Sapi Bali merupakan salah satu jenis ternak lokal Indonesia yang memiliki potensi besar dalam sektor peternakan. Kualitas adaptasi yang baik dan performa reproduksi yang tinggi menjadikan sapi Bali sebagai sumber daya ternak yang strategis. Namun, terdapat beberapa tantangan dalam peningkatan populasi sapi Bali, salah satunya adalah kualitas semen yang tidak selalu optimal. Untuk mengatasi tantangan ini, teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan (IB) digunakan untuk meningkatkan populasi sapi Bali, yang sangat bergantung pada kualitas semen beku yang digunakan.
Penelitian terbaru dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Banyuwangi, yang dipublikasikan di Open Veterinary Journal pada Agustus 2024, mengungkapkan solusi inovatif untuk masalah ini. Penelitian yang dilakukan oleh Ragil Angga Prastiya dan timnya berfokus pada penggunaan ekstrak teh hijau, khususnya senyawa antioksidan yang disebut Epigallocatechin-3-gallate (EGCG), untuk meningkatkan kualitas semen sapi Bali yang dibekukan.
Semen beku adalah semen yang disimpan pada suhu sangat rendah (sekitar -196°C) untuk digunakan dalam inseminasi buatan. Teknik ini memungkinkan penyimpanan semen dalam jangka waktu yang lama dan dapat digunakan kapan saja. Namun, proses pembekuan sering kali menyebabkan kerusakan pada sperma karena stres oksidatif. Kerusakan ini mempengaruhi motilitas (gerakan) sperma, viabilitas (kemampuan hidup), serta morfologi (bentuk dan struktur) sperma, yang semuanya sangat penting dalam menentukan kesuksesan reproduksi. Untuk mengatasi kerusakan sperma akibat pembekuan, penelitian ini menambahkan senyawa antioksidan EGCG ke dalam pengencer semen yang digunakan untuk membekukan sperma sapi Bali. EGCG adalah salah satu senyawa dalam teh hijau yang dikenal memiliki sifat antioksidan yang sangat kuat. Antioksidan ini berfungsi untuk melindungi sperma dari kerusakan akibat radikal bebas yang terbentuk selama proses pembekuan dan pencairan. Penelitian ini menggunakan beberapa dosis EGCG yang berbeda, yaitu 0,1 mg, 0,15 mg, dan 0,2 mg per 100 ml pengencer. Hasilnya, penambahan EGCG pada dosis tertentu mampu meningkatkan kualitas semen beku dengan menjaga motilitas, viabilitas, dan morfologi sperma sapi Bali setelah proses pembekuan.
Penelitian menunjukkan bahwa penambahan EGCG pada dosis 0,1 mg/100 ml menghasilkan kualitas sperma yang paling optimal. Pada dosis ini, motilitas sperma tetap tinggi, dan tidak ada penurunan yang signifikan pada parameter kualitas sperma lainnya, seperti viabilitas dan abnormalitas morfologi. Hal ini menunjukkan bahwa dosis EGCG yang tepat dapat menjaga kualitas sperma selama proses pembekuan, tanpa menyebabkan kerusakan tambahan pada sperma. Namun, penambahan EGCG pada dosis yang lebih tinggi, seperti 0,2 mg/100 ml, justru menyebabkan penurunan motilitas sperma. Ini menunjukkan bahwa meskipun EGCG memiliki efek antioksidan yang kuat, dosis yang berlebihan dapat memberikan efek sebaliknya pada sperma.
Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi industri peternakan, terutama dalam penggunaan inseminasi buatan pada sapi Bali. Dengan menambahkan antioksidan EGCG ke dalam pengencer semen, kualitas semen beku dapat ditingkatkan, sehingga peluang keberhasilan reproduksi melalui inseminasi buatan juga meningkat. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan populasi sapi Bali secara nasional dan mendukung ketahanan pangan Indonesia. Selain itu, penggunaan senyawa alami seperti EGCG yang berasal dari teh hijau juga merupakan solusi yang ramah lingkungan dan lebih aman dibandingkan dengan penggunaan bahan kimia sintetis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan EGCG pada pengencer semen sapi Bali dapat meningkatkan kualitas semen beku, terutama dalam hal motilitas dan viabilitas sperma. Namun, perlu diperhatikan dosis yang digunakan agar efek positif dari antioksidan ini dapat dimaksimalkan. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan teknologi reproduksi sapi Bali dapat semakin maju dan mendukung pertumbuhan populasi sapi Bali di Indonesia.
Penulis : Ragil Angga Prastiya, Trilas Sardjito, Amung Logam Saputro, Darmawan Setia Budi, Styuderil Imaniro Maxdhameta, Elis Sulistiyawati, Deny Sulistyowati, Anny Amaliya, Samira Musa Sasi, dan Nining Haryuni
Link: http://dx.doi.org/10.5455/OVJ.2024.v14.i8.33
Baca juga: Kulit Cacao dan Teh Hijau Untuk Mengurangi Malondialdehid





