Universitas Airlangga Official Website

Memahami Transisi dan Adaptasi Mahasiswa Minoritas di Perguruan Tinggi

Sumber : Pexels

Penelitian ini membahas tentang proses transformasi adaptasi yang dialami oleh mahasiswa dari kelompok minoritas, khususnya yang berasal dari kawasan Indonesia Timur, dalam masa transisi ke perguruan tinggi pada tahun pertama studi mereka. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, melibatkan 60 mahasiswa minoritas dari berbagai program studi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dari kelompok minoritas menghadapi berbagai tantangan, baik dari aspek akademik maupun sosial, dalam proses penyesuaian diri mereka. Proses adaptasi yang dilakukan oleh mahasiswa minoritas bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor internal seperti rasa bangga terhadap identitas diri dan aspirasi pribadi berperan penting dalam perkembangan psikologis serta keberhasilan akademik mahasiswa.

Sementara itu, dukungan eksternal yang berasal dari orang tua, teman sebaya, serta lingkungan kampus sangat berkontribusi dalam menciptakan rasa aman dan inklusif yang dibutuhkan dalam proses adaptasi.

Sinergi antara faktor internal dan eksternal tersebut membentuk perjalanan adaptasi yang bermakna. Hal ini memungkinkan mahasiswa minoritas untuk mengatasi berbagai kesulitan dan tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri serta siap menghadapi tantangan di masa depan. Apa yang kemudian dapat dilakukan oleh perguruan tinggi dalam menindaklanjuti temuan riset ini?

Untuk memperkuat dukungan terhadap mahasiswa dari kelompok minoritas dan meningkatkan pengalaman belajar mereka, perguruan tinggi dapat mempertimbangkan langkah-langkah berikut:

  1. Mengembangkan sistem pendampingan mahasiswa baru. Perguruan tinggi dapat mengembangkan program orientasi dan pendampingan khusus yang sensitif terhadap latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman mahasiswa minoritas dapat membantu mereka merasa lebih diterima dan siap menjalani kehidupan kampus.
  2. Mengembangkan komunitas inklusif. Fasilitasi terbentuknya komunitas atau organisasi kemahasiswaan yang dapat menjadi ruang aman bagi mahasiswa minoritas untuk berbagi pengalaman, mengembangkan potensi, dan membangun jaringan sosial.
  3. Pelatihan kepekaan budaya bagi dosen dan staf kampus. Menyelenggarakan pelatihan rutin tentang keanekaragaman budaya dan inklusivitas akan membantu menciptakan interaksi yang lebih empatik dan mendukung di lingkungan akademik.
  4. Menyediakan layanan konseling yang responsif secara budaya. Layanan konseling dan dukungan psikologis perlu dirancang agar mampu memahami dan menangani dinamika khusus yang dihadapi oleh mahasiswa minoritas, termasuk pengalaman diskriminasi atau keterasingan.
  5. Pemantauan dan evaluasi berkelanjutan. Pemantauan dan evaluasi rutin terhadap pengalaman belajar mahasiswa dari berbagai latar belakang penting dilakukan untuk mengidentifikasi kendala yang muncul dan merancang kebijakan berbasis data yang lebih inklusif dan responsif.

Dengan mengambil langkah-langkah ini, perguruan tinggi dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih adil dan mendukung, sekaligus mendorong keberhasilan akademik dan sosial mahasiswa dari kelompok minoritas.

Penulis : Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si.

Jurnal dapat diakses pada https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/09518398.2025.2452629