Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Operasi Klasik atau Metode Minimal Invasif? Membedah Pilihan Terapi untuk Varises Tungkai

39 Views•3 minutes read

Varises tungkai atau insufisiensi vena safena magna (great saphenous vein/GSV) merupakan salah satu penyakit pembuluh darah vena yang paling sering ditemukan. Kondisi ini diperkirakan memengaruhi 18–61% populasi dewasa di dunia dan lebih sering ditemukan pada orang dengan faktor risiko seperti usia, obesitas, serta kebiasaan berdiri dalam waktu lama. Selain mengganggu penampilan, varises yang tidak ditangani dapat menyebabkan pembengkakan, perubahan warna kulit, hingga luka kronis yang sulit sembuh. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengatasi insufisiensi GSV. Selain operasi klasik berupa high ligation and stripping (HL&S), tersedia metode minimal invasif seperti ablasi laser endovena (EVLA), radiofrekuensi (RFA), lem sianoakrilat (CAC), ablasi mekanokimia (MOCA), skleroterapi busa berpandu USG (UGFS), dan elektrokoagulasi. Namun, masih menjadi pertanyaan apakah metode yang lebih modern benar-benar memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik.

Sebuah network meta-analysis yang menganalisis 47 laporan dari 33 uji klinis acak dengan hampir 8.000 pasien membandingkan berbagai metode tersebut dari segi ketahanan terapi, kecepatan pemulihan, dan perbaikan gejala klinis. Hasilnya menunjukkan temuan yang menarik. HL&S memiliki ketahanan terapi jangka panjang yang paling baik. Dibandingkan HL&S, risiko kegagalan terapi pada CAC, EVLA, dan RFA ditemukan sekitar dua hingga enam kali lebih tinggi. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah karena HL&S mengangkat vena yang bermasalah secara langsung, sedangkan sebagian metode minimal invasif bekerja dengan menutup pembuluh tersebut sehingga pada sebagian pasien dapat terjadi pembukaan kembali pembuluh atau pembentukan pembuluh baru. Namun, keunggulan jangka panjang tersebut harus dipertimbangkan bersama masa pemulihan yang lebih lama. Metode minimal invasif, terutama skleroterapi busa, elektrokoagulasi, dan beberapa teknik ablasi laser, memungkinkan pasien kembali beraktivitas lebih cepat. Prosedur ini juga umumnya dapat dilakukan dengan anestesi lokal, sehingga nyeri dan pemulihan pascatindakan cenderung lebih ringan dibandingkan operasi terbuka.

Setiap metode juga memiliki profil efek samping yang berbeda. HL&S lebih sering menyebabkan memar, perdarahan, dan infeksi luka, sementara EVLA dan RFA dapat menimbulkan komplikasi terkait panas. Metode seperti MOCA, UGFS, dan CAC lebih sering dikaitkan dengan hiperpigmentasi dan pengerasan jaringan. Secara keseluruhan, tidak ada satu metode yang unggul dalam seluruh aspek. HL&S menawarkan ketahanan terapi jangka panjang, sedangkan metode minimal invasif memberikan keuntungan dalam hal pemulihan yang lebih cepat dan kenyamanan pasien. Karena itu, pemilihan terapi perlu mempertimbangkan kondisi klinis, tujuan pengobatan, risiko komplikasi, serta preferensi masing-masing pasien.

Penulis: Yan Efrata Sembiring

Sumber:

Aldian, F.M., Sembiring, Y.E., Visuddho, V. et al. Network meta-analysis of randomized controlled trials evaluating long-term outcomes of interventional approaches for great saphenous vein insufficiency. J Vasc Surg Venous Lymphat Disord. 2026;14:102553. https://doi.org/10.1016/j.jvsv.2026.102553

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .