UNAIR NEWS – Prestasi membanggakan terukir kembali oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga (UKM WANALA UNAIR). Delegasi WANALA berhasil menyabet dua gelar sekaligus dalam Warmadewa Orienteering Competition #3. Kompetisi tingkat nasional itu terselenggara oleh Mapala Citta Mandala Universitas Warmadewa di Hutan Bambu Sandan, Tabanan, Bali pada Minggu (20/9/2026).
Muhamad Nur Khamim dan Marselia Crenata, keduanya masing-masing meraih Juara I Kategori M21 (Putra) dan Kategori W21 (Putri). Selain Khamim dan Marsel, WANALA UNAIR juga menerjunkan dua atlet tangguh lainnya, yaitu M Erza Apriansyah (kategori M21) dan Amelia Nur Aprila (kategori W21).
Menjaga Keseimbangan Fisik dan Fokus
Orienteering merupakan olahraga melintasi medan alam terbuka menggunakan peta dan kompas untuk menemukan titik-titik checkpoint. Khamim mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah membagi konsentrasi secara simultan.
Dalam kejuaraan ini, Khamim mengungkapkan bahwa tantangan terbesar baginya adalah membagi konsentrasi dalam satu waktu. “Tantangan tersulitnya adalah membagi fokus antara membaca peta, menentukan arah, dan tetap menjaga kecepatan lari. Saat kondisi medan cukup sulit atau banyak pilihan jalur, kami harus bisa mengambil keputusan dengan cepat tanpa kehilangan fokus terhadap posisi di peta,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengaku sempat tersesat akibat adanya kendala teknis pada peta yang tidak menggambarkan jalur lintasan secara akurat. Khamim menekankan pentingnya fokus pada jalur pribadi tanpa terdistraksi oleh pergerakan peserta lain. “Fokus pada peta, jangan ke-distract peserta lain, dan cari jalanmu sendiri,” ungkapnya.
Menghadapi keletihan fisik yang berpotensi memecah fokus, para atlet WANALA memegang teguh nilai cinta alam yang telah tertanamkan di UKM. Khamim menekankan pentingnya fokus pada jalur pribadi tanpa terdistraksi oleh pergerakan peserta lain.
Prinsip saat Bertanding
“Fokus pada peta, jangan kedistract peserta lain, dan cari jalanmu sendiri,” ungkap Khamim. Prinsip WANALA, tabah sampai akhir, menjadi bahan bakar utama para atlet untuk tidak menyerah hingga menyentuh garis finish.
Sementara itu, Marsel juga membagikan pengalamannya saat menghadapi kendala navigasi di lapangan. Ia menuturkan bahwa sempat mengalami keraguan arah menuju checkpoint hingga berputar di area hutan.
“Saat kita tidak tahu posisi saat ini, solusinya adalah kembali ke checkpoint sebelumnya untuk memastikan jalan yang dilalui sudah benar atau belum. Jika dirasa tersesat, namun belum jauh, kita bisa mencocokkan kembali dengan medan di sekitar sebelum menentukan arah baru,” tambah Marsel.
Melalui pencapaian ini, tim WANALA UNAIR berharap kemampuan navigasi, pembacaan peta, serta ketahanan fisik para anggota dapat terus berkembang demi mencetak prestasi yang lebih tinggi di masa depan. Mereka juga berharap olahraga orienteering dapat makin dikenal luas dan diminati oleh kalangan mahasiswa di luar komunitas pecinta alam.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rohmawati
