan pengukuran kondisi gizi. Dari keresahan itu muncul gagasan membuat alat deteksi dengan biaya terjangkau dan mulai serius dikembangkan pada tahun 2024.
“Makanya aku bikin robot itu dan fun fact robotnya hanya senilai Rp500.000 aja. Itu bisa buat deteksi dini stunting untuk satu Posyandu yang mana itu lebih dari 40 anak kecil,” ujarnya.
Pada dasarnya, KSATRIA menggunakan sistem arduino dan ultrasonik untuk mendeteksi tinggi dan berat badan. Selanjutnya data yang sudah didapat akan dikalkulasikan menggunakan rumus Basal Metabolic Rate (BMR) dengan koding dan nantinya mampu memberikan rekomendasi makanan berdasarkan kondisi gizi seseorang.
“Lalu di situ juga ada terkait modul edukasinya, terkait stunting itu apa, gimana cara kita menjaga gizi seimbang. Jadi memang ada kayak modul bukunya gitu,” tambah mahasiswa gizi itu.
Lolos Uji Prototipe dan Raih Hak Cipta
Kaysan mengatakan bahwa alat KSATRIA telah resmi memperoleh hak cipta produk dari Kementerian Hukum Republik Indonesia pada 6 Maret 2026. Sebelumnya, alat ini telah uji coba di dua tingkatan. Di tingkat kota alat ini diuji oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Batang serta Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah. Setelah melalui dua tingkat pengujian, KSATRIA masuk ke tahap uji tingkat nasional.
“Terkait pemanfaatan, sudah ada di dua kota di Jawa Tengah, ada di Kota Surakarta dan Kabupaten Batang dengan setiap kotanya sendiri sudah ada dua hingga tiga unit. Kalau dihitung per alat nya, setiap satu bulan bisa dipakai 10 anak. jadi, kurang lebih 50 anak setiap bulan memanfaatkannya,” paparnya.
Menurutnya, keberhasilan itu tidak lepas dari kerja keras dan dukungan penuh dari berbagai pihak. Kaysan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada dosen pengajar yang mampu membersamai dalam membimbing bidang keilmuan hingga pendampingan keberlanjutan alat deteksi.
“Maka dari itu saya memberanikan diri untuk konsultasi dan koordinasi langsung sama dosen-dosen di FKM UNAIR, seperti Pak Mahmud, Prof Mamik, dan Prof Annis. Beliau-beliau ini yang membimbing aku dari sisi keilmuan kesehatannya, agar robot yang aku ciptakan itu valid secara medis dan tidak hanya sekadar canggih di atas kertas,” tambahnya.
Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia





