Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Menguak Faktor Rendahnya Kepatuhan Program MDA (Minum Obat Pencegah Filariasis) di Indonesia

49 Views•4 minutes read

Limfatik Filariasis (LF) atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘kaki gajah’ merupakan infeksi parasit yang ditularkan melalui nyamuk melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Penyakit ini disebabkan oleh nematoda filaria, khususnya Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Di masa sekarang, LF termasuk salah satu penyakit yang terabaikan, dimana sebenarnya penyakit ini menjadi masalah besar masyarakat di bidang kesehatan. Orang dengan infeksi LF, akan mengalami gejala seperti pembengkakan pada anggota tubuh hingga alat kelamin.

WHO telah menyadari bahwa LF masih menjadi momok masyarakat global, bahkan menjadi penyakit di beberapa daerah seperti Asia, Afrika, Pasifik Barat, serta sebagian Karibia dan Amerika Selatan, sehingga WHO meluncurkan Global Programme to Eliminate Lymphatic Filariasis (GPELF) atau Program Global untuk Eliminasi Limfatik Filariasis pada tahun 2000. Program ini bertujuan untuk menghentikan penularan dan mengelola morbiditas melalui dua pilar strategi, yaitu Mass Drug Administration (MDA) atau Pemberian Obat Massal dan Morbidity Management and Disability Prevention (MMDP) atau Manajemen Morbiditas dan Pencegahan Disabilitas. Pada program ini, WHO menetapkan targetnya untuk menghilangkan LF di 80% negara endemik pada tahun 2030.

Upaya yang dilaksanakan WHO, ternyata masih memberikan berbagai hambatan global dan lokal di Indonesia untuk mencapai eliminasi LF.  Hambatan yang terjadi, seperti tidak adanya vaksin yang efektif, kemungkinan risiko ‘kebal obat’ parasit, rendahnya penggunaan obat, faktor sosial-budaya, perilaku sosial, dukungan masyarakat serta tokoh masyarakat setempat. Untuk mengatasi hambatan tersbeut, studi ini menggunakan data dari Survei Kesehatan Nasional Indonesia 2023 (SKI) untuk menyelidiki faktor sosial-demografis dan perilaku yang berhubungan dengan ketidakpatuhan program MDA (Minum Obat Pencegah Filariasis) di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Berdasarkan Survei Kesehatan Nasional Indonesia (SKI) 2023, prevalensi LF bervariasi secara geografis di tingkat kabupaten, dengan kejadian tertinggi dilaporkan di Manokwari Selatan, Papua, sebesar 11,6%.

Penelitian yang menganalisis faktor penyebab ketidakpatuhan program MDA telah dilakukan. Penelitian tersebut mencakup beberapa factor penyebab, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, indeks kekayaan, kepemilikan ponsel, kesadaran akan fasilitas kesehatan, waktu tempuh ke fasilitas kesehatan terdekat, keterjangkauan biaya transportasi, upaya pencegahan gigitan nyamuk (secara pribadi), melaporkan LF secara mandiri, pemberian obat pencegah filaria dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, pengalaman mengonsumsi obat pencegah filaria yang diberikan petugas kesehatan atau kader. Selanjutnya faktor-faktor tersebut akan dikaitkan satu sama lain dan dapat diambil kesimpulan.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa ketidakpatuhan program MDA lebih tinggi di daerah perkotaan daripada pedesaan, meskipun penduduk perkotaan lebih dekat dengan fasilitas kesehatan dan memiliki finansial yang cukup untuk mendapatkan layanan kesehatan. Hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya tekanan sosial, dimana masyarakat pedesaan seringkali lebih kompak dalam melaksanakan suatu hal dan mendorong partisipasi publik. Orang dengan usia produktif, perempuan, tingkat pendidikan dan status sosial-ekonomi lebih tinggi, memiliki ponsel, dan tidak melakukan upaya pencegahan gigitan nyamuk sendiri, cenderung tidak mematuhi program MDA. Di daerah pedesaan, ketidakpatuhan MDA lebih tinggi ditemukan pada laki-laki, peserta dengan pendidikan dasar atau menengah, individu yang belum memasuki usia kerja, menganggur, pelajar, dan pekerja sektor informal, individu yang melaporkan LF sendiri, kekayaan rumah tangga yang lebih tinggi, kepemilikan ponsel, waktu perjalanan yang lebih lama ke fasilitas kesehatan terdekat, dan biaya transportasi yang tidak terjangkau. Menariknya, kurangnya pencegahan nyamuk tidak berpengaruh, ini berbeda dengan temuan di perkotaan, dimana tidak menggunakan langkah pencegahan nyamuk berkaitan dengan kemungkinan ketidakpatuhan yang lebih tinggi. Pada kedua sektor, risiko ketidakpatuhan tertinggi ditemukan pada individu yang dikategorikan ke dalam kelompok pra-kerja (<15 tahun dan >65 tahun).

Solusi dari ketidakpatuhan tersebut, dapat diterapkan dengan berbagai cara, seperti penyebaran informasi tentang bahaya, dampak filariasis, dan pentingnya MDA harus disebar ke seluruh lini komunitas. Berikutnya, pemberian obat dilakukan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat, serta diperlukan peran aktif dari petugas kesehatan untuk melaksanakan program MDA. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakpatuhan MDA tidak bersumber dari satu akar masalah yang sama berdasarkan konteks wilayah. Pada pedesaan yang dianggap minim akses kesehatan, tingkat pendidikan yang rendah, dan sulitnya kondisi sosial-ekonomi justru lebih patuh daripada di perkotaan yang serba mudah. Masyakarat pedesaan memerlukan perbaikan structural, sedangkan masyarakat perkotaan dapat diedukasi dengan pendekatan yang menyasar perilaku, pola pikir, dan gaya hidup.

Penulis : Ratna Wahyuni, S.Si, M.Kes,Ph.D

Informasi lebih detail dari penelitian tentang Limfatik Filariasis ini dapat dilihat dalam penelitian kami di link berikut ini https://www.ovid.com/10.4103/apjtm.apjtm_93_26.

Wahyuni, R., Ipa, M., Hermawan, A., Ernawan, B., Faizah, A. N., Handayani, N. S., Dhewantara, P. W., & Garjito, T. A. (2026). Assessing factors influencing noncompliance with mass drug administration for lymphatic filariasis in urban and rural Indonesia. Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, 19(8), 354–366. https://doi.org/10.4103/apjtm.apjtm_93_26.

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top