Universitas Airlangga Official Website

Moralitas Harus Diajarkan Sejak Dini

Anak-anak kecil Jepang disekolahnya tidak diajari matematik, cara menghitung, menghafalkan, namun diajari bagaimana menghormati orang yang lebih tua dengan cara membungkukkan badan, cara berterima kasih dan meminta maaf, cara antri, cara membersihkan ruang kelas bersama kelompoknya dsb. Diantara kita juga banyak yang melihat tayangan video sekelompok anak-anak kecil Jepang berbaris menyeberang jalan dan sesampainya diseberang jalan mereka sama-sama membungkukkan badan kepada semua kendaraan yang berhenti memepersilahkan mereka menyeberang – sebagai tanda terima kasih. Saya pribadi menyaksikan kejadian itu di Tokyo dan kedua cucu saya yang pernah belajar di Hiroshima Jepang mengalami pelajaran seperti diatas.

Ketika saya bekerja di Bank of Tokyo salah satu bank Jepang yang terkemuka didunia, dimeja saja ada selembar kertas berisi 25 pertanyaan yang menjawabnya hanya dalam hati, salah satu pertanyaannya: “Kalau ada telpon berdering di meja teman disebelah anda dan teman anda tidak ada ditempat, apakah anda cenderung mendiamkan telpon itu berdering terus, atau anda segera menjawabnya?”.

Kedua true story tentang Jepang tersebut pada dasarnya adalah pelajaran tentang moralitas, tentang sikap berbuat baik, sopan kepada orang lain. Di Bank Jepang dimana saya bekerja tadi, saya diajarkan atau diminta untuk segera menjawab telpon yang berdering dengan mengatakan “moshi-moshi, good morning Bank of Tokyo”, karena diindustri perbankan yang fokus pada pelayanan dan trust atau kepercayaan itu, sikap sopan menghargai orang lain itu merupakan kewajiban.

Kita tentu dapat menjumpai definisi moralitas dari berbagai sumber, salah satunya saya kutip dari Wikipedia yang menjelaskan – Morality is a normative standard, doctrine, or system of conduct. It evaluates actions and character traits using criteria that vary across individuals, societies, social classespublic opinions, cultures, customs, and traditions. Such as, rightness or wrongness, virtues or viceshonesty or cruelty, honor or disgrace, the power of inner beliefs of a person, and propriety or impropriety of relationships between oneself and others. (Moralitas adalah standar, doktrin, atau sistem perilaku normatif. Ini mengevaluasi tindakan dan ciri-ciri karakter menggunakan kriteria yang bervariasi di seluruh individu, masyarakat, kelas sosial, opini publik, budaya, adat istiadat, dan tradisi. Seperti, benar atau salah, kebajikan atau keburukan, kejujuran atau kekejaman, kehormatan atau aib, kekuatan keyakinan batin seseorang, dan kepatutan atau ketidakpantasan hubungan antara diri sendiri dan orang lain.)

Bagi yang beragama Islam tentu hafal sebuah hadis yang menyatakan Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi), dalam hadis 5680 yang diriwayatkan Bukhari: Prophet Muhammad (PBUH) said: “I was sent to perfect good character.” (Sahih al-Bukhari, Hadith 5680). Jadi tugas Rasul Muhammad SWA adalah memperbaiki moral.

Univeritas Airlangga sudah mencanangkan sebuah Kredo (=A credo is a set of beliefs, principles, or guiding values that influence the way a person or organization lives and operates. The word comes directly from Latin, where it translates literally to I believe.”) yaitu “Excellence with Morality”.

Menurut saya Excellence bagi stakeholder di Unair adalah merupakan hal yang tidak terlalu berat karena saat ini Unair dalam World University Ranking – peringkat Unair meningkat menjadi 276 dunia. Itu menunjukkan bahwa kualitas akademik Unair melaju dengan cepat. Saya katakan “tidak terlalu berat” karena untuk mencapai excellence bagi mahasiswa, dosen merupakan pekerjaan sehari-hari misalkan bagaimana membuat research design, metode penelitian, menganalisa jurnal, menghitung data statistik, mengidentifikasi masalah dsb adalah tugas sehari-hari seorang mahasiswa dan dosen.

Namun soal Morality?

Ini yang bisa dikatakan berat atau ringan. Berat manakala seluruh stakeholder Unair tidak memahami apa itu moralitas baik dari persepektif agama, budaya maupun tradisi luhur bangsa. Kadang kita masih jumpai praktek-praktek yang melanggar moralitas dilingkungan Perguruan Tinggi dari soal manipulasi data, anggaran, tidak mengindahkan tatakrama sampai pada cara berkomunikasi yang tidak baik, perbuatan a – susila, tidak mematuhi peraturan kampus, tidak disiplin dsb.

Namun bisa dikatakan ringan manakala moralitas itu diajarkan sejak dini seperti pada contoh anak-anak Jepang diatas.

Karena itu menurut saya, Univeritas Airlangga harus secara terus menerus mengajarkan moralitas ini kepada semua stakeholder, terutama pada para mahasiswa baru yang untuk pertama kali menginjakkan kakinya di kampus tercinta kita sehingga moralitas itu akan “embedded”, “deep rooted” atau mengakar di hati masing-masing insan UNAIR.