Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Berhadapan dengan Lingkungan: Mengambil Pelajaran dari Negara BRICS

98 Views•5 minutes read

Pertumbuhan ekonomi sering dianggap sebagai tanda kemajuan. Ketika industri berkembang, investasi meningkat, pendapatan masyarakat bertambah, dan aktivitas perdagangan semakin ramai, sebuah negara dinilai sedang bergerak menuju kesejahteraan. Namun, ada pertanyaan penting yang tidak boleh diabaikan: seberapa besar biaya lingkungan yang harus dibayar untuk mencapai pertumbuhan tersebut?

Pertanyaan inilah yang menjadi perhatian dalam sebuah penelitian mengenai negara-negara BRICS, yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kelima negara tersebut merupakan kekuatan ekonomi besar dengan proses industrialisasi yang pesat. Bersama-sama, negara BRICS menyumbang hampir 40 persen konsumsi energi dunia dan memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap emisi karbon global. Karena itu, apa yang terjadi di negara-negara tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan domestik, tetapi juga memiliki konsekuensi bagi keberlanjutan global.

Penelitian yang mencakup periode 1996–2022 tersebut mencoba melihat lebih jauh hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Menariknya, peneliti tidak hanya menggunakan emisi karbon sebagai ukuran kerusakan lingkungan. Mereka menggunakan ecological footprint, sebuah indikator yang memberikan gambaran lebih luas mengenai tekanan aktivitas manusia terhadap alam.

Mengapa hal ini penting? Emisi karbon memang merupakan salah satu persoalan lingkungan yang paling banyak dibicarakan, tetapi bukan satu-satunya. Aktivitas ekonomi juga membutuhkan lahan, air, hutan, sumber daya mineral, serta hasil perikanan. Dengan demikian, ecological footprint dapat membantu menunjukkan seberapa besar kebutuhan manusia terhadap sumber daya alam dibandingkan kemampuan alam untuk menyediakannya.

Hasil penelitian menunjukkan sebuah dilema yang cukup jelas. Pertumbuhan ekonomi ternyata masih berkaitan dengan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan. Ketika aktivitas ekonomi meningkat, kebutuhan terhadap energi, produksi, transportasi, dan berbagai sumber daya juga ikut meningkat. Globalisasi pun menunjukkan hubungan positif dengan ecological footprint. Integrasi ekonomi dunia memang dapat membuka akses terhadap teknologi dan pasar baru, tetapi pada saat yang sama dapat meningkatkan aktivitas produksi dan konsumsi yang memberikan tekanan tambahan terhadap lingkungan.

Temuan ini bukan berarti pertumbuhan ekonomi harus dihentikan. Justru, tantangannya adalah bagaimana membuat pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan kerusakan lingkungan.

Di sinilah teknologi menjadi bagian penting dari cerita. Penelitian menunjukkan bahwa teknologi lingkungan atau green technology dapat membantu mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Teknologi yang lebih bersih memungkinkan kegiatan produksi dilakukan dengan penggunaan energi dan sumber daya yang lebih efisien. Inovasi juga dapat membantu perusahaan mengurangi limbah dan beralih menuju proses produksi yang lebih ramah lingkungan.

Hal serupa terlihat pada kebijakan lingkungan. Semakin kuat environmental policy stringency, semakin besar kecenderungannya untuk menekan ecological footprint. Bahkan, pengaruh kebijakan lingkungan terlihat semakin kuat pada negara atau kondisi dengan tingkat tekanan ekologis yang lebih tinggi.

Temuan tersebut memberikan pesan penting bagi pembuat kebijakan. Regulasi lingkungan tidak cukup hanya dibuat di atas kertas. Kebijakan perlu diterapkan secara konsisten dan didukung oleh pengawasan serta penegakan yang efektif. Ketika tekanan lingkungan semakin besar, respons kebijakan juga perlu semakin kuat.

Penelitian ini juga menemukan hubungan yang menarik antara demokrasi dan lingkungan. Dalam hasil utama penelitian, demokrasi berkaitan dengan peningkatan ecological footprint. Namun, hubungan ini tidak sesederhana menyimpulkan bahwa demokrasi berdampak buruk terhadap lingkungan. Hasil pengujian tambahan menunjukkan temuan yang berbeda, sehingga hubungan antara demokrasi dan keberlanjutan lingkungan perlu dipahami secara lebih hati-hati.

Salah satu kemungkinan yang dibahas dalam penelitian adalah bahwa keterbukaan politik dan ekonomi dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap energi, transportasi, barang konsumsi, dan pembangunan infrastruktur. Jika peningkatan kebutuhan tersebut tidak diimbangi dengan tata kelola lingkungan dan infrastruktur hijau yang memadai, tekanan terhadap alam dapat meningkat.

Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah negara demokratis atau tidak, tetapi bagaimana institusi dan kebijakan yang ada mampu mengarahkan pembangunan menuju keberlanjutan.

Penelitian ini pada akhirnya membawa kita pada satu kesimpulan penting: pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak seharusnya diposisikan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pertumbuhan tersebut dicapai.

Salah satu jalannya adalah mendorong ekonomi sirkular, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, serta menggunakan ukuran keberhasilan ekonomi yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga mempertimbangkan biaya lingkungan. Investasi pada riset dan pengembangan teknologi hijau juga perlu diperkuat, termasuk melalui insentif bagi perusahaan, dukungan terhadap inovasi, serta akses pembiayaan hijau bagi usaha kecil dan menengah.

Pada saat yang sama, regulasi lingkungan harus disertai sistem pemantauan yang kuat. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk memantau aktivitas industri dan memastikan bahwa pelanggaran lingkungan mendapatkan sanksi yang sesuai.

Pengalaman BRICS menunjukkan bahwa negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka membutuhkan energi, industri, investasi, perdagangan, dan infrastruktur untuk terus berkembang. Namun, jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dengan cara yang sama seperti sebelumnya, biaya ekologisnya dapat menjadi semakin besar.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi “Apakah kita harus memilih antara ekonomi dan lingkungan?”, melainkan “Bagaimana kita dapat membangun ekonomi yang tetap tumbuh tanpa menghabiskan sumber daya yang dibutuhkan generasi berikutnya?”

Jawabannya membutuhkan kombinasi antara inovasi teknologi, kebijakan lingkungan yang kuat, tata kelola yang efektif, dan perubahan cara kita memandang pembangunan. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang benar-benar berkelanjutan bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah negara berkembang, tetapi juga tentang seberapa lama kemajuan tersebut dapat dipertahankan tanpa mengorbankan lingkungan.

Penulis: Miguel Angel Esquivias Padilla

Link doi: https://doi.org/10.1016/j.wds.2026.100330

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .