Mahasiswa FEB UNAIR meraih Juara III Ejavec (21/10/2026)

Mahasiswa UNAIR Ungkap Dampak Educational Mismatch terhadap Pendapatan Pekerja di Jawa Timur

131 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Memiliki pendidikan tinggi tidak selalu menjamin seseorang memperoleh pekerjaan dan pendapatan sesuai kualifikasinya. Persoalan educational mismatch dengan pekerjaan tersebut menjadi fokus penelitian tiga mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR). Melalui karya yang berjudul “Determinants of Labor Earnings under Educational Mismatch for Human Capital Optimization in East Java”, tim berhasil meraih Juara III Ejavec (21/10/2026). 

Tim terdiri atas Frisca Kusumawati sebagai ketua, bersama Dinnaya Mahashofia, dan Lingghia Putri Atma Negara. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur bersama FEB UNAIR dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi Jawa Timur Koordinator Surabaya tersebut berlangsung di Vasa Hotel Surabaya.

Frisca menjelaskan, tim menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2023 yang mencakup 3.671 pekerja. Mereka mengolah data melalui empat metode statistik, yakni OLS, dekomposisi Oaxaca-Blinder, regresi Probit, dan regresi kuantil, di bawah bimbingan dosen pembimbing.

“Kami menyadari bahwa angka pengangguran saja belum cukup. Perlu dilihat juga apakah para pekerja memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya,” ujarnya.

Hasil analisis menunjukkan sekitar 60 persen pekerja dalam data penelitian mengalami overeducation, yaitu kondisi ketika tingkat pendidikan pekerja melampaui persyaratan pekerjaannya. Kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan pendapatan per jam sekitar 9 persen. Tim juga menemukan kesenjangan pendapatan perempuan dan laki-laki sekitar 23 persen.

Temuan tersebut mendorong tim melihat ketenagakerjaan secara lebih luas. Termasuk kesesuaian kompetensi dan pemerataan kesempatan ekonomi bagi pekerja.

Berdasarkan penemuan, tim merumuskan tiga rekomendasi kebijakan. Yakni menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri melalui magang dan sertifikasi kompetensi, memperkuat sistem informasi pasar kerja, serta mendorong upaya pengurangan kesenjangan pendapatan gender.

Frisca menambahkan, pelibatan pemerintah daerah dan perusahaan penting untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja. “Upaya ini juga perlu membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi perempuan. Terutama dalam memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang lebih setara,” jelas Frisca.

Tim juga berencana mengembangkan penelitian melalui penggunaan data beberapa tahun dan analisis horizontal mismatch, yaitu ketidaksesuaian bidang studi dengan pekerjaan.

“Kami menyadari penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena baru menggunakan data satu tahun. Ke depan, kami ingin mengembangkan analisis agar hasilnya lebih komprehensif,” jelasnya Frisca.

Mereka berharap hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Penulis: Vaneza Ika Artamevia 

Editor: Yulia Rohmawati

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top