Masalah obesitas terus menjadi perhatian dunia internasional karena prevalensinya yang meningkat. Obesitas berpengaruh negatif pada beberapa fungsi tubuh, termasuk diantaranya adalah fungsi reproduksi (fertilitas). Diketahui, prevalensi pasangan infertil di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 15-25% dengan infertilitas pada pria menyumbang 25-30% dari total kasus infertilitas. Sebuah tinjauan literatur yang ditulis oleh Putri dan Nadhiroh dalam jurnal Amerta Nutrition tahun 2024, mengungkap hubungan antara obesitas dan infertilitas pada pria usia produktif.
Hasilnya, dari 8 studi yang ditinjau tentang obesitas dan infertilitas pada pria, diketahui bahwa obesitas dapat mempengaruhi kesuburan pria secara langsung ataupun tidak langsung melalui beberapa mekanisme perubahan profil hormonal. Selain itu, konversi androgen menjadi estrogen secara berlebihan akibat obesitas, dapat menyebabkan peningkatan aktivitas aromatase dan reproduksi berikutnya. Ketidakseimbangan ini pada akhirnya menghasilkan sperma berkualitas rendah.
Lebih jauh, obesitas juga menyebabkan kadar leptin plasma yang tinggi. Akibatnya, terjadi peningkatan stres oksidatif yang diinduksi leptin dan produksi reactive oxygen species (ROS) yang tidak terkendali sehingga berdampak negatif pada fluiditas membran plasma sperma, mengganggu pergerakan sperma, dan meningkatkan kerusakan deoxyribonuclealic acid (DNA) sperma.
Dengan demikian, obesitas dapat meningkatkan risiko penurunan parameter sperma, baik secara kuantitatif (volume, jumlah, dan konsentrasi) maupun kualitatif (motilitas, morfologi, dan DNA sperma), yang berujung pada infertilitas pada pria.
Penulis: Siti Rahayu Nadhiroh
Link: https://e-journal.unair.ac.id/AMNT/article/view/46752
Baca juga: Pengaruh Puasa Intermiten terhadap Pencegahan Penuaan Dini Akibat Obesitas





