Sebagian besar infeksi Blastocystis hominis bersifat asimtomatik, dan bila menimbulkan gejala biasanya berupa ketidaknyamanan perut dan diare. Meskipun eosinofilia dan peningkatan imunoglobulin E (hiper-IgE) merupakan manifestasi yang jarang, memar spontan belum pernah dilaporkan sebelumnya pada penyakit ini.
Kami melaporkan seorang anak laki-laki berusia 7 tahun 9 bulan yang awalnya dicurigai menderita leukemia, hematoma multipel, serta kelainan pembekuan darah. Walaupun telah mendapat perawatan dari beberapa dokter umum, kondisinya tidak kunjung membaik. Pasien mengalami memar berulang yang timbul spontan, berpindah dari lengan ke tungkai. Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah leukosit 27.390/mm³, eosinofil 76,4% (20.920/µL), dan kadar imunoglobulin-E (IgE) total 2.065 IU/mL. Aspirasi sumsum tulang menunjukkan hasil normal, sedangkan pemeriksaan mikroskopis tinja menemukan Blastocystis hominis. Pasien kemudian diberikan metronidazol 300 mg dua kali sehari. Dua minggu setelah terapi, kondisinya membaik secara signifikan, memar berkurang baik intensitas maupun frekuensinya. Pemeriksaan darah ulang menunjukkan jumlah leukosit 5.100/mm³ dan eosinofil 13% (663/µL).
Menurut penelitian sebelumnya, peningkatan produksi IgE berhubungan dengan aktivasi IL-4 dan IL-13 yang terlibat dalam infeksi Blastocystis hominis dengan gejala ekstraintestinal. Sementara itu, eosinofilia dan memar berulang saling berkaitan, di mana parasit dapat merangsang eosinofil untuk menghasilkan antibodi dan kompleks imun yang dapat memengaruhi fungsi trombosit. Protein kationik eosinofil, yang terdapat pada granula eosinofil, diketahui dapat menekan agregasi trombosit. Walaupun diagnosis Blastocystis hominis menantang karena gejalanya yang tidak khas, terapi yang direkomendasikan pada anak adalah metronidazol 15 mg/kg dua kali sehari selama 10 hari berturut-turut.
Sebagai kesimpulan, meskipun penyakit ini umumnya menimbulkan gejala saluran cerna atau bersifat asimtomatik, kasus ini menampilkan gejala ekstraintestinal yang menyebabkan salah diagnosis pada awalnya. Oleh karena itu, anak dengan keluhan memar, peningkatan jumlah eosinofil, dan hiper-IgE perlu dipertimbangkan kemungkinan diagnosis diferensial berupa infeksi Blastocystis hominis.
Disarikan dari: Monica, L.I., Kartina, L., Puspitasari, D. et al. Recurrent Bruising, Eosinophilia, and Hyperimmunoglobulin-E in a Child with Blastocystis hominis Infection. Indian J Pediatr 92, 893 (2025).https://doi.org/10.1007/s12098-025-05622-7
Penulis: Dwiyanti Puspitasari, dr., Sp.A.DTM & H.MCTM(Trop. Ped).





