UNAIR NEWS – Mitigasi bencana adalah keberhasilan yang nyaris tak pernah terlihat, padahal di sanalah nyawa dan aset diselamatkan. Pakar mitigasi bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Aditya Prana Iswara ST MSc PhD, menegaskan hal itu dalam sesi satelit Garda Ksatria Airlangga, Mahagana, dan IKA UNAIR di Kampus MERR-C, Jumat (16/10/2026).
Ketua Program Studi Respons Bencana Sekolah Pascasarjana UNAIR itu memaparkan paradoks dalam manajemen bencana. Penanganan saat bencana terjadi menjadi visible failure yang menyedot liputan media, sedangkan pencegahan merupakan invisible success yang berjalan senyap.
Sukses yang Tak Terlihat
Aditya mencontohkan banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, yang diliput puluhan media daring. Menurutnya, kerja besar di balik bencana yang berhasil dicegah hampir tidak pernah tercatat dan diapresiasi.
“Ketika bencana terjadi, upaya penanganan kelihatan dan media ramai meliput. Namun, ketika bencana berhasil dicegah, orang justru tidak tahu ada yang sudah bekerja keras di baliknya,” ujar Aditya.
Cegah Api Sebelum Menyala
Doktor lulusan bidang mitigasi bencana dan teknik lingkungan itu turut menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menegaskan bahwa mitigasi karhutla harus bergerak sebelum api muncul, bukan menunggu kobaran membesar.
“Memadamkan api membutuhkan biaya besar dan tenaga yang tidak sedikit. Mencegah sejak awal jauh lebih efisien,” tuturnya.
Aditya juga menampilkan peta indeks kerentanan bencana Indonesia dari InaRISK BNPB yang didominasi warna merah sebagai penanda kerentanan tinggi. Sejumlah kabupaten di Jawa Timur, seperti Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, dan Pasuruan, masuk daftar peringkat atas pada peta tersebut.
Pesan untuk Pemerintah
Aditya meminta pemerintah memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan, tidak hanya tanggap darurat. Kehadiran pakar UNAIR bersama Garda Ksatria Airlangga, Mahagana, dan alumni dalam rangkaian SDGs Connect menegaskan kesiapan kampus menjadi garda terdepan penguatan ketangguhan bencana nasional.
“Pencegahan perlu dihargai sebagai prestasi, meskipun hasilnya tidak terlihat. Anggaran dan perhatian jangan baru datang setelah bencana,” pungkasnya.
Penulis: Farelnanda Ramadhani
Editor: Khefti Al Mawalia
