Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Siti Rahayu Nadhiroh dari Universitas Airlangga dan tim telah berhasil mengembangkan model prediktif untuk mengidentifikasi risiko stunting pada anak-anak di Indonesia. Model yang didasarkan pada analisis komprehensif data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 ini menunjukkan tingkat akurasi yang menjanjikan, yaitu sebesar 73,8%, dalam membedakan antara anak yang berisiko stunting dan yang tidak. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Food and Nutrition Bulletin, Januari 2026, dan diharapkan memberikan nilai tambah dalam upaya pencegahan stunting di Indonesia.
Stunting, atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, masih menjadi beban kesehatan yang signifikan di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika seorang anak di bawah usia lima tahun memiliki tinggi badan yang lebih dari dua standar deviasi di bawah median standar pertumbuhan anak menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dampaknya tidak hanya bersifat jangka pendek, seperti peningkatan angka kesakitan dan kematian, tetapi juga jangka panjang, termasuk terganggunya pertumbuhan dan fungsi kognitif di masa depan, peningkatan risiko penyakit kronis, dan penurunan produktivitas di usia dewasa.
Analisis data dari Riskesdas ini melibatkan 13.106 balita beserta ibu mereka, menggunakan 15 variabel yang berpotensi berhubungan dengan stunting dan mengaplikasikan model decision tree untuk membangun model prediktif. Hasil dari decision tree, menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, pendidikan terakhir ibu, kebiasaan mencuci tangan, dan pemberian ASI eksklusif memainkan peran dalam risiko stunting. Temuan juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi stunting bervariasi di berbagai kelompok usia, yang menekankan pentingnya strategi pencegahan yang spesifik untuk setiap kelompok usia.
Model prediksi ini memiliki tingkat akurasi 73,8% dalam menentukan risiko stunting. Model prediksi juga berkinerja cukup baik dalam membedakan antara anak yang stunting dan tidak stunting berdasarkan kurva ROC (Receiver Operating Characteristic). Ke depannya, model ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi perangkat praktis, seperti aplikasi seluler, yang dapat digunakan secara luas oleh para profesional kesehatan di lapangan. Para peneliti menekankan bahwa intervensi yang efektif tidak hanya berfokus pada asupan gizi, tetapi juga perlu memperhatikan faktor-faktor lain seperti pendidikan ibu, praktik kebersihan, dan riwayat pemberian ASI eksklusif. Dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat, Indonesia dapat mempercepat upaya penurunan angka stunting dan memastikan generasi penerus bangsa dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Sumber: 1.
Nadhiroh SR, Hasugian AR, Putri ANPA, et al. Predictive Modeling to Identify Stunting Risk in Children. Food and Nutrition Bulletin. 2026;47(1):20-29. doi:10.1177/03795721251405722





