Dari kiri ke kanan Dr Nanang Qosim SE MPI, Pmd I Putu Tedja Sinarta SE MM, Pinandita I Wayan Sura SH MPdH, dan Dr Yosef Yonandow Siahaan SKom MTh menyampaikan materi dalam sesi diskusi. (Foto: Istimewa).

Merawat Kemanusiaan di Tengah Perbedaan Agama

38 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan bertajuk Seminar Toleransi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (16/10/2026) di Gedung AG Pringgodigdo Kampus Dharmawangsa-B. 

Tahun ini, seminar toleransi mengusung tema “Ketika Agama Bersatu Membela Nilai Kemanusiaan”. Ide ini muncul karena saat ini mahasiswa sering menghadapi narasi ketidaktoleranan dan polarisasi sosial. Empat narasumber mewakili Buddha, Hindu, Kristen, dan Islam hadir dalam ruang diskusi terbuka. 

PMd I Putu Tedja Sinarta SE MM, mewakili agama Buddha menyampaikan ajaran Sang Buddha tentang empat sifat luhur. “Kita mengembangkan cinta kasih tanpa batas kepada semua makhluk hidup,” ujarnya.

Empat sifat luhur meliputi cinta kasih, welas asih, simpati, dan keseimbangan batin. “Melihat saudara yang terdampak karhutla sudah seharusnya kita menerapkan nilai luhur ini,” jelasnya.

Ia meyakini keempat sifat luhur mampu menyatukan manusia dalam nilai kemanusiaan yang dianut bersama. “Umat manusia yang mengamalkan sifat-sifat luhur tidak akan mudah terseret kebencian,” tegasnya.

Dr Nanang Qosim SE MPI mewakili agama Islam menyoroti bahaya informasi palsu di media sosial. Ia merujuk Al-Qur’an yang memerintahkan umat untuk melakukan tabayyun ketika menerima kabar.

“Kita tidak boleh langsung percaya begitu saja, seperti foto dan video yang begitu saja yang tersebar,” jelasnya. 

Kini kecerdasan buatan turut membuktikan hal itu. “AI membuat sesuatu yang tidak nyata tampak sangat nyata. Hal itu yang perlu kita klarifikasi dulu, apakah informasinya betul-betul valid,” tegasnya.

Pinandita I Wayan Sura SH MPdH, mewakili agama Hindu mengajak peserta bercermin dalam menggunakan teknologi. Ia menyebut zaman sekarang sebagai zaman besi.

“Musuh itu sekarang ada di dalam diri kita, sehingga kita belajar agama tidak berhenti pada tatanan kulit, tetapi harus masuk ke tatanan hati,” paparnya.

Ia mengajak mahasiswa kembali untuk membaca buku, menulis konvensional. Tidak hanya itu, Wayan juga turut mengingatkan mahasiswa memeriksa ulang setiap informasi.

Dr Yosef Yonandow Siahaan SKom MTh, mewakili agama Kristen menyoroti bentuk nyata intoleransi yang muncul saat ini. Ia menegaskan bahwa intoleransi tidak berasal dari satu agama saja.

Ia juga turut mengkritik tokoh agama yang mengeksploitasi umatnya sendiri. Ia menyesalkan penggerebekan tempat ibadah dan lambannya respon pemerintah. “Dari keterlambatan ini akhirnya masyarakat bergerak sendiri untuk masyarakat,” ujarnya.

Ia lalu menawarkan empat jalan dialog meliputi dialog awam, dialog karya, dialog teologis antaragama, dan dialog kebangsaan. “Agama juga harus memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama pengabdian kepada masyarakat. Ia mengajak untuk selalu membagikan ilmu kepada warga. “Kita tidak bisa mengatur orang lain, tetapi kita bisa mengatur diri kita sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Qurrota A’yuni Latifa

Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top