Universitas Airlangga Official Website

Mengapa Program Inklusi Keuangan Justru Memperkuat Dominasi Bank Besar?

Ilustrasi Bank (Sumber: InvestBro.id)
Ilustrasi Bank (Sumber: InvestBro.id)

Pernahkah Anda membayangkan hidup tanpa akses ke bank, tanpa bisa menabung dengan aman, atau mengajukan pinjaman untuk modal usaha? Di era digital ini, kemudahan akses layanan keuangan atau yang lebih dikenal dengan istilah inklusi keuangan, digadang-gadang sebagai salah satu kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, sebuah riset internasional terbaru justru mengungkap sebuah dilema: semakin luas inklusi keuangan, semakin kuat pula cengkeraman bank-bank besar di pasar.

Inklusi Keuangan: Pedang Bermata Dua

Inklusi keuangan pada dasarnya adalah upaya untuk membuka pintu akses layanan keuangan seluas-luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari program tabungan untuk pelajar, kredit usaha rakyat (KUR) untuk UMKM, hingga layanan perbankan digital yang kini bisa diakses dari genggaman tangan. Tujuannya mulia, yaitu agar semua orang bisa berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, menabung untuk masa depan, dan mendapatkan modal untuk meningkatkan taraf hidup. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang “melek” keuangan, roda perekonomian diharapkan dapat berputar lebih kencang.

Namun, di balik tujuan mulia tersebut, ada sisi lain yang jarang terungkap. Sebuah studi yang dilakukan oleh Setianto et al. (2025) terhadap 672 bank di 73 negara selama periode 2005-2022 menunjukkan bahwa program inklusi keuangan justru memberikan keuntungan lebih besar bagi perbankan, terutama bank-bank raksasa. Alih-alih meningkatkan persaingan yang sehat antar bank, inklusi keuangan malah berpotensi membuat bank-bank besar semakin dominan. Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari inklusi keuangan?

Mengapa Bank Besar Makin Berkuasa?

Ada beberapa alasan mengapa inklusi keuangan justru memperkuat posisi bank-bank besar. Pertama, masyarakat yang baru pertama kali bersentuhan dengan layanan perbankan cenderung memilih bank yang sudah punya nama besar dan reputasi yang kokoh. Mereka merasa lebih aman dan nyaman mempercayakan uang mereka pada bank yang sudah dikenal luas. Akibatnya, bank-bank besar lebih mudah menjaring nasabah baru dari program inklusi keuangan.

Kedua, setelah menjadi nasabah di sebuah bank besar, masyarakat cenderung enggan untuk berpindah ke bank lain, bahkan jika ada tawaran yang lebih menarik. Fenomena yang disebut sebagai customer inertia atau kelembaman nasabah ini membuat bank-bank besar tidak perlu khawatir kehilangan nasabah. Nasabah yang sudah terbiasa dengan layanan dan produk dari satu bank, seringkali malas untuk beradaptasi dengan sistem baru di bank lain.

Ketiga, bank-bank besar memiliki sumber daya yang jauh lebih besar untuk berinvestasi dalam teknologi dan inovasi. Mereka mampu membangun aplikasi mobile banking yang canggih, memperluas jaringan ATM, dan menjangkau masyarakat di daerah-daerah terpencil. Bank-bank kecil seringkali kesulitan untuk menandingi kekuatan modal dan teknologi yang dimiliki oleh para raksasa perbankan ini.

Arah Kebijakan dan Perlindungan Konsumen

Temuan ini bukanlah untuk menentang program inklusi keuangan. Inklusi keuangan tetaplah sebuah program penting yang harus terus didorong untuk memberdayakan masyarakat. Namun, riset ini menjadi sebuah pengingat penting bagi para pembuat kebijakan dan regulator di sektor keuangan. Diperlukan adanya aturan main yang adil untuk memastikan bahwa inklusi keuangan tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi benar-benar membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.

Pemerintah dan regulator perlu merancang kebijakan yang mendorong persaingan yang sehat di industri perbankan. Ini bisa dilakukan dengan memberikan insentif bagi bank-bank kecil untuk berinovasi, atau dengan membuat aturan yang memudahkan nasabah untuk berpindah dari satu bank ke bank lain. Selain itu, perlindungan konsumen juga harus menjadi prioritas utama. Masyarakat yang baru melek finansial perlu diedukasi agar mereka bisa membuat keputusan keuangan yang cerdas dan tidak terjebak dalam produk-produk keuangan yang merugikan.

Pada akhirnya, inklusi keuangan harus menjadi jalan bagi masyarakat untuk mencapai kemandirian finansial, bukan sekadar menjadi lahan baru bagi bank-bank besar untuk meraup keuntungan. Dengan kebijakan yang tepat dan pengawasan yang ketat, kita bisa memastikan bahwa inklusi keuangan benar-benar menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Penulis: Rahmat Heru Setianto, W.N.W Azman-Saini, Siong Hook Law, Abd Halim Ahmad, Siti Nurazira Mohd Daud

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://doi.org/10.1016/j.frl.2025.108302