Universitas Airlangga Official Website

Manajemen Transfusion Related Acute Lung Injury pada Penderita dengan Perdarahan Post-partum

Foto by Kompas com

Transfusi darah merupakan kegiatan sehari – hari yang dilakukan dalam perawatan di rumah sakit, terutama pada perawatan penderita di ruang observasi intensif. Seringkali transfusi membawa komplikasi yang dapat berakibat fatal bagi mereka yang mengalaminya. Salah satu komplikasi yang berbahaya adalah TRALI (Transfussion Related Acute Lung Injury), yang seringkali tidak terlaporkan dan bahkan tidak terdiagnosa. Insidensi TRALI diperkirakan terjadi pada 15% penderita yang mendapatkan transfusi, meskipun ada penelitian lain menyebutkan perkiraan insidensi TRALI sekitar 0,1% pada penderita yang mendapatkan transfusi, tetapi mengalami peningkatan 5-8% pada kelompok penderita yang dirawat di ICU (Intensive Care Unit).

Laporan kasus berikut ini adalah mengenai seorang wanita hamil, berusia 32 tahun, dengan usia kehamilan 30-31 minggu, dirujuk dari fasilitas kkesehatan di daerah ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya karena mengalami perdarahan pervaginam secara aktif. Wanita ini juga didiagnosa dengan plasenta akreta dan oligohidramnion berat. Dari anamnesa, tidak didapatkan adanya riwayat hipertensi dan diabetes melitus. Hasil evaluasi saat pertama kali tiba di unit gawat darurat RSUD dr. Soetomo, didapatkan kondisi stabil, sehingga diputuskan untuk melakukan terapi konservatif di bangsal obstetri, dengan menambahkan deksametason 2,6 mg i.v untuk pematangan paru janin. Adapun untuk terminasi diacarakan sectio caesarea (SC) secara elektif. Hanya saja dalam masa observasi  kembali terjadi perdarahan pervaginam sehingga diputuskan untuk melakukan SC secara emergency. Operasi berlangsung selama 4 jam dan dilakukan histerektomi pada penderita. Perkiraan darah yang hilang selama operasi 4.200 mL, sekitar 93% dari estimated blood volume (EBV). Sebagai gantinya pasien mendapatkan transfusi 5 kantung whole blood (WB), 1000 mL gelofusin, serta 3500 mL cairan kristaloid RL dan normal salin. Tidak didapatkan adanya reaksi transfusi selama operasi.

Pasca operasi didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 6,8 mg/dL. Untuk itu penderita diberikan transfusi PRC sebagai upaya meningkatkan kadar Hb. Beberapa saat setelah transfusi dimulai, penderita tiba – tiba mengalami distres nafas dengan frekuensi nafas meningkat  
hingga 30-36 x/menit. Penderita segera  diberikan bantuan oksigen melalui NRM sebesar 10 lpm. Saturasi oksigen terbaca 86%. Tekanan darah 88/40 mmHg dan nadi 126 x/menit. Transfusi segera dihentikan. Dilakukan pemberian cairan kristaloid, pasien diintubasi, dan dilakukan pemasangan nasogastric tube (NGT). Penderita mendapatkan support ventilator  mode pressure control dengan pengaturan sebagai berikut: pressure control 18 cm H2O, PEEP 8 cm H2O, FiO2 60%, dan frekuensi nafas  20 x/menit. Terdapat perbaikan pada tanda – tanda vital sebagai berikut: tekanan darah meningkat menjadi 115/62 mmHg, nadi turun menjadi 112 x/menit, perfusi teraba hangat dan CRT kurang dari 2 detik. Diberikan juga terapi norepinefrin 100 ng/jam melalui syring pump. Metilprednisolon dengan dosis 125 mg diberikan, dan juga analgetik. Penderita juga mendapatkan pemeriksaan tambahan foto-toraks. Keesokan harinya, kadar hemoglobin turun lagi menjadi 6,1 mg/dL. Untuk mengatasi ini, penderita dilakukan transfusi dengan menggunakan PRC leukodepleted sebanyak 2 kantung. Transfusi berlangsung aman dan kadar hemoglobin menjadi 8,8 mg/dL. Selain itu, karena kadar trombosit yang semula sejumlah 51.000/µL menjadi turun hingga 19.000/µL, maka penderita juga mendapat transfusi konsentrat trombosit dengan dosis 10 mL/kgBB. Hasil pemeriksaan trombosit pasca transfusi naik menjadi 72.000/µL. Foto toraks dilakukan secara serial sebagai sarana evaluasi TRALI. Penderita akhirnya dapat dilakukan ekstubasi pada hari perawatan ke-5.

Diagnosa TRALI ditegakkan setelah menyingkirkan semua penyebab acute lung injury (ALI) yang lain. TRALI ditegakkan berdasarkan kondisi klinis, dan diperkuat dengan adanya pemeriksaan foto toraks yang menunjukkan terjadinya ALI atau ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) yang muncul selama transfusi atau dalam waktu 6 jam setelah transfusi dilakukan. Penderita ini memenuhi kriteria tersebut, dimana distres nafas terjadi pada saat transfusi baru saja diberikan di ruang observasi intensif. Tidak ditemukan tanda – tanda overload cairan durante operasi. Sebuah studi yang dilakukan secara kohort mendapatkan risiko reaksi transfusi pada penderita post partum meningkat dua kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Didapatkan juga bahwa penderita yang telah menerima 3 kantung atau lebih PRC mempunyai risiko lebih besar untuk terjadinya TRALI. Pada penderita ini, edema paru terjadi karena penderita mendapatkan transfusi. Meskipun pemberian kortikosteroid pada penderita dengan TRALI masih kontroversi, tetapi pada penderita ini diputuskan untuk tetap mendapatkan metilprednisolon sebagai penanganan TRALI.

Penulis: Maulydia, dr., SpAn., KIC

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.bjoaonline.com/article.asp?issn=2549-2276;year=2022;volume=6;issue=2;spage=119;epage=122;aulast=Maulydia;type=0

Maulydia M, Airlangga PS, Siregar MIT, Hendriana DR. Transfusion-related acute lung injury (TRALI) in post-partum bleeding patient: A case report. Bali Journal of Anesthesiology. 2022; 6: 119-122; https://doi.org/10.4103/bjoa.bjoa_7_22.