Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia karena hampir setengah dari populasi dunia berisiko terinfeksi. Spesies Plasmodium penyebab malaria adalah Plasmodium falciparum, P. vivax, P. ovale, P. malariae, dan P. knowlesi. Menurut WHO, dalam Laporan Malaria Dunia 2022, jumlah kasus malaria di Indonesia merupakan yang terbesar kedua di Asia Tenggara setelah India. Dalam skala global, kasus malaria meningkat menjadi 247 juta pada tahun 2021, naik dari 245 juta pada tahun 2020, dengan sebagian besar kasus dilaporkan di Afrika. Lebih jauh lagi, kematian terkait malaria meningkat selama pandemi COVID-19 sekitar 63.000 kasus karena terganggunya strategi pencegahan dan pengendalian (WHO, 2022).
Respons imun host terhadap malaria, baik bawaan maupun adaptif, memiliki implikasi untuk reaksi inflamasi. Menurut Berg et al. (2014), infeksi P. falciparum sering memicu jalur inflamasi, yang mengarah pada respons inflamasi lokal dan sistemik yang melibatkan pelepasan berbagai sitokin. Respon inflamasi pada penderita malaria ditandai dengan ekspresi sitokin proinflamasi seperti Il-6, Il-8, IFN-γ, dan TNF-α yang merupakan sitokin yang berfungsi untuk mengendalikan pertumbuhan parasit dan menghilangkannya [Popa dan Popa 2021]. Namun, reaksi inflamasi yang berlebihan dapat merugikan pasien karena dapat menyebabkan kerusakan organ dan inflamasi sistemik yang parah sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan berujung pada mortalitas pada pasien malaria [Berg et al, 2014].
Respon inflamasi pada malaria yang berlebih perlu dikendalikan dengan bahan-bahan alami. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bahan-bahan alami dapat mengurangi inflamasi. Salah satu bahan alami yang dapat memodulasi respons terhadap infeksi parasit adalah Asam Lemak Tak Jenuh Ganda (PUFA), yaitu omega-PUFA/ω-PUFA/n-PUFA [Alhusseiny dan El-Beshbishi, 2020; Cárdenas et al, 2021]. Salah satu bahan alami yang kaya akan omega PUFA adalah biji tanaman Sacha inchi (Plukenetia volubilis). Minyak biji Sacha inchi (SISO) sebagian besar mengandung asam PUFA (Wang et al., 2018), terutama asam linolenat dan linoleat (Lu et al, 2023). Penggunaan SISO pada infeksi malaria belum pernah dilakukan.
Kami melakukan penelitian penggunaan SISO sebagai imunomodulator pada mencit yang diinfeksi Plasmodium berghei, sebagai model malaria. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Minyak biji Sacha inchi memiliki potensi untuk memodulasi respons imun mencit yang terinfeksi P. berghei melalui penghambatan pertumbuhan Plasmodium dan menurunkan kadar sitokin proinflamasi Il-12 dan Il-8, tergantung pada dosis.
Hasil penelitian sudah dipublikasikan Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(4): 1599-1606 dengan judul: Sacha inchi (Plukenetia volubilis) seed oil alleviates Plasmodium berghei infection in mice by reducing proinflammatory cytokine levels and inhibiting parasite growth.
Penulis: Lucia Tri Suwanti dkk
Artikel dapat diakses melalui: AIP Minyak biji Sacha inchi (Plukenetia volubilis) untuk terapi infeksi Plasmodium berghei. DOI: 10.5455/OVJ.2025.v15.i4.11





