Universitas Airlangga Official Website

Pakar Paru UNAIR Ungkap Bahaya Asap Karhutla, Dari Gejala Hingga Pertolongan Pertama

Sejumlah anak menyaksikan kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). Paparan asap karhutla tersebut berisiko memicu krisis kesehatan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. (Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Sejumlah anak menyaksikan kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). Paparan asap karhutla tersebut berisiko memicu krisis kesehatan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. (Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

UNAIR NEWS – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memicu krisis kesehatan pernapasan bagi masyarakat di wilayah terdampak. Menanggapi kondisi tersebut, Pakar Paru Universitas Airlangga (UNAIR), Dr dr Alfian Nur Rosyid SpP(K) FAPSR FCCP FISR, memaparkan bahaya paparan asap, langkah pertolongan pertama, serta tanda bahaya klinis yang wajib diwaspadai.

Dr Alfian menjelaskan bahwa bahaya utama asap karhutla berasal dari kandungan Particulate Matter (PM) 2.5 yang dapat menembus hingga bagian terdalam paru-paru. Partikel mikro ini dapat memicu iritasi, peradangan, stres oksidatif, dan merusak pertahanan alami saluran pernapasan. 

“Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis,” terangnya.

Mengenai indikasi klinis, paparan asap karhutla memiliki kemunculan gejala yang cukup khas dibandingkan ISPA akibat infeksi virus atau bakteri biasa. Serangan polutan asap umumnya didominasi oleh mata perih, tenggorokan kering, batuk, hingga dada terasa berat sesaat setelah terpapar. 

“Sementara pada infeksi virus atau bakteri, gejala biasanya lebih sering ditandai dengan demam, pilek, nyeri tenggorokan, badan lemas, dan kadang dahak bertambah,” jelas Dr Alfian.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa gejala secara kasat mata itu tidak mudah dikenali  awam. “Keluhan akibat paparan asap dan infeksi memang bisa terlihat mirip. Namun, jika gejala sesak terasa berat atau menetap setelah terpapar asap, pemeriksaan medis tetap harus segera dilakukan,” tegasnya.

Pakar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), Dr dr Alfian Nur Rosyid SpP(K) FAPSR FCCP FISR, memberikan pemaparan terkait ancaman bahaya partikel PM2.5 dan langkah pertolongan pertama bagi penderita ISPA akibat karhutla. (Foto: Alodokter)
Pakar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), Dr dr Alfian Nur Rosyid SpP(K) FAPSR FCCP FISR, memberikan pemaparan terkait ancaman bahaya partikel PM2.5 dan langkah pertolongan pertama bagi penderita ISPA akibat karhutla. (Foto: Alodokter)

Ancaman keparahan akibat asap karhutla jauh lebih tinggi pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita komorbid, serta pekerja luar ruangan. Untuk meminimalkan gempuran PM2.5, Dr Alfian menekankan pentingnya penggunaan masker berstandar tinggi. 

“Masker yang lebih efektif untuk menyaring partikel asap adalah N95, KN95, atau KF94 dengan syarat terpasang rapat di wajah. Masker bedah biasa perlindungannya terhadap PM2.5 lebih terbatas,” paparnya.

Selain itu, imbauan utama bagi warga adalah meminimalkan pajanan polusi dengan memantau kualitas udara, membatasi aktivitas fisik di luar, serta menghindari polusi indoor seperti rokok atau obat nyamuk bakar. Apabila seseorang telah terpapar asap, tindakan awal perlu segera diambil. 

“Langkah pertolongan pertama, segera menjauh dari sumber asap ke tempat berudara lebih bersih. Istirahat, cukup minum, bersihkan wajah dan mata, serta kurangi aktivitas fisik,” jelasnya.

Di samping itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi obat sembarangan serta mewaspadai tanda bahaya klinis seperti sesak berat, bibir kebiruan, hingga penurunan kesadaran. 

“Hindari langsung mengonsumsi antibiotik atau steroid tanpa pemeriksaan dokter, karena tidak semua keluhan akibat asap merupakan infeksi bakteri. Jika muncul tanda bahaya, segera ke fasilitas kesehatan,” pesan Dr Alfian.

Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy

Editor: Khefti Al Mawalia