Universitas Airlangga Official Website

Manfaat Pravastatin dalam Pencegahan Preeklamsia

pravastatin
Ilustrasi pravastatin (sumber: alodokter)

Preeklamsia atau keracunan kehamilan dapat mengenai sekitar 2-8% wanita hamil dan merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu dan janin di seluruh dunia. Preeklamsia dapat menyebabkan hampir 70.000 kematian ibu dan 500.000 kematian janin setiap tahunnya. Preeklamsia juga dapat menyebabkan masalah pada ibu. Seperti eklampsia, perdarahan otak, gagal ginjal berat, edema paru, dan sindroma HELLP (pemecahan sel darah merah, kadar enzim hati yang tinggi, dan trombosit yang rendah). Pencegahan preeklamsia adalah strategi yang paling efektif untuk mengurangi angka kematian dan morbiditas ibu dan janin. Aspirin dianggap sebagai obat utama untuk mencegah preeklamsia.

Namun, berbagai tinjauan sistematik dan meta-analisis terbaru menyoroti beberapa keterbatasan dalam kemanjuran aspirin dalam mencegah preeklamsia. Meskipun aspirin dosis rendah hampir mengurangi separuh angka kejadian preeklamsia dini, namun aspirin tidak ‘membasmi’ penyakit ini, dan tidak mempengaruhi preeklamsia aterm. Selain itu, aspirin dosis rendah perlu dimulai sebelum 16 minggu. Untuk meningkatkan efektivitas aspirin dalam mencegah preeklamsia, para peneliti mulai menyelidiki obat lain, di antaranya statin.

Statin adalah golongan obat penurun kolesterol yang berguna untuk mengobati hiperkolesterolemia. Food and Drug Administration (FDA) sebelumnya mengklasifikasikan statin sebagai kategori X, yang berarti obat ini dikontraindikasikan selama kehamilan. Namun, penelitian pada hewan dan manusia hingga saat ini belum menunjukkan peningkatan risiko cacat bawaan atau kelainan bawaan akibat paparan statin dalam rahim. Argumen penggunaan statin untuk pencegahan preeklampsia didasarkan pada penelitian pada hewan yang menunjukkan bahwa pravastatin memiliki efek perlindungan pada uterus, plasenta, dan sel endotel pembuluh darah.

Pravastatin mempunyai efek yang mungkin bermanfaat dalam mencegah preeklamsia. Termasuk sifat pengendalian sistem imun dan anti radang, serta dapat menurunkan produksi radikal bebas dan proliferasi sel otot polos pembuluh darah. Tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap hasil kehamilan pada trimester pertama setelah paparan statin pada trimester pertama menunjukkan hasil yang aman dari risiko kecacatan janin. Sehingga pada tanggal 20 Juli 2021 FDA meminta penghapusan peringatan terhadap penggunaan statin selama kehamilan.

Di antara kelompok statin, pravastatin telah diteliti lebih luas dibandingkan statin lainnya karena profil keamanannya terhadap kehamilan. Dibandingkan dengan statin lainnya, pravastatin cenderung paling tidak berbahaya bagi perkembangan janin karena aktivitas hidrofiliknya, penetrasi jaringan yang minimal, dan kurangnya efek toksik pada reproduksi pada penelitian pada hewan. Pada model tikus, pravastatin yang diberikan selama kehamilan dapat mencegah disfungsi endotel, hipertensi, cedera ginjal, dan komplikasi kardiovaskular pada ibu dan anak.

Pada manusia, penelitian pertama yang menunjukkan bahwa pravastatin bermanfaat dalam mencegah preeklamsia dilaporkan pada wanita dengan sindroma antifosfolipid (APS). Temuan awal ini menunjukkan bahwa pravastatin mungkin berperan dalam mencegah preeklamsia. Meskipun demikian, penelitian mengenai manfaat pravastatin terhadap pencegahan preeklamsia pada manusia tergolong masih langka. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian dengan desain tinjauan sistematik dan meta analisis untuk mengetahui peran pravastatin dalam pencegahan preeklamsia.

Dari hasil pencarian dan seleksi literatur uji klinis acak terkontrol, kami mendapatkan sebanyak empat studi yang meneliti manfaat penggunaan pravastatin untuk pencegahan preeklamsia. Analisis kami menunjukkan bahwa pemberian pravastatin dapat menurunkan risiko preeklamsia sebanyak 51%, kecuali pada preeklamsia derajat berat. Selain itu, pravastatin juga dapat menurunkan risiko kelahiran prematur sebanyak 31%. Akan tetapi, pravastatin tidak dapat menurunkan risiko berat badan bayi lahir rendah. Secara umum, pemberian pravastatin bermanfaat bagi ibu hamil dengan risiko preeklamsia. Pada umumnya, dosis pravastatin yang digunakan sebesar 20 mg/dL, dengan pemberian optimal dari akhir trimester pertama hingga saat melahirkan. Pravastatin juga terbukti dapat menurunkan kejadian preeklampsia prematur secara signifikan.

Preeklampsia prematur mempunyai konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang yang lebih parah bagi ibu dan bayi. Preeklamsia prematur atau awitan dini dikaitkan dengan peningkatan risiko keterbatasan pertumbuhan janin, kematian dan morbiditas perinatal, patologi plasenta, kelainan arteri uterina dan arteri umbilikalis pada pemeriksaan ultrasonografi (USG), serta kematian ibu. Selain itu, preeklamsia dini menimbulkan risiko penyakit di masa depan yang lebih tinggi, terutama penyakit kardiovaskular. Kemampuan pravastatin untuk mengurangi risiko preeklamsia prematur dapat secara signifikan mengurangi risiko kematian dan morbiditas ibu dan perinatal yang disebabkan oleh penyakit ini.

Efek positif pravastatin terhadap kehamilan kemungkinan besar disebabkan oleh kemampuan meningkatkan sintesis nitrit oksid pembuluh darah, meningkatkan pembentukan faktor pertumbuhan faktor angiogenik. Peningkatan faktor angiogenik berhubungan dengan keparahan preeklamsia, luaran kehamilan yang kurang baik, serta durasi kehamilan yang lebih singkat. Statin juga terbukti memiliki kemampuan anti-radang, karena meningkatkan produksi sitokin anti-radang Th2 sekaligus menurunkan produksi sitokin peradangan Th1. Ini dibuktikan dengan berkurangnya kadar interleukin (IL)-6 serum (sitokin peradangan) pada kelompok pravastatin dibandingkan kelompok kontrol.

Anak dari wanita hamil yang diobati dengan pravastatin juga memiliki berat lahir dan skor Apgar yang lebih baik. Selain itu, anak tersebut juga memiliki risiko masuk NICU, lama rawat inap di NICU, dan sindrom gangguan pernapasan yang lebih rendah. Secara umum, pravastatin berkontribusi pada pencegahan preeklamsia, kelahiran prematur, preeklampsia prematur, dan morbiditas perinatal. Untuk mengkaji lebih lanjut efektivitas pravastatin sebagai obat pencegahan preeklamsia, perlu dilakukan lebih banyak uji klinis dengan jumlah sampel yang besar. Dosis, waktu, dan durasi pemberian pravastatin yang tepat juga harus diteliti lebih lanjut. Meskipun pravastatin tampaknya tidak menimbulkan risiko kecacatan janin, penelitian lanjutan jangka panjang juga sangat penting dilakukan sebelum penggunaan pravastatin pada ibu hamil dapat direkomendasikan secara luas.

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si.

Link artikel asli: https://jppres.com/jppres/the-role-of-pravastatin-in-preeclampsia/

Baca juga: Potensi Pravastatin sebagai Vasodilator dan Antioksidan sebagai Terapi Preeklamsia