Fraktur radius distal adalah salah satu jenis cedera pergelangan tangan yang paling umum terjadi. Di Indonesia tercatat prevalensi fraktur sebesar 5,5% dan fraktur antebrachii lebih banyak terjadi pada anak usia 10-15 tahun dan populasi geriatri. Fraktur radius distal terjadi pada 25% populasi anak-anak dan 18% populasi geriatri. Fraktur radius distal kompleks (FRDK) juga cukup umum terjadi dalam praktik kita sehari-hari. FRDK adalah cedera berenergi tinggi yang mungkin menyebabkan gangguan artikular parah, kominusi tingkat tinggi, ketidakstabilan ligamen, dan cedera neurovaskular. Komplikasi neurologis jarang disertai dengan fraktur radius distal, namun cedera saraf median telah dilaporkan pada 5% hingga 7% kasus fraktur ini. Penyebab disfungsi saraf median akut atau subakut lebih sering terjadi karena hematoma, pergeseran fraktur, pembengkakan, dan posisi pergelangan tangan.
Ada banyak teknik bedah untuk menangani fraktur ini, termasuk pinning perkutan, fiksasi eksternal, dan fiksasi pelat. Tujuan dari operasi adalah reduksi anatomi radius distal, penempatan konstruksi yang stabil untuk memungkinkan penyembuhan patah tulang, dan pemulihan kinematika pergelangan tangan normal. Dorsal Bridge Plate Fixation (DBPF) adalah pilihan bedah alternatif terbaik untuk menangani fraktur radius distal energi tinggi. Saat pelat melintasi sendi radio-karpal, ligamenotaksis membantu mendapatkan dan mempertahankan reduksi sekaligus menurunkan beban permukaan sendi. Kemungkinan rekonstruksi di masa depan dapat dilakukan karena tidak merusak jaringan lunak pada bagian volar. Selain itu, pelat ini sebagian besar memiliki kontak minimal dengan tendon otot ekstensor digital karena ditempatkan di kompartemen dorsal kedua,
Pada laporan kasus ini, seorang laki-laki usia 67 tahun datang ke rumah sakit setelah jatuh menumpu badan karena tangga yang licin. Pasien mengeluhkan nyeri pada pergelangan tangan kanan dan disertai kebas pada semua jari tangan kecuali jari kelingking pada tangan kanan. Pasien menggunakan tangan kanan sebagai tangan dominan dalam kegiatan sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hal yang penting adanya volar skin tenting pada pergelangan tangan kanan yang menunjukkan potensi cedera syaraf. Pada pemeriksaan pinprick dan sentuhan ringanditemukan hipoestesia pada semua jari kecuali jari kelingking. Pada pemeriksaan radiologi X-ray lengan bawah kanan posisi PA/lateral ditemukan fraktur kominutif distal radius dengan pergeseran fraktur signifikan ke arah dorsal. Pada kasus ini dilakukan operasi dengan anestesi umum yang dilanjutkan dengan reduksi tertutup menggunakan image intensifier. Setelah itu dilanjutkan dengan DBPF melalui mini-open dorsal approach, hal ini memungkinkan terjadinya reduksi fraktur secara ligamentotaxis. Eksprolasi saraf medianus tidak perlu dilakukan karena dekompresi saraf terjadi secara simultan. Distraksi dapat dievaluasi dengan mengamati pelebaran sendi radio-karpal. Ulnar variant yang netral harus dicapai karena hal ini dapat mencegah impaksi dari sendi ulnokarpal dan sendi distal radioulnar yang tidak kongruen. Penilaian radiografi menunjukkan bahwa distraksi dengan menggunakan ligamenotaksis dapat dicapai secara efektif pada parameter yang hampir normal. Hasilnya adalah inklinasi radial 26o, panjang radial 12 mm, varian ulnaris netral, dan kemiringan volar 0o. Perawatan pasca operasi termasuk latihan ROM aktif-progresif dan bantuan aktif yang memungkinkan fleksi dan ekstensi semua jari dan rotasi pergelangan tangan selama rasa sakit dapat ditoleransi. Fleksi dorsal dan palmar pergelangan tangan dibatasi. Evaluasi tindak lanjut pasca operasi dilakukan dengan stimulasi listrik neuromuskular (NMES) 2 minggu setelah operasi. Enam bulan setelah operasi, pasien tidak merasakan nyeri atau bengkak di pergelangan tangan kanannya dan dirawat di rumah sakit untuk operasi pelepasan implan. Pada 1 tahun pasca operasi, pemeriksaan klinis ROM aktif sendi radiokarpal/pergelangan tangan kanan menghasilkan supinasi 90o, pronasi 63o, fleksi dorsal 53o, dan fleksi palmar 55o. Meski terdapat beberapa pembatasan pada fleksi dan ekstensi pergelangan tangan kanan, pasien tetap dapat melakukan aktivitas rutin sehari-hari. Fungsi saraf median, gerakan oposisi ibu jari, menunjukkan pemulihan penuh. Keterbatasan komplikasi pergerakan sendi pergelangan tangan dapat diprediksi karena ketidakstabilan sendi radiokarpal dan radioulnar. Hasil DASH Score adalah skor 5,8 poin.
Penulis: Dr. Heri Suroto, dr., Sp.OT (K)
Dep. Orthopaedi dan Traumatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Judul Jurnal: Complex Distal Radius Fracture with Median Nerve Injury Management Using One-Stage Distraction Bridge Plate Fixation without Nerve Exploration Allows Nerve Function Recovery: A Case Report
Authors: Benedictus Anindita Satmoko, Heri Suroto
Dipublikasikan di: Bali Medical Journal
Link: https://doi.org/10.15562/bmj.v11i3.3680





