Universitas Airlangga Official Website

Mengapa Masih Banyak Tenaga Kesehatan Perempuan yang Belum Tes Pap Smear?

Ilustrasi Dokter menjelaskan Pap Smear (Sumber : Freepik)

Kanker serviks masih menjadi momok bagi perempuan di Indonesia. Meskipun sudah ada program nasional dan anjuran rutin untuk skrining melalui Pap smear, kenyataannya angka partisipasi masih sangat rendah, bahkan di kalangan tenaga kesehatan perempuan yang notabene memiliki pengetahuan medis.

Padahal, Pap smear adalah metode deteksi dini yang terbukti efektif: sensitivitasnya mencapai 55–80% dan spesifisitas sekitar 98%. Tes ini disarankan untuk dilakukan setiap tiga tahun bagi perempuan usia 21 tahun ke atas yang aktif secara seksual. Namun, mengapa justru para tenaga kesehatan yang sering memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat masih ragu atau bahkan tidak melakukan tes ini?

Penelitian oleh Pradanie dan rekan-rekannya bertujuan untuk mencari tahu faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku tes Pap smear di kalangan tenaga kesehatan perempuan di Surabaya. Mereka menggunakan pendekatan teori psikologi kesehatan yang disebut Health Belief Model (HBM), sebuah kerangka untuk memahami perilaku kesehatan seseorang berdasarkan persepsinya terhadap risiko, manfaat, hambatan, dan dorongan untuk bertindak.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui survei di 12 Puskesmas di Surabaya. Responden adalah 125 tenaga kesehatan perempuan yang memenuhi kriteria (sudah menikah, belum pernah terkena kanker serviks, dan tidak menjalani histerektomi).

Mereka diminta menjawab kuesioner yang menilai enam aspek utama dari Health Belief Model:

  1. Perceived susceptibility (persepsi terhadap kerentanan diri)
  2. Perceived seriousness (keseriusan penyakit)
  3. Perceived benefits (manfaat Pap smear)
  4. Perceived barriers (hambatan melakukan Pap smear)
  5. Cues to action (dorongan dari dalam atau lingkungan)
  6. Self-efficacy (keyakinan diri untuk bertindak)

Dari total responden, 63,2% pernah melakukan Pap smear, sementara 36,8% belum pernah. Menariknya, meskipun sebagian besar dari mereka adalah tenaga medis dengan pendidikan tinggi, banyak yang merasa tidak rentan terkena kanker serviks (37,6%) dan tidak menganggapnya terlalu serius (46,4%).

Namun, faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan perilaku Pap smear adalah:

  • Persepsi manfaat (semakin besar manfaat yang dirasakan, semakin tinggi kemungkinan tes dilakukan).
  • Persepsi hambatan (semakin kecil hambatan, seperti rasa malu atau takut sakit, semakin tinggi kemungkinan tes dilakukan).
  • Dorongan untuk bertindak, baik dari lingkungan kerja maupun informasi kesehatan.
  • Self-efficacy, yakni rasa percaya diri bahwa mereka bisa dan mampu melakukannya.

Sedangkan persepsi terhadap risiko (susceptibility) dan keseriusan penyakit (seriousness) ternyata tidak berkorelasi signifikan dengan keputusan melakukan tes. Ini mungkin karena tenaga kesehatan merasa cukup “terlindungi” atau bisa menjaga diri berkat pengetahuan mereka.

Hasil ini memberikan gambaran yang menarik: meskipun para tenaga kesehatan tahu tentang kanker serviks dan Pap smear, pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong mereka melakukan tindakan nyata. Justru faktor yang bersifat psikologis dan praktis seperti manfaat yang dirasakan, dukungan lingkungan, dan rasa percaya diri lebih berpengaruh.

Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi yang menyentuh aspek emosional dan perilaku, bukan sekadar menambah pengetahuan. Misalnya:

  • Menyediakan Pap smear gratis di tempat kerja
  • Mengurangi hambatan waktu dan rasa malu
  • Memberikan penghargaan atau insentif simbolik
  • Menggunakan media sosial untuk membagikan testimoni rekan sejawat yang sudah melakukan tes

Penelitian ini menyimpulkan bahwa keputusan tenaga kesehatan perempuan untuk melakukan Pap smear lebih dipengaruhi oleh persepsi manfaat, hambatan, dorongan lingkungan, dan keyakinan diri. Bukan karena mereka merasa terancam atau menganggap kanker serviks berbahaya.

Untuk meningkatkan angka skrining, fokus kampanye harus diubah: dari sekadar menyampaikan “kanker serviks itu mematikan”, menjadi “Pap smear itu mudah, cepat, tidak sakit, dan bisa menyelamatkan nyawa, termasuk nyawa Anda.”

Instansi kesehatan juga bisa mengambil peran aktif, misalnya dengan:

  • Menjadikan Pap smear sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin pegawai
  • Menciptakan lingkungan yang suportif dan tidak menghakimi
  • Menggandeng tokoh-tokoh tenaga kesehatan perempuan sebagai duta Pap smear

Penulis : Retnayu Pradanie, S.Kep., Ns., M.Kep.

Jurnal dapat diakses pada https://e-journal.unair.ac.id/PMNJ/article/view/69435