Pemberian obat melalui hidung (intranasal) kini bukan hanya digunakan untuk mengatasi hidung tersumbat, melainkan telah berkembang menjadi rute efektif untuk pengobatan sistemik, vaksinasi, hingga penghantaran obat langsung ke otak. Rute ini menawarkan keuntungan utama berupa mula kerja obat yang cepat, menghindari degradasi di saluran pencernaan, serta bebas dari efek metabolisme lintas pertama (first-pass effect) di hati. Secara anatomis, rongga hidung manusia memiliki panjang 120–140 mm dengan luas permukaan total ±150 cm² dan terbagi menjadi tiga wilayah utama. Pertama, area vestibular, yaitu bagian paling depan yang dilapisi bulu hidung untuk menyaring partikel asing berukuran lebih dari 10 µm. Kedua, area respiratori yang merupakan area terbesar (80%–90%) yang kaya akan pembuluh darah dan sel epitel bersilia, menjadikannya lokasi utama penyerapan obat ke sirkulasi sistemik. Ketiga, area olfaktori, terletak di atap rongga hidung yang terhubung langsung ke sistem saraf pusat melalui saraf pembau (olfactory nerve) dan saraf trigeminal.
Tantangan utama dalam penghantaran obat intranasal adalah keberadaan mukus dan mekanisme pembersihan mukosilia (mucociliary clearance/MCC). Gerakan silia mendorong lapisan mukus menuju nasofaring dengan waktu paruh pembersihan sekitar 15–20 menit, sehingga memperpendek waktu tinggal obat di rongga hidung. Untuk mengatasi hambatan fisiologis ini, dirancang berbagai strategi formulasi. Pertama, dengan penambahan eksipien khusus untuk meningkatkan permeasi (seperti siklodekstrin dan dodecil maltosida) untuk membuka celah antar-sel, serta polimer mukoadhesif (seperti kitosan dan pektin) untuk memperlama waktu kontak obat pada mukosa. Kedua, sistem mikro dan nanopartikel, yaitu penggunaan system pembawa berukuran nano (seperti liposom dan nanopartikel polimer) bermuatan positif yang dapat berinteraksi secara elektrostatik dengan mukus bermuatan negatif, melindungi obat dari degradasi enzim, serta memfasilitasi absorpsi seluler. Selain itu, rute hidung juga dapat dimanfaatkan untuk imunisasi melalui jaringan limfoid NALT (Nasopharynx-Associated Lymphoid Tissue) yang merangsang respon imun mukosa lokal (IgA) dan sistemik (IgG). Vaksin intranasal seperti vaksin influenza teratenuasi (Flumist/Fluenz) menawarkan metode vaksinasi tanpa jarum suntik yang dapat diberikan secara mandiri. Penggunaan rute ini juga sangat vital untuk terapi darurat cepat, seperti semprotan nalokson untuk overdosis opioid, epinefrin untuk reaksi alergi berat, serta bubuk glukagon untuk hipoglikemia berat.
Penghantaran obat langsung dari hidung ke otak (nose-to-brain) menjadi terobosan penting karena mampu menembus sawar darah-otak (blood-brain barrier/BBB). Melalui wilayah olfaktori dan saraf trigeminal, obat dapat mencapai sistem saraf pusat dalam hitungan menit lewat jalur ekstraseluler. Pendekatan ini sangat potensial untuk terapi penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson, migrain, tumor otak, hingga terapi nyeri.
Keberhasilan penghantaran obat ke bagian atap hidung sangat bergantung pada inovasi perangkat/alat aplikatornya. Perangkat modern seperti Optinose (menggunakan hembusan napas pasien), Vianase (atomizer elektronik), dan Precision Olfactory Delivery (POD) dirancang khusus untuk memaksimalkan deposisi obat pada daerah olfaktori. Seiring dengan perkembangan teknologi formulasi dan perangkat ini, pihak regulator seperti Food and Drug Administration (FDA) dari Amerika Serikat dan the European Medicines Agency (EMA) dari Eropa terus memperbarui panduan regulasi guna memastikan standar kualitas, stabilitas, dan keamanan produk obat intranasal.
DATA DIRI
Nama : Prof. apt. Helmy Yusuf, S.Si., M.Sc., Ph.D
NIP : 197907152003121002
Nomor HP : 081217374255
Judul Artikel : Nasal Drug Delivery; in Drug Delivery: From Fundamentals to the
Future
Link artikel : https://doi.org/10.1201/9781003482444





