Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Mengapa Milenial dan Gen Z Berbeda Gaya Saat Menggunakan Dompet Digital Syariah?

70 Views•3 minutes read

Perkembangan teknologi keuangan berbasis syariah di Indonesia terus menunjukkan tren positif, terutama pasca peningkatan adopsi transaksi nontunai dalam beberapa tahun terakhir. Dompet digital syariah kini tidak lagi hanya digunakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan transaksi ekonomi seperti belanja daring, melainkan juga berkembang menjadi sarana filantropi digital untuk menyalurkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Fenomena integrasi antara kebutuhan komersial dan nilai-nilai spiritual dalam satu genggaman ini menarik untuk dicermati, khususnya terkait bagaimana kelompok masyarakat dari generasi berbeda merespons dan memanfaatkan teknologi tersebut. Sebuah temuan studi terbaru mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan mendasar mengenai pola pikir dan jalur adopsi teknologi antara Generasi Y atau milenial dengan Generasi Z dalam menggunakan layanan keuangan digital berbasis syariah.

Secara umum, persepsi manfaat fungsional seperti efisiensi waktu dan kepraktisan fitur kini bukan lagi menjadi pendorong utama yang membentuk sikap positif masyarakat terhadap dompet digital syariah. Pada ekosistem digital yang makin matang, kebermanfaatan fungsional telah dianggap sebagai standar dasar yang sewajarnya dimiliki oleh setiap aplikasi keuangan. Menariknya, penentu utama yang membentuk persepsi positif pengguna adalah tingkat kemudahan penggunaan. Aplikasi yang dirancang dengan antarmuka yang ramah pengguna, navigasi yang intuitif, serta proses transaksi yang minim hambatan teknis terbukti menjadi kunci utama dalam membangun rasa nyaman dan kepercayaan. Dalam konteks keuangan syariah, kemudahan akses ini juga memberikan rasa aman secara spiritual karena memudahkan pengguna dalam memastikan transaksi tetap sesuai dengan prinsip-prinsip kehalalan dan etika Islam.

Perbedaan karakter yang kontras antara kedua generasi mulai terlihat ketika mengevaluasi dorongan yang memicu keputusan mereka untuk bertransaksi. Generasi Y, yang berada pada fase usia produktif dan tumbuh di era transisi teknologi, cenderung menerapkan pola evaluasi yang lebih rasional dan terukur. Bagi kelompok milenial, kemudahan aplikasi memang menjadi modal awal, namun mereka tetap membutuhkan kepastian bahwa platform tersebut memberikan manfaat fungsional yang nyata sebelum akhirnya mantap mengambil keputusan transaksi. Sebaliknya, Generasi Z yang tumbuh sebagai digital natives menunjukkan pola adopsi berbasis pengalaman dan emosi. Bagi Generasi Z, kualitas interaksi digital seperti kecepatan respons, estetika visual, serta kenyamanan penggunaan secara langsung membentuk sikap positif yang dengan cepat mendorong niat mereka untuk berbelanja maupun berdonasi tanpa memerlukan proses pertimbangan fungsi yang rumit.

Temuan ini membawa implikasi strategis bagi para pengembang industri keuangan digital syariah agar tidak menyamaratakan pendekatan pemasaran maupun desain aplikasi. Pengembangan ekosistem dompet digital syariah perlu disesuaikan dengan karakter tiap kelompok usia demi mengoptimalkan potensi inklusi keuangan dan partisipasi sosial. Untuk kelompok pengguna milenial, penyedia layanan perlu menekankan nilai kepastian manfaat, transparansi, serta stabilitas sistem. Sementara itu, untuk menarik minat Generasi Z, pengembang harus menitikberatkan pada keunggulan antarmuka yang interaktif, kecepatan akses, dan pengalaman digital yang menyenangkan. Dengan memadukan kemudahan teknologi dan nilai-nilai spiritual secara tepat, dompet digital syariah diharapkan mampu menjadi pendorong utama terwujudnya gaya hidup finansial yang beretika dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan generasi muda di Indonesia.

Penulis : Elsha Sophia, S.EI., M.SEI.

Detail artikel dapat dibaca pada link ini :

https://www.emerald.com/jeas/article/doi/10.1108/JEAS-03-2026-0228/1385764/Integrating-technology-acceptance-model-and

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top